<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIMA UPN &#34;Veteran&#34; Jawa Timur &#187; Opini Publik</title>
	<atom:link href="http://www.limaupn.com/category/opini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.limaupn.com</link>
	<description>Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 01:42:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>BUDAK DI NEGERI SENDIRI</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 21:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa INDONESIA adalah bangsa yang kaya raya, loh jinawi, Sumber Daya Alam ( SDA ) cukup melimpah, warisan nenek moyang kita. MERDEKA!!! itulah kata para pejuang pada saat jaman kemerdekaan. Mereka berjuang susah payah untuk kemerdekaan negeri ini. Berkumpul menjadi satu untuk melawan penjajah yang sudah ratusan abad mengeruk hasil bumi pertiwi. Hingga semboyan &#8220;MERDEKA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bangsa <strong>INDONESIA</strong> adalah bangsa yang kaya raya, loh jinawi, Sumber Daya Alam ( SDA ) cukup melimpah, warisan nenek moyang kita. MERDEKA!!! itulah kata para pejuang pada saat jaman kemerdekaan. Mereka berjuang susah payah untuk kemerdekaan negeri ini. Berkumpul menjadi satu untuk melawan penjajah yang sudah ratusan abad mengeruk hasil bumi pertiwi. Hingga semboyan<strong> &#8220;MERDEKA ATOE MATI&#8221;</strong> pun tercetus pada saat itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, kita mulai disusupi penjajahan model baru, dari budaya, ekonomi, dan banyak hal yang lain. salah satu halnya adalah peran globalisasi.Seluruh produk luar negeri mulai merambah ke negeri ini, dari <strong>SHELL</strong> dan sebangsanya mulai menjual bahan bakar, <strong>PERTAMINA</strong> yang notabene adalah produk dalam negeri pun kini kalang kabut menghadapi banyaknya pesaing dari luar negeri yang sudah memasuki bumi pertiwi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>INDONESIA</strong>, di tanahmu kami lahir dari rahim ibu pertiwi, mengais rejeki dari ribuan kaum miskin yang terlantar di negeri ini&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sampai kapan kami harus terjajah baik dari rohani maupun jasmani di BUMI PERTIWI ?!!!</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ketika MEREKA sudah sewenang-wenang dengan para penghuni negeri, MEREKA yang berlimpah uangnya, membungkam pemerintah untuk tetap diam dan patuh terhadap mereka. Disamping itu mereka membabi-buta untuk menghabisi barisan yang ingin melawan penindasan seperti yang terjadi di PAPUA. Bangsa Papua Barat secara terus menerus ditindas hak-haknya, kekayaan alamnya dirampok habis oleh perusahan tersebut tanpa ada jaminan hidup yang sehat.Tembagapura dan sekitarnya dalam situasi darurat, korban penembakan, teror dan intimidasi semakin marak dilakukan aparat keamanan milik perusahan dan pemerintah.Kondisi ini juga di perburuk dengan sikap perusahan tambang raksasa <strong>PT Freeport Indonesia</strong> milik <strong>imperialisme Amerika Serikat</strong> yang acuh tak acuh terhadap tuntutan para serikat pekerja buruh dan masyarakat adat .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imperialisme</strong> ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi pada saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, Bapak Proklamator kita yaitu <strong>Ir. Soekarno</strong> pernah melakukan perjanjian kepada PT. Freeport dimana tambang emas boleh dikelola oleh mereka akan tetapi <strong>80%</strong> masuk ke Indonesia dan <strong>20%</strong> boleh dimiliki oleh pihak asing. Namun pada saat Bapak Pembangunan kita yaitu <strong>Soeharto</strong>, merubah perjanjian pada tahun <strong>1967</strong> dengan <strong>PT. Freeport</strong> yang hingga kini malah menjadi <strong>80%</strong> masuk ke pihak asing, dan <strong>20%</strong> dimiliki oleh <strong>Indonesia</strong>. Melihat kondisi di <strong>PAPUA BARAT</strong> yang kini mulai kronis, marilah kita bergabung, bersatu padu untuk melawan penjajahan yang sudah turun-temurun terjadi di bumi pertiwi.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>MARI KITA DUKUNG UNTUK MENUTUP PT. FREEPORT INDONESIA PT. FREEPORT DAN mempertanggung jawabkan POLITIK, MORAL dan KEJAHATAN terhadap pelanggaran HAK ASASI MANUSIA ( HAM ) di TANAH PAPUA.</strong></p>
</blockquote>
<p>By : <a href="http://www.babycorp.name" target="_blank"><strong>ADITIA WARMA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=420&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KULIAH, Dulu Semurah Barang Primer, Kini Barang Mewah</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 16:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Rp 0,6 Juta- atau 150 ribu per tahun- sudah cukup untuk memperoleh gelar sarjana dari sebuah PTN di Bogor. Memang ada welas asih dari orang tua untuk konsumsi sebesar Rp 50 Ribu per bulan, atau Rp 2,4 Juta selama empat tahun. Biaya kos sebesar 200 ribu setahun, atau Rp 0,8 Juta sampai jadi sarjana. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Rp 0,6 Juta- atau 150 ribu per tahun- sudah cukup untuk memperoleh gelar sarjana dari sebuah PTN di Bogor. Memang ada welas asih dari orang tua untuk konsumsi sebesar Rp 50 Ribu per bulan, atau Rp 2,4 Juta selama empat tahun. Biaya kos sebesar 200 ribu setahun, atau Rp 0,8 Juta sampai jadi sarjana. Dengan total anggaran Rp 3.8 Juta, sudah cukup untuk papan- walau hanya sewa, pangan- walau Indomie, tahu dan tempe saja, serta pakaian alakadarnya. Yang penting, tetap bisa jadi sarjana juga. Angka itulah yang dikeluarkan oleh orang tua dengan susah payah saat itu. Tidak ada biaya lainnya. Masih untung, riset skripsi pun gratis karena <em>nebeng</em> di sebuah Balai Penelitian milik pemerintah. Namun, itu dulu, sekitar 25 tahun yang lalu. Uang segitu sekarang hanya cukup untuk biaya <em>ini-itu</em> untuk satu keluarga kecil di Jakarta selama empat minggu saja.<span id="more-346"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kini, beberapa teman gembira luar biasa ketika anak-anaknya diterima di PTN ternama di Jakarta. Namun ternyata, dua teman saya harus menyediakan uang sebesar Rp 33 Juta sebagai tanda masuk. Ada anak dari teman lain yang berhasil masuk kedokteran di PT yang sama mendapat keringanan biaya, namun tetap harus membayar belasan juta juga. Itu belum termasuk biaya BPP dan SKS yang harus dibayar setiap semester. Masih untung orang tuanya masih tinggal di sekitar Jakarta. Lumayan masih bisa menghemat biaya kos, sarapan, atau makan malam. Tinggal menyediakan biaya transportasi dan makan siang di sekitar kampus. Estimasi biaya untuk mendapat ijazah sarjana bisa di atas Rp 50 Juta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>OK</em>, supaya bisa konsisten dan bisa diutak-atik runtut waktu, kita gunakan biaya pendidikan dengan PTN yang sama dengan 25 tahun lalu, yaitu IPB. Rincian berbagai kompenen anggarannya untuk tahun ajaran 2011/2012 bisa dilihat di websitenya di <a href="http://alihjenis.ipb.ac.id/?q=biaya" target="_blank">sini</a> per hari ini, 10/07/11.</p>
<p style="text-align: justify;">Biaya awal- yang disebut dengan Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas (BPIF)- dipatok sama yaitu sebesar Rp 10 juta, serta Biaya Perlengkapan Mahasiswa Baru (BPMB) sebesar Rp 1,4 Juta. Sebelumnya, biaya pendaftaran untuk tes seleksi dikenakan Rp 500 Ribu. Kita asumsikan saja mahasiswanya bisa lulus selama empat tahun, atau 8 semester. Setiap semester ada biaya lagi yang disebut Biaya Peningkatan Mutu Pendidikan (BPMP) sebesar Rp 2 Juta, atau Rp 16 Juta untuk empat tahun. Jika selama empat tahun setiap mahasiswa mengambil mata kuliah- misalnya sebanyak 140 SKS- maka Biaya Penyelenggaraan Mata Kuliah (BPMK) adalah- kita ambil biaya SKS termurah yaitu Rp 125 Ribu- sebesar 140 sks X Rp 125 Ribu, atau Rp 17,5 Juta untuk emapt tahun. Di akhir semester ada lagi biaya mata kuliah tugas akhir (Kerja Praktek, Magang, Kolokium, Seminar, dan Skripsi) sebesar Rp 300 Ribu. Jadi estimasi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan adalah sekitar Rp 45 Juta lebih sedikit. Itu perkiraan minimal dengan asumsi tidak ada biaya lainnya, termasuk tidak memperhitungkan biaya hidup di Bogor untuk kos, transportasi, dan konsumsi, serta biaya riset tugas akhir yang pasti dibebankan kepada mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-118567" title="1310289529609607443" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1310289529609607443.jpg" alt="1310289529609607443" width="600" height="469" />Dulu 0,6 Juta, kini 45 juta. Sungguh luar biasa bedanya. Dulu murah, sekarang benar-benar mewah. Namun, sebentar, kayaknya tidak adil jika utak-atik uang tidak memperhitungkan nilai waktu uang. Para ahli sih menyebutnya dengan <em>time value of money</em>. Tidak usah ribet dengan teori uang dan bunga. Andaikan uang sebesar 600 ribu disimpan selama 25 tahun dengan bunga 10 persen saja hanya berkembang menjadi Rp 6,5 Juta saja. Uang 0,6 Juta tersebut baru bisa menjadi 45 Juta jika tingkat suku bunganya minimal sekitar 106 persen per tahun. Jadi selama kurun waktu seperempat abad, biaya pendidikan sudah membengkak lebih dari 100 kali lipat. Walau ini hanya <em>pat-pat gulipat</em> sederhana, namun hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan bukan lagi barang sederhana yang bisa dinikmati oleh penduduk Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita coba pakai perbandingan harga antar dua komuditas dalam dua kurun waktu yang berbeda. Dulu, 0,6 juta jauh lebih rendah dari uang makan  sebesar 2,4 Juta (50 Ribu per bulan x 48 bulan) selama empat tahun. Jadi, biaya pendidikan hanya seperempat dari biaya hidup. Kini, katakanlah biaya hidup mahasiswa sekarang sebesar 50 Ribu per hari, atau satu juta per bulan- angka ini sudah sangat mencukupi atau di atas rata-rata uang jajan mahasiswa- maka selama 4 tahun nilainya adalah 48 juta. Jadi, sekarang biaya pendidikan setara dengan biaya hidup mahasiswa dalam kurun waktu yang sama. Jika biaya tersebut dibebankan ke orang tua, maka biayanya menjadi dua kali lipatnya, atau mendekati 100 Juta. Atau dengan ukuran per bulan, orang tua harus menyisihkan dana minimal sebesar Rp 2 Juta per bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Uang sebesar Rp 2 Juta per bulan yang disisihkan selama empat tahun tentu bukan menjadi masalah buat orang berada. Namun buat keluarga miskin, yang pendapatannya dipatok oleh BPS sebesar Rp 233.740 per bulan, pendidikan tinggi menjadi komoditas super mewah, yang mungkin hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Memang masih ada harapan dengan kebijakan bahwa PT wajib mengalokasikan kursi mahasiswa baru minimal 20 persen untuk keluarga miskin. Anggaran pendidikan pun sudah dipatok minimal 20 persen dari anggaran pemerintah. Namun, itupun masih banyak hambatan dan tidak bisa menampung semua warga yang bercita-cita menjadi seorang sarjana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, pendidikan tinggi lebih murah dari harga barang pokok. Kini, sudah menjadi barang mewah. <em>Duh</em>, mengapa ada kerinduan dengan masa lalu terbersit di hati ini. Bisakah lorong waktu diputar kembali ke masa itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/07/10/pt-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/" target="_blank"><strong>KOMPASIANA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=346&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Hanya Mengejar Gelar</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/mahasiswa-hanya-mengejar-gelar/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/mahasiswa-hanya-mengejar-gelar/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 13:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Melihat realitas yang terjadi, khususnya di kalangan perguruan tinggi, mayoritas mahasiswa masih belum mampu memahami identitas sosialnya. Yakni, sebagai generasi dengan sikap progresif dan militansi cukup signifikan untuk mendorong perubahan masyarakat. Kebanyakan mahasiswa hanya sibuk dengan tugas yang diberikan oleh dosen. Mereka jarang terlibat kegiatan-kegiatan di masyarakat, sehingga tidak mengerti perkembangan di masyarakat itu sendiri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Melihat realitas yang terjadi, khususnya di kalangan perguruan tinggi, mayoritas mahasiswa masih belum mampu memahami identitas sosialnya. Yakni, sebagai generasi dengan sikap progresif dan militansi cukup signifikan untuk mendorong perubahan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan mahasiswa hanya sibuk dengan tugas yang diberikan oleh dosen. Mereka jarang terlibat kegiatan-kegiatan di masyarakat, sehingga tidak mengerti perkembangan di masyarakat itu sendiri.<span id="more-243"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa harus mampu menyeimbangkan diri terhadap kondisi sosial masyarakat, sehingga kegiatan di kampus tidak semata-mata kuliah dan kemudian pulang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Di balik itu semua, mahasiswa mempunyai tugas dan peran yang penting dalam masyarakat, terutama untuk kemajuan negara Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Fakta yang terjadi di kalangan mahasiswa sekarang sangat berlawanan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, tidak memiliki harkat dan martabat tinggi. Karena masih banyak lulusan mahasiswa yang sulit mencari kerja dan bertindak anarkis yang kurang mencermikan agen perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan idealisme akan kesadaran kritis bukanlah yang bersifat progresif terhadap realitas. Peran mahasiswa sebagai kaum intelektual sudah terdegradasi. Padahal mahasiswa adalah harapan rakyat sebagai regenerasi muda bangsa Indonesia. Akan tetapi, apa yang diinginkan oleh mahasiswa tidak sejalan dengan keinginan rakyat, bahkan rakyat menilai jika mahasiswa itu hanya bisa bertindak anarkis saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar mahasiswa di era sekarang ini, hanya mengejar gelar. Mahasiswa seakan-akan tidak peduli dengan segala kebutuhan masyarakat tehadap pemerintah. Hanya segelintir mahasiswa yang masih mau menyalurkan amanat dari masyarakat dengan cara yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu mahasiswa sekarang yang mengalami degradasi, baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme, maupun semangat jati diri mereka, cenderung untuk berpikir pragmatis dalam menghadapi persoalan. Hal tersebut terjadi karena pengaruh budaya barat yang tidak terkendali telah meracuni pemuda dan mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya adalah peran mahasiswa sangat besar, namun mereka kurang sadar akan hal tersebut, sehingga mereka hanya dengan mudahnya menyelesaikan persoalan menggunakan emosi. Lepas dari pandangan buruk tentang mahasiswa, masih banyak mahasiswa yang menggunakan intelektualnya untuk ikut serta membangun masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://www.hmakstory.com/wahana-edukasi/mahasiswa-hanya-mengejar-gelar/index.html"><strong>HMAKSTORY</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=243&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/mahasiswa-hanya-mengejar-gelar/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SITUASI KEAMANAN KAMPUS YANG SEMAKIN TERPURUK</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/situasi-keamanan-kampus-yang-semakin-terpuruk/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/situasi-keamanan-kampus-yang-semakin-terpuruk/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 18:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Akhir – akhir ini keamanan di kampus kita sedang menjadi sorotan utama,sebab semakin hari,situasi keamanan semakin terpuruk,masalah kehilangan – kehilangan sampai kurang profesionalnya pejabat keamanan kampus dalam menyikapi permasalahan yang selama ini ada.Hal ini sangatlah memprihatinkan ketika sebuah keamanan yang menjadi titik berat dalam obyek – obyek penting,tidak mengerti subtansi jobdis yang di sedang emban. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Akhir – akhir ini keamanan di kampus kita sedang menjadi sorotan utama,sebab semakin hari,situasi keamanan semakin terpuruk,masalah kehilangan – kehilangan sampai kurang profesionalnya pejabat keamanan kampus dalam menyikapi permasalahan yang selama ini ada.Hal ini sangatlah memprihatinkan ketika sebuah keamanan yang menjadi titik berat dalam obyek – obyek penting,tidak mengerti subtansi jobdis yang di sedang emban.</p>
<p style="text-align: justify;">Keamanan adalah sesuatu yang sangatlah penting dalam sebuah kondisi,karena dengan kemanan yang terjamin masyarakat atau civitas menjadi tenang dalam melakukan aktivitasnya,seperti di dalam kampus,ketika keamanan dalam kampus bisa terjamin maka kita (mahasiswa) bisa tenang dalam melakukan aktivitasnya.<span id="more-115"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang permasalahan keamanan kurang diperhatikan,baik pihak keamanan sendiri sampai kita – kita yang menjadi obyek utama didalamnya,hingga situasi seolah memberikan kesempatan bagi orang – orang yang berbuat jahat,seperti masalah kehilangan kendaraan yang akhir – akhir ini sering terjadi,semua itu harusnya menjadi perhatian utama bagi semua,dengan dibuatnya system baru pun tidak menjamin kehilangan yang terjadi bisa berhenti,sering-kali <strong>KABAG PAM (kepala bagian keamanan)</strong> menyebutkan bahwasanya Mahasiswa yang menjadi aktor atas kehilangan–kehilangan yang terjadi,terbukti dari statement yang diberikan ketika ada yang melaporkan kehilangan kendaraan, apakah benar memang seperti yang terjadi?atau kah memang hanya menjadi kedok untuk menutupi ulahnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyalahgunaan wewenang salah satu faktor didalam kurangnya kefokusan kinerja pihak keamanan kampus,banyaknya pedagang – pedagang yang masuk di dalam kampus ternyata menjadi pasokan dana dalam bidang keamanan, terbukti dari pungutan – pungutan yang dilakukan oleh pihak keamanan terhadap para pedagang,layaknya preman pasar yang menarik uang keamanan di dalam,mereka melakukan pemungutan terhadap para pedagang,yang harusnya menjadi pelayan untuk sebuah keamanan,sekarang berubah menjadi preman yang memungut uang keamanan,tak heran ketika keamanan didalam kampus kurang terperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua memang harus dirubah,bukan saatnya mencari siapa yang benar dan siapa yang salah,tapi harus ada yang bertanggung jawab atas semua,dan kepala keamanan harus mau bertanggung jawab atas kejadian – kejadian yang selama ini terjadi,jadi tidak hanya mendapat jasa saja,namun harus mau bertanggung jawab juga atas semua,tidak ada pilihan selain <strong>HARUS TURUN JABATAN</strong>,karena semua yang terjadi sudah melampaui batas normal.Dalam kurun jabatannya yang kurang dari setengah tahun sudah ada sekitar 6 kendaraan yang hilang,ini jelas kejadian yang tidak wajar lagi terjadi,ini semua adalah sebagian contoh dari kejadian – kejadian yang terjadi, dan ini juga tidak bias di biarkan begitu saja.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=115&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/situasi-keamanan-kampus-yang-semakin-terpuruk/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAMPUS = MABES MALING INDONESIA</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/kampus-mabes-maling-indonesia/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/kampus-mabes-maling-indonesia/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 17:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Kampus merupakan tempat yang digunakan untuk belajar dan mengeluarkan kreatifitas yang dimiliki seseorang. Karena kampus adalah tempat yang aman, nyaman dan tentram untuk melakukan aktifitas akademik dan non akademik. Sehingga mahasiswa atau siapapun berada dalam sebuah kampus akan terasa nyaman. Dalam hal ini suasana kampus dulu yang dianggap tempat yang paling aman dan nyaman, sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kampus merupakan tempat yang digunakan untuk belajar dan mengeluarkan kreatifitas yang dimiliki seseorang. Karena kampus adalah tempat yang aman, nyaman dan tentram untuk melakukan aktifitas akademik dan non akademik. Sehingga mahasiswa atau siapapun berada dalam sebuah kampus akan terasa nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini suasana kampus dulu yang dianggap tempat yang paling aman dan nyaman, sekarang menjadi tempat yang tidak lagi aman dan nyaman bagi siapapun yang berada dalam kampus. Ini disebabkan karena banyaknya kehilangan barang-barang yang ada di kampus seperti aset-aset kampus yang bernilai tinggi, lalu kendaraan bermotor milik mahasiswa dan pegawai sendiri, kemudian komputer dan laptop. Semuanya ini seharusnya merupakan tanggung jawab dari <strong>BAGIAN KEAMANAN</strong> dari kampus sendiri, yang harus menjaga keamanan kampus dan membuat kampus terasa aman dan nyaman.<span id="more-110"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, kenyataannya dalam setiap kehilangan yang berada di dalam kampus pihak bagian keamanan tidak mau tanggung jawab atas kejadian yang sering ada di kampus. Mereka hanya berdiam diri dan melempar tanggung jawabnya kepada orang yang kehilangan barang, dalam hal ini mahasiswa yang selalu disalah padahal banyak barang dari mahasiswa dan kampus sendiri yang kehilangan. Serta dari pihak <strong>BAGIAN KEAMANAN</strong> menuduh dan menfitnah mahasiswa yang menjadi maling/pencuri semua tanpa bukti dan dasar yang ada. Apakah itu salah satu dari lempar tanggung jawab <strong>BAGIAN KEAMANAN</strong> dari kampus kita UPN “Veteran” Jatim?????????????????????????</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya sistem keamanan yang diterapkan di kampus UPN “Veteran” Jatim ini bahwa mahasiswa harus menunjukkan karcis dan STNK untuk keluar atau meninggalkan kampus. Jika tidak mahasiswa tersebut harus mengurus sesuai prosedur yang berlaku, tapi untuk karyawan atau pegawai UPN “Veteran” Jatim sendiri mereka bisa masuk keluar bolak-balik semaunya sendiri tanpa ada pemeriksaan dari pihak keamanan kampus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ini yang jadi pertanyaan buat kita, apakah aturan yang di buat hanya diberlakukan bagi mahasiswa dan tidak bagi karyawan atau pegawai UPN “Veteran” Jatim sendiri?????</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>Apakah mahasiswa bukan bagian dari keluarga atau warga kampus UPN “Veteran” Jatim?????</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>Akankah UPN “Veteran” JATIM terus menjadi kampus yang tidak lagi aman dan nyaman dari maling??????</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>Mana tanggung jawab BAGIAN KEAMANAN kampus, bila kampus kita tidak aman??????</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Sekarang ironisnya kampus UPN “Veteran” JATIM sudah menjadi <strong>MABES MALING INDONESIA</strong>, sehingga kita yang berada dalam kampus tidak lagi terasa aman dan nyaman.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HATI-HATI KAWAN-KAWAN </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>KAMPUS UPN “VETERAN” JATIM </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>BANYAK MALING LHO………………………</strong></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=110&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/kampus-mabes-maling-indonesia/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjuangan UKM yang Vakum</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/perjuangan-ukm-yang-vakum/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/perjuangan-ukm-yang-vakum/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 13:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak UKM Resimen Mahasiswa (MENWA) berdiri tahun 1975 dan diikuti UKM Mahasiswa Pecinta Alam (MAHAPALA) tahun 1978 terbentuk mahasiswa UPN sudah memiliki wadah penyaluran minat bakat. Baru setelah tahun 1997 UKM mulai berkembang lebih luas terbentuklah UKM OlahRaga, UKM Bela Diri, UKM Seni, UKM Rohani. Berbagai prestasi telah ditorehkan mahasiswa UPN baik tingkat regional maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semenjak UKM Resimen Mahasiswa (MENWA) berdiri tahun 1975 dan diikuti UKM Mahasiswa Pecinta Alam (MAHAPALA) tahun 1978 terbentuk mahasiswa <strong><a title="UPN" href="http://www.upnjatim.ac.id" target="_blank">UPN</a></strong> sudah memiliki wadah penyaluran minat bakat. Baru setelah tahun 1997 UKM mulai berkembang lebih luas terbentuklah UKM OlahRaga, UKM Bela Diri, UKM Seni, UKM Rohani.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai prestasi telah ditorehkan mahasiswa UPN baik tingkat regional maupun tingkat nasional, bahkan ada yang berprestasi di tingkat Internasioanal. Perkembangan UKM sekarang sangat mengenaskan dari 31 UKM (data UPN) atau 27 UKM (versi Forum UKM) tinggal belasan yang aktif dan yang lainnya vakum.<span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selain minimnya anggota dikarenakan mahasiswa UPN mulai malas ikut UKM, dukungan dana yang sangat minim serta anggaran yang selalu turun tiap tahunnya membuat redup UKM. Kurangnya dukungan Kemahasiswaan untuk UKM memperparah kondisi UKM.</p>
<p style="text-align: justify;">Secercah harapan muncul ketika Forum UKM yang telah lama tidur dan bangkit dari tidurnya. UKM &#8211; UKM bahu membahu memperjuangkan hak mereka yang telah lama tertindas oleh kampus. Memperjuangkan Maba wajib ikut UKM, peningkatan anggaran UKM serta kesejahteraan UKM.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga perjuangan kita tidak berhenti di tengah jalan dan tetap semangat sampai akhir. Yang perlu kita ingat &#8220;<strong>MINAT BAKAT MAHSISWA WAJIB DIBIYAI KAMPUS</strong>&#8220;&#8230;<strong>ANJING-ANJING ITU HANYA MEMENTINGKAN KENYAMANAN JABATANNYA DAN ISI PERUT MEREKA </strong>&#8230;.<strong><a title="mahapalaupn" href="http://www.mahapalaupn.com/" target="_blank">Mahapala</a> 454 Hujan Kabut</strong></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=106&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/perjuangan-ukm-yang-vakum/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokrasi di Kampus</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/demokrasi-di-kampus/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/demokrasi-di-kampus/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 04:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering dengar demokrasi di kampus sudah redup,mahasiswa mulai malas berorganisasi maupun vakumnya organisasi kampus.Apa yang salah?Apakah benar mahasiswa sudah apatis dan acuh tak acuh dengan permasalahan disekitarnya,apakah ada peran besar dari pihak kampus(pejabat kampus /dosen) untuk mematikan demokrasi kampus. Sementara beberapa organisasi kampus seperti unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM) ataupun Himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Kita sering dengar demokrasi di kampus sudah redup,mahasiswa mulai malas berorganisasi maupun vakumnya organisasi kampus.Apa yang salah?Apakah benar mahasiswa sudah apatis dan acuh tak acuh dengan permasalahan disekitarnya,apakah ada peran besar dari pihak kampus(pejabat kampus /dosen) untuk mematikan demokrasi kampus.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Sementara beberapa organisasi kampus seperti unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM) ataupun Himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) harus berhadapan dengan mulai adanya pemberlakuan jam malam, penyediaan fasilitas kegiatan hingga pembatasan dana yang harus mereka dapatkan untuk menjalankan aktfitasnya. Kampus sebaliknya menghamburkan cukup banyak dana untuk bangunan-bangunan prestisius, untuk menunjukkan bahwa kampus tersebut berkelas elit.<span id="more-100"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Upaya untuk meredam kebebasan berorganisasi ini dilakukan juga dengan penerapan kebijakan presensi 75 persen sebagai syarat untuk ujian ataupun nilai. Di kelas-kelas, dosen-dosen tradisional dan kolot berpropaganda kepada mahasiswa untuk tidak ikut organisasi-organisasi independen yang maju hingga dilarang terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi. Semua itu ditujukan agar mahasiswa menjadi sosok yang pasifis, tidak kritis dan jauh dari realitas sosial masyarakat Indonesia yang mayoritas hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Harapan dari pemerintah dan jajaran rektorat, agar mahasiswa semata-mata mempelajari teori-teori usang di kampus, dibekali skill seadanya dan cepat lulus agar bisa bersaing dalam pasar tenaga kerja. Lagi-lagi, hal ini tidak sedikitpun mencerminkan upaya untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan rakyat serta bangsa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Demokratisasi di kampus adalah satu hal penting yang harus segera diwujudkan. Berkumpul, berorganisasi dan menyatakan pendapat adalah hak demokratis yang secara nyata diatur oleh konstitusi. Bicara demokrasi berarti bicara tentang partisipasi. Jika partisipasi tersebut dibatasi atau bahkan dibungkam niscaya demokratisasi hanya akan menjadi sebuah mimpi bagi kita semua.(mnp)</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=100&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/demokrasi-di-kampus/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SITUASI KAMPUS TIDAK AMAN !!</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/situasi-kampus-tidak-aman/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/situasi-kampus-tidak-aman/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 16:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Semakin ketatnya keamanan saat ini ternyata masih belum bisa menjamin ketenangan mahasiswa untuk melakukan proses belajar mengajar di dalam kampus, keamanan merupakan salah satu faktor penting yang menunjang mahasiswa untuk belajar dengan tenang, dengan kondisi yang aman kita bias memfokuskan aktivitas kita di dalam kampus tanpa harus berfikir mengenai kehilangan ataupun segala sesuatu yang menyangkut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semakin ketatnya keamanan saat ini ternyata masih belum bisa menjamin ketenangan mahasiswa untuk melakukan proses belajar mengajar di dalam kampus, keamanan merupakan salah satu faktor penting yang menunjang mahasiswa untuk belajar dengan tenang, dengan kondisi yang aman kita bias memfokuskan aktivitas kita di dalam kampus tanpa harus berfikir mengenai kehilangan ataupun segala sesuatu yang menyangkut keselamatan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergantian REKTOR di kampus kita <strong><strong><a title="UPN &quot;Veteran&quot; JATIM" href="http://www.upnjatim.ac.id/" target="_blank">UPN &#8220;Veteran&#8221; JATIM</a></strong></strong>, ternyata membawa perubahan yang cukup besar di kampus, terutama yang nyata saat ini di bidang <strong><em>keamanan</em></strong>, hal ini cukup nyata, banyak orang mengatakan bahwa kampus ini adalah kampus militer, yang harusnya dari segi keamanan sangat terjamin, tapi ternyata sering terdengar di telinga kita banyak kasus kehilangan yang terjadi, mulai dari fasilitas kampus ( komputer ), sampai pada sepeda motor, ini adalah sedikit contoh yang harusnya perlu kita ketahui, sebab ini semua juga menunjang ketenangan kita dalam menuntut ilmu di kampus.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-89"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan di terapkannya sistem parkir yang baru saat ini ternyata masih belum bisa membendung tingkat kehilangan yang utamanya pada kendaraan, beberapa kali kita sering di ancam dengan tindak curanmor di kampus kita, dan ini sangat mengancam ketenangan kita semua, seperti yang baru terjadi di kampus kita, 2 buah sepeda motor hilang begitu saja. Sungguh sangat disesalkan pihak yang berwenang dikampus tidak sanggup menjalankan tugas nya dengan baik yaitu mengamankan kondisi kampus agar seluruh mahasiswa / mahasiswi dapat menuntut ilmu dikampus tanpa ada rasa kekhawatiran akan sepeda motornya yang diparkir pada lahan kampus. Bahkan pihak yang berwenang pun hanya bisa melimpahkan pertanggung jawabannya  atas kehilangan 2 sepeda motor kepada polisi setempat. Padahal, PAM merupakan unit yang benar-benar menguasai medan / kondisi yang ada dikampus.  Sebuah pertanggung jawaban atas tugas yang diembankan pihak yang berwenang, tak lagi dapat memuaskan mahasiswa agar merasa aman dan fokus menimba ilmu yang ada di UPN &#8220;Veteran&#8221; JATIM.</p>
<p style="text-align: justify;">PAM sendiri mengusulkan pembuatan stiker dengan harga Rp. 25.000 yang dibayarkan setiap tahunnya dengan alasan memperketat keamanan yang ada agar tidak terjadi kehilangan lagi. Sungguh sangat disesalkan sekali Uang SPP yang dibayarkan tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, hingga PAM meminta uang untuk usulannya tersebut sebagai alasan agar kampus lebih aman lagi. Apakah sebuah stiker dapat menjamin agar kampus ini lebih aman???? Hanyalah menunggu waktu diberlakukannya aturan tersebut. Namun, usulan seperti itu tak dapat diterima sepenuhnya oleh mahasiswa karena seperti apapun bentuk aturan agar kampus lebih aman bukan sebuah jaminan karena akar permasalahan masih belum dapat ditanggulangi yaitu oknum-oknum yang bermain dibelakang kejadian kehilangan sepeda motor tersebut. Ketika kampus yang kita masuki sudah tidak dapat memberikan pelayanan dan keamanan yang layak, Mungkin sudah saat nya seluruh mahasiswa / mahasiswi mengamankan dirinya sendiri dan berusaha dengan kemampuannya sendiri agar dapat bertahan didalam kampus hingga pada akhir masa studinya. Diharapkan kepada para mahasiswa / mahasiswi agar selalu membawa kunci ganda pada sepeda motor / mobil nya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=89&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/situasi-kampus-tidak-aman/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADA APA DENGAN UPN</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/ada-apa-dengan-upn/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/ada-apa-dengan-upn/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak hal UPN sangat terkenal sebagai kampus berkualitas dengan biaya murah dan itu semua diakui masyarakat surabaya pada khususnya dan jawa timur pada umumnya,namun dibalik realita itu semua ada sebagian kecil yang kayaknya kurang begitu diperhatikan baik itu oleh pejabatnya maupun mahasiswanya itu sendiri&#8230;. mungkin setiap mahasiswa yang kurang sadar akan haknya sehingga tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam banyak hal UPN sangat terkenal sebagai kampus berkualitas dengan biaya murah dan itu semua diakui masyarakat surabaya pada khususnya dan jawa timur pada umumnya,namun dibalik realita itu semua ada sebagian kecil yang kayaknya kurang begitu diperhatikan baik itu oleh pejabatnya maupun mahasiswanya itu sendiri&#8230;.</p>
<p>mungkin setiap mahasiswa yang kurang sadar akan haknya sehingga tidak begitu memperdulikan masalah listrik sering mati mendadak ketika terjadi proses belajar mengajar dan bahkan pada saat ujian berlangsung. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini,akankah mahasiswa lagi yang jadi korban setelah mereka dah melaksanakan kewajibannya&#8230;..</p>
<p><span id="more-37"></span>inikah yang dinamakan pengelolaan professional?????&#8230;&#8230;mana&#8230;..pernahkah terpikirkan kemungkinan &#8211; kemungkinan dengan adanya masalah itu, seperti daya listrik UPN yang rendah sehingga diberlakukan subsidi silang listrik dengan adanya tambahan gedung &#8211; gedung baru?kalau misalnya iya!!!kenapa UPN tidak mau menambah daya?tidak ada danakah?apa mungkin?bukankah mahasiswa UPN mencapai ribuan yang sebagian besar taat akan kewajiban atau ada alasan lain?</p>
<p>ENTAHLAH!!!!!!!!!yang pasti jelas dan fakta disini adalah mahasiswa dirugikan dengan seringnya lampu mati yang menghambat aktivitas belajar mengajar&#8230;&#8230;..trus siapa yang harus bertanggung jawab?????mahasiswakah?atau pegawai instalasi listrik kah atau siapa???ENTAHLAH!!!!!!!!malang benar nasibmu kawan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=37&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/ada-apa-dengan-upn/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENYERAHLAH, ELIT INDONESIA!</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/menyerahlah-elit-indonesia/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/menyerahlah-elit-indonesia/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Viddy AD Daery Kalian tak bisa terus-terusan membohongi kami, berbuat jahat terhadap kami, berkhianat terhadap kami, sambil berpura-pura berpihak kepada kami. Kami sudah tahu belang kalian, kami sudah mengepung kalian! Kalian tak bisa lagi kemana-mana, karena kemanapun kalian melangkah, kalian memijak air mata kami, kemanapun kalian terbang, kalian akan lelah dan hinggap di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Viddy AD Daery</strong></p>
<p>Kalian tak bisa terus-terusan membohongi kami, berbuat jahat terhadap kami,<br />
berkhianat terhadap kami, sambil berpura-pura berpihak kepada kami. Kami sudah<br />
tahu belang kalian, kami sudah mengepung kalian! Kalian tak bisa lagi<br />
kemana-mana, karena kemanapun kalian melangkah, kalian memijak air mata kami,<br />
kemanapun kalian terbang, kalian akan lelah dan hinggap di air mata kami.</p>
<p>Kemanapun kalian berlayar, kalian mengarungi air mata kami.<br />
Semenjak Sukarno berubah menjadi Raja Jawa ketika ia sudah merasakan<br />
nikmatnya kursi presiden, kami sudah tahu bahwa kami mulai kalian khianati.<br />
Sukarno membangun istana-istana megah untuk para isterinya, darimana uangnya?<br />
Tentu uang kami.</p>
<p><span id="more-29"></span>Tapi kebodohan kamilah yang tak pernah mempersoalkan hal itu sampai kini.<br />
Kebodohan kami membiarkan Sukarno mencetuskan dekrit presiden yang menghapus<br />
demokrasi dengan membohongi kami memakai nama Demokrasi Terpimpin. Kebodohan<br />
kami membiarkan Sukarno melantik dirinya sendiri menjadi Paduka Yang Mulia<br />
Presiden Seumur Hidup, karena kami yang bodoh terlalu berterimakasih terhadap<br />
pengorbanannya memimpin kami mendirikan negara baru Indonesia merdeka ini.<br />
Sehingga kami mempertuhankan Sukarno, kami membangun kultus individubahkan<br />
sampai kinidan membiarkan Sukarno berbuat semaunya, mengkhianati kami,<br />
sekaligus mengkhianati prinsip dan cita-citanya sendiri.</p>
<p>Ketika Suharto memperdayakan Sukarno, kamipun mengikuti saja skenario Suharto,<br />
kami menuruti apa saja jenis ajakan Suharto mengganyang Sukarno dan Orde Lama<br />
beserta semua antek-anteknya, sehingga hasilnya kami mengobarkan perang saudara<br />
yang mengerikan, karena kami yang sudah muak dan lelah dikhianati Sukarno dan<br />
Orde Lama menjadi terlalu pusing untuk diajak berfikir jernih.<br />
Suharto memberi harapan baru kepada kami. Para koruptor Orde Lama dipenjara,<br />
dan ekonomi dibangun. Kami tak lagi dibiarkan kelaparan. Jalan-jalan lama yang<br />
terlantar sejak zaman Mojopahit ( dalan gung atau delanggung ) diperbaiki dan<br />
jalan-jalan peninggalan Belanda ditingkatkan mutunya, serta yang perlu diberi<br />
acungan jempol di zaman Suharto: jalan-jalan barupun dibuka, dirambah dan<br />
dibangun, diaspal rapi.</p>
<p>Kehidupan seni budaya dibina. Subsidi-subsidi dikucurkan untuk membangun<br />
pusat-pusat pendidikan murah, pusat-pusat seni budaya, pusat-pusat kajian<br />
intelektual, pusat-pusat iptek, pusat-pusat keagamaan, dan beasiswa-beasiswa<br />
untuk mencari ilmu ke negara maju digalakkan.</p>
<p>Tapi kebaikan Suharto berangsur surut sejalan dengan semakin lamanya dia<br />
berkuasa dan kembali terkena penyakit kekuasaan yang korup dan dekaden, apalagi<br />
ketika anak-anak dan cucunya semakin besar dan dewasa lalu diajari ilmu<br />
pengkhianatan terhadap rakyat oleh para syaitan-syaitan politik dan ekonomi,<br />
dan Suhartopun mulai kejam terhadap kami.</p>
<p>Kami kembali dibungkam, seperti zaman Sukarno, bahkan kami dibunuhi dan<br />
kebebasan dirantai, hingga akhirnya kami hampir putus asa terlalu lelah puluhan<br />
tahun disiksa Suharto.</p>
<p>Kami kembali berteriak gembira ketika mahasiswa disupport Brutus-brutus<br />
mengkudeta Suharto di saat usia Suharto sudah renta, dan terlambat menyadari<br />
bahwa manusia tak akan bisa selamanya berpura-pura menjadi Tuhan.</p>
<p>Tak ada yang lebih kami kenang ketimbang saat-saat yang gegap gempita sempena<br />
detik-detik kejatuhan Suharto. Kami ramai-ramai bersujud syukur di aspal jalan<br />
raya, kampung-kampung berpesta memotong ayam atau kambing, dan<br />
televisi-televisi yang rata-rata kepunyaan anak-anak Suharto menyanyikan<br />
lagu-lagu perjuangan seakan-akan kami baru merdeka dari penjajahan, seakan-akan<br />
televisi-televisi itu bukan milik anak-anak bos yang mereka jatuhkan.</p>
<p>Tetapi memang semua itu hanya tipuan, dan kembali kami tertipu. Rupanya<br />
reformasi hanyalah milik para Brutus yang mengkhianati Suharto dengan<br />
menunggangi gerakan mahasiswa yang berdarah-darah dan disumbang dengan darah<br />
dan nyawa kami rakyat kecil, tanpa pernah berfikir dan berniat untuk membela<br />
kami sedikitpun.</p>
<p>Para Brutus hanya ingin mengganti Suharto dan orang-orang elitnya lalu<br />
menduduki jabatan sebagai Suharto/Tuhan baru serta mendudukkan orang-orang<br />
elitnya untuk menjadi pemeras kami yang baru, penjajah kami yang baru, penipu<br />
kami yang baru.</p>
<p>O tidak,tidak! Bahkan lebih parah lagi dari itu. Rezim Brutus bahkan menemukan<br />
sistem baru untuk menindas kami, yakni membuat nama-nama baru, peran-peran<br />
baru, lakon-lakon baru, idiom-idiom baru, wacana-wacana baru, tetapi intinya<br />
sama: yakni menjajah dan menistakan kami lebih kejam dan lebih sadis ( pada<br />
inti hakekatnya ) ketimbang rezim Sukarno dan Suharto.</p>
<p>Pemerintahan-pemerintahan Gus Dur, Megawati dan SBY, didukung oleh<br />
parlemen-parlemen pusat dan daerah yang semuanya pengkhianat rakyat, menemukan<br />
formula baru, yakni menindas kami sambil tersenyum ramah dan merangkul kami,<br />
menginjak kami sambil membaca puisi dan bernyanyi-nyanyi, menggorok leher kami<br />
sambil berdiskusi serius-santai dan membunuh anak-anak kami sambil melontarkan<br />
wacana-wacana ilmiah populer.</p>
<p>Mereka menaikkan BBM dan menelantarkan rakyat yang kelaparan, membiarkan<br />
jalan-jalan rusak, sampah-sampah menumpuk di tiap perempatan jalan, sambil<br />
terus pasang iklan tentang majunya pembangunan di televisi dengan menyewa<br />
pelawak-pelawak bebal kami.</p>
<p>Padahal di televisi yang sama, setiap item berita dan acara, sebagian besar<br />
justru berisi siaran mengenai kebusukan dan kebobrokan pemerintah, kemiskinan<br />
dan kemelaratan rakyat, kerusakan dan kehancuran alam, tapi toh kehidupan tetap<br />
berlangsung aman dan damai serta santai, karena memang itulah keajaiban kami<br />
yang lebih bodoh ketimbang keledai.</p>
<p>Ya, ya, ya, kami adalah keledai milenium, atau malah lebih sesat ketimbang<br />
bangsa-bangsa jahiliyah yang pernah disebut kitab-kitab Suci, seperti kaum Ad,<br />
Tsamud maupun Samiri.</p>
<p>Kami sudah berulang kali ditipu, tetapi toh di setiap pemilu, kami tetap<br />
memilih para penipu sebagai para pemimpin kami, sedangkan para pemimpin bersih<br />
justru kami olok-olok, kami lecehkan, bahkan ada yang kami gorok. Adakah yang<br />
lebih bebal dan mokal ketimbang kami?</p>
<p>Tetapi sebodoh-bodohnya kami, sekonyol-konyolnya kami, segila-gilanya kami yang<br />
sudah taraf gila beneran, kami masih punya senjata air mata. Airmata itulah<br />
senjata pamungkas kami. Airmata itulah yang akan mengejar kalian, wahai elit<br />
penipu!</p>
<p>Ayo kemana kalian akan lari? Ke Singapura? Tempat favorit kalian itu sudah kami<br />
penuhi dengan airmata TKI kami. Ke Mauritiuskah kalian sembunyikan duitmu agar<br />
lolos dari pajak kami? Airmata kami sudah mulai mengalir mengelilingi negara<br />
kepulauan kecil itu, dan air mata kami menunggu untuk menjadi gelombang tsunami.<br />
Ayo kemana kalian akan lari? Amerika, Kanada, Australia bahkan Negeri-negeri<br />
Bahama dan Jamaika sudah dalam kepungan air mata kami. Maka, menyerahlah kalian<br />
elit Indonesia! Menyerahlah kepada kedalaman air mata kami!!!</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/menyerahlah-elit-indonesia/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

