LIMA UPN "Veteran" Jawa Timur

Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM

Archive for October, 2011

Betapa tidak menariknya pemerintahan sekarang, ”Lelet, Lembek, Lamban = Rakyat Sengsara” pernyataan ini, rasanya sangat relevan buat kondisi objektif Indonesia dewasa ini. Sesuai dengan keadaan objektif dewasa ini 7 Tahun pemerintahan SBY dan 2 Tahun Boediono ternyata tidak membawa perubahan yang sistemik disegala aspek, berbagai persoalan dan berbagai intrik – intrik politik kotor bermain dalam wilayah kekuasaannya masing – masing, sehingga bangsa ini seakan – akan telah dipetak – petakkan oleh kepentingan – kepentingan terselubung golongan – golongan tertentu. Muak rasanya jika harus mengulas persoalan ini. Tapi sebagai generasi penerus, kita dituntut untuk tidak berdiam diri, pasrah dan apatis melihat bangsa ini entah kemana. Apa yang kami lakukan hari ini dalam rangka memperingati 7 tahun Rezim SBY dan 2 Tahun Boediono adalah salah satu bentuk keresahan kami.
Masih jernih dalam ingatan kita bahwa untuk beberapa generasi lamanya rakyat kita dibungkam suaranya, sebagian diatara mereka dilenyapkan dan hilang entah kemana dan sebagian lagi dipenjarakan tanpa alasan yang jelas, sementara ketimpangan dan kecurangan terus terjadi disegala sektor pemerintahan dan elemen penting bangsa ini. 234,4 juta rakyat kita, mayoritas diantaranya masih bergelut dengan beban kemiskinan dan ketidak adilan. Selain itu Indonesia dengan karakter setengah jajahan dan setengah Feodal dibawah dominasi Imperialisme AS masih berada dalam keadaan yang semakin terbelakang baik secara Ekonomi, Politik maupun budaya. Fakta tersebut dibuktikan dengan kenyataan hidup rakyat Indonesia yang terus merosot. Yang dipicu oleh tiga factor utama, yaitu makin terjerumusnya rakyat dalam lubang penderitaan yang semakin dalam yaitu “Monopoli atas lahan dan tambang yang makin luas dan ketergantungan atas Import, Meningkatnya utang Negara dan swasta mencapai 1,780 Trilliun, serta politik upah murah yang kian menjerat kehidupan klas buruh”. Dan ironisnya hingga saat ini, politik yang diusung Rezim SBY-Budiono masih menjadi klas penguasa yang menjadi boneka Imperialisme yang selalu siap menjalankan kebijakan ekonomi Neoliberal yang merupakan Produk Imperialisme. Kenyataan tersebut terbukti dengan berbagai kebijkan dan kesepakatan-kesepakatan yang diambil dengan Negara-negara Imperialisme. Situasi Politik lainnya menunjukkan adanya pertentangan antar klik Reaksi (Partai Politik dan para elit politik Nasional) untuk memperebutkan kekuasaan, Memperebutkan posisi sebagai Rezim boneka Imperialisme. Bahkan saat ini SBY semakin membuktikan kesetiaanya dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat dalam menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Untuk itu kami atas nama ALIANSI PERJUANGAN MAHASISWA menuntut kepada Rezim SBY-Boediono agar :
1. Realisasikan anggaran pendidikan 20% diluar gaji guru, dosen dan sekolah kedinasan.
2. Stop Komersialisasi dan diskriminasi dalam dunia pendidikan dan kembalikan pendidikan sebagai tanggung jawab penuh Negara. (Pemerataan Pendidikan)
3. Wujudkan sistem pendidikan sesuai dengan amanat UUD 45
4. Peninjauan Kembali terhadap sistem kontrak dengan perusahaan-perusahaan asing sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
5. Hapuskan UU Penanaman Modal Asing No. 25 tahun 2007
6. Naikkan UMR dan UMK sesuai KHL
7. Stop PHK, Outsourching dan Sistem Kerja Kontrak
8. Stop monopoli atas lahan/tanah dan laksanakan Reforma Agraria
9. Hentikan kekerasan terhadap seluruh elemen masyarakat/rakyat.
10. Usut tuntas segala bentuk pelanggaran HAM
11. Berikan perlindungan penuh kepada TKI dimanapun mereka berada
12. Tegakkan kedaulatan NKRI dengan menyelesaikan sengketa – sengketa perbatasan
13. Usut tuntas segala bentuk tindakan korupsi tanpa pandang bulu
14. Tolak RUU Intelejen
15. Berikan kesehatan gratis untuk rakyat

Popularity: 11% [?]

BUDAK DI NEGERI SENDIRI

Posted by admin On October - 15 - 2011

Bangsa INDONESIA adalah bangsa yang kaya raya, loh jinawi, Sumber Daya Alam ( SDA ) cukup melimpah, warisan nenek moyang kita. MERDEKA!!! itulah kata para pejuang pada saat jaman kemerdekaan. Mereka berjuang susah payah untuk kemerdekaan negeri ini. Berkumpul menjadi satu untuk melawan penjajah yang sudah ratusan abad mengeruk hasil bumi pertiwi. Hingga semboyan “MERDEKA ATOE MATI” pun tercetus pada saat itu…

Hari ini, kita mulai disusupi penjajahan model baru, dari budaya, ekonomi, dan banyak hal yang lain. salah satu halnya adalah peran globalisasi.Seluruh produk luar negeri mulai merambah ke negeri ini, dari SHELL dan sebangsanya mulai menjual bahan bakar, PERTAMINA yang notabene adalah produk dalam negeri pun kini kalang kabut menghadapi banyaknya pesaing dari luar negeri yang sudah memasuki bumi pertiwi.

INDONESIA, di tanahmu kami lahir dari rahim ibu pertiwi, mengais rejeki dari ribuan kaum miskin yang terlantar di negeri ini…

Sampai kapan kami harus terjajah baik dari rohani maupun jasmani di BUMI PERTIWI ?!!!

Ketika MEREKA sudah sewenang-wenang dengan para penghuni negeri, MEREKA yang berlimpah uangnya, membungkam pemerintah untuk tetap diam dan patuh terhadap mereka. Disamping itu mereka membabi-buta untuk menghabisi barisan yang ingin melawan penindasan seperti yang terjadi di PAPUA. Bangsa Papua Barat secara terus menerus ditindas hak-haknya, kekayaan alamnya dirampok habis oleh perusahan tersebut tanpa ada jaminan hidup yang sehat.Tembagapura dan sekitarnya dalam situasi darurat, korban penembakan, teror dan intimidasi semakin marak dilakukan aparat keamanan milik perusahan dan pemerintah.Kondisi ini juga di perburuk dengan sikap perusahan tambang raksasa PT Freeport Indonesia milik imperialisme Amerika Serikat yang acuh tak acuh terhadap tuntutan para serikat pekerja buruh dan masyarakat adat .

Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi pada saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.

Dulu, Bapak Proklamator kita yaitu Ir. Soekarno pernah melakukan perjanjian kepada PT. Freeport dimana tambang emas boleh dikelola oleh mereka akan tetapi 80% masuk ke Indonesia dan 20% boleh dimiliki oleh pihak asing. Namun pada saat Bapak Pembangunan kita yaitu Soeharto, merubah perjanjian pada tahun 1967 dengan PT. Freeport yang hingga kini malah menjadi 80% masuk ke pihak asing, dan 20% dimiliki oleh Indonesia. Melihat kondisi di PAPUA BARAT yang kini mulai kronis, marilah kita bergabung, bersatu padu untuk melawan penjajahan yang sudah turun-temurun terjadi di bumi pertiwi.

MARI KITA DUKUNG UNTUK MENUTUP PT. FREEPORT INDONESIA PT. FREEPORT DAN mempertanggung jawabkan POLITIK, MORAL dan KEJAHATAN terhadap pelanggaran HAK ASASI MANUSIA ( HAM ) di TANAH PAPUA.

By : ADITIA WARMA

Popularity: 4% [?]