<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIMA UPN &#34;Veteran&#34; Jawa Timur &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.limaupn.com/category/renungan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.limaupn.com</link>
	<description>Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Mar 2012 19:20:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>DIMANA&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://www.limaupn.com/renungan/dimana/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/renungan/dimana/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:30:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[KEMANAKAH RASA Selama ini setiap manusia antar sesama selalu saling bersinggungan dan salah menyalahkan satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini terlalu banyak yang menjadi korban dengan adanya budaya baru di kehidupan yang modern ini. Pernahkah kita semua merenungi tentang hakikat hidup ini?? Ingatkah kita bahwa dunia ini hanyalah lintasan yang wajib dilalui oleh setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><strong>KEMANAKAH RASA</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Selama ini setiap manusia antar sesama selalu saling bersinggungan dan salah menyalahkan satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini terlalu banyak yang menjadi korban dengan adanya budaya baru di kehidupan yang modern ini. Pernahkah kita semua merenungi tentang hakikat hidup ini?? Ingatkah kita bahwa dunia ini hanyalah lintasan yang wajib dilalui oleh setiap insan dan sifatnya hanya sementara?? Kita hanyalah tanah yang dibentuk sedemikian rupa oleh sang pencipta dengan bermacam model yang kemudian dimasukkan ke dalam bentuk itu satu bentuk satu roh yang bisa menjadikan tanah tersebut bergerak dan berkreasi&#8230;&#8230;&#8230;</div>
<div style="text-align: left;">tapi&#8230;&#8230;&#8230;<span id="more-39"></span></div>
<div style="text-align: justify;">bukankah itu sifatnya sementara yang kelak juga akan hilang dengan sendirinya ketikan roh itu diangkat dan tinggallah tanah yang kembali menjadi tanah&#8230;</div>
<div style="text-align: justify;">lantas kenapa????</div>
<div style="text-align: justify;">kenapa kita tak sadari itu,mengapa kita harus angkuh dan congkak dengan menindas sesama????</div>
<div style="text-align: justify;">pantaskah???</div>
<div style="text-align: justify;">kenapa kita tidak bisa saling menghargai sesama tanah yang saling bergantung dan bergandengan menjadi suatu kekuatan dengan satu tujuan kedamaian tanpa peduli ada genangan air atau campuran organik organik yang lain&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</div>
<div style="text-align: justify;">kenapa kita harus menindas sesama hanya demi nafsu duniawi semata&#8230;..</div>
<div style="text-align: justify;">dikala seorang pemimpin pada hari raya Qurban dengan bangganya mengumumkan kalau berkorban hewan sekian ribu ekor yang masih bisa diketahui nominalnya dan dikala itu pula rakyatnya juga ber-qurban yang tidak ternilai harganya berupa perasaan&#8230;&#8230;</div>
<div style="text-align: justify;">perasaan menerima dan pasrah akan nasib yang menghampirinya yang selalu menjadi korban dari nafsu dunia&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</div>
<div style="text-align: justify;">WAHAI MANUSIA&#8230;.</div>
<div style="text-align: justify;">KEMBALILAH&#8230;..</div>
<div style="text-align: justify;">INGATLAH SIAPA KITA YANG HANYA TANAH DAN AKAN KEMBALI KE TANAH&#8230;&#8230;&#8230;.</div>
<div style="text-align: justify;">MANA RASA YANGT SUDAH DIKARUNIAKAN KEPADAMU&#8230;..</div>
<div style="text-align: justify;">SUDAHKAH KAU PERGUNAKAN SESUAI PORSINYA&#8230;&#8230;.</div>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=39&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/renungan/dimana/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADA APA DENGAN SIAPA</title>
		<link>http://www.limaupn.com/renungan/ada-apa-dengan-siapa/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/renungan/ada-apa-dengan-siapa/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah lingkungan akademik, semua civitas diminta untuk jerbasuki mawa beya dimana dari setiap elemen saling dukung dan saling support antara satu dengan yang lain. Demi kemajuan dan kesuksesan sebuah lingkungan, segala hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut harus atau minimal terpenuhi kebutuhannya.dalam hal ini baik pejabat,karyawan maupun mahasiswa harus paham atau minimal tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah lingkungan akademik, semua civitas diminta untuk jerbasuki mawa beya dimana dari setiap elemen saling dukung dan saling support antara satu dengan yang lain. Demi kemajuan dan kesuksesan sebuah lingkungan, segala hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut harus atau minimal terpenuhi kebutuhannya.dalam hal ini baik pejabat,karyawan maupun mahasiswa harus paham atau minimal tahu walaupun sedikit apa yang menjadi hak dan kewajiban masing &#8211; masing,bukan hanya menuntut hak tapi tidak tahu kewajibannya,selain itu guna meningkatkan kualitas sebuah organisasi akademika perlu SDM yang mumpuni dan sesuai keahlian dalam masing &#8211; masing sub bidang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-35"></span>Realita yang ada di lingkungan akademika UPN &#8220;veteran&#8221; Jatim kesannya saya rasa asal2an,ini bs terlihat dari penempatan orang2 yang mengelola civitas akademika UPN Jatim dan tidak sesuai dengan bidang keahliannya.sekarang bagaimana sebuah lembaga akan maju kalo pengelolanya tidak profesional dan ahli di bidangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, terjadi ketimpangan disana sini baik dalam hal pelayanan maupun dalam hal pemenuhan hak yang seharusnya ada keseimbangan demi terciptanya suatu stabilitas dan kedinamisan kampus.Kemampuan pengelolaan suatu organisasi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kualitas output yang dihasilkan.Semuanya akan tuntas dan stabil seandainya masing &#8211; masing paham dan mengerti hak dan kewajibannya dan disesuakan dengan porsinya masing &#8211; masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sadarlah bahwa sesuatu akan nyaman tentram dan sentosa jika masing &#8211; masing pihak sadar dan terbuka. Ingatlah bahwa kita hidup sementara dan semua yang kita miliki adalah titipan!!!!!!!</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=35&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/renungan/ada-apa-dengan-siapa/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>APA SELANJUTNYA YANG BISA DAN PERLU SAYA KERJAKAN ?</title>
		<link>http://www.limaupn.com/renungan/apa-selanjutnya-yang-bisa-dan-perlu-saya-kerjakan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/renungan/apa-selanjutnya-yang-bisa-dan-perlu-saya-kerjakan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[APA SELANJUTNYA YANG BISA DAN PERLU SAYA KERJAKAN ? Tulisan ini lebih banyak merupakan renungan. Renungan tentang kehidupan saya selama ini, dan juga kehidupan di masa selanjutnya. Oleh karena itu, renungan yang kali ini berupa tulisan yang cukup panjang. Mengapa merenungkannya? Sebab, ketika tulisan ini dibuat, umur saya sudah menginjak 74 tahun. Menurut hukum alam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA SELANJUTNYA YANG BISA<br />
DAN PERLU SAYA KERJAKAN ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini lebih banyak merupakan renungan. Renungan tentang kehidupan saya selama ini, dan juga kehidupan di masa selanjutnya. Oleh karena itu, renungan yang kali ini berupa tulisan yang cukup panjang. Mengapa merenungkannya? Sebab, ketika tulisan ini dibuat, umur saya sudah menginjak 74 tahun. Menurut hukum alam, umur yang sekian itu merupakan tahap-tahap yang terakhir dalam kehidupan manusia. Dan saya tidak dapat mengetahui, sekarang ini, sampai kapankah saya masih bisa hidup di dunia ini. Lima tahun lagi? Sepuluh tahun? Lima belas tahun?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-33"></span>Betapa pun juga, pada akhirnya, atau pada waktunya, saya toh akan meninggalkan dunia ini, seperti halnya manusia lainnya. Inilah hukum alam, yang seluruh manusia di dunia ini, sejak ratusan ribu tahun yang lalu (bahkan jutaan tahun yang lalu) , tidak bisa melawannya atau mengobahnya. Semua manusia akhirnya akan mati juga, pada waktunya. Inilah yang pasti akan saya alami juga. Entah kapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat itu semua, maka kadang-kadang timbul pertanyaan terhadap saya sendiri : untuk apa sisa hidup saya selanjutnya dan apa saja yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan seterusnya? Dan apa lagi yang masih saya cari dalam hidup ini? Kalau mengenang kembali apa saja yang sudah terjadi dalam jalan hidup saya, maka merasa bahwa hidup saya ini tidak sia-sia. Baik sebagai manusia biasa, atau sebagai suami, atau sebagai bapak dari anak-anak</p>
<p style="text-align: justify;">Telah begitu banyak hal dan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup saya selama ini, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, seperti yang dialami juga oleh manusia-manusia lainnya. Di antara berbagai hal dan peristiwa yang pernah saya alami itu ada yang merupakan bagian-bagian yang amat penting bagi sejarah hidup saya.Namun, apalah arti itu semuanya, kalau kita ingat bahwa saya ini hanyalah satu bagian yang amat kecil sekali dari bangsa Indonesia yang sekarang (dalam tahun 2002) berjumlah sekitar 210 juta orang. Apalagi, kalau diingat bahwa penduduk dunia dewasa ini sudah mencapai 6,2 miliard (menurut angka-angka PBB).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau diingat bahwa alam semesta ini sudah terbentuk sejak 4 ribu juta tahun yang lalu (menurut ahli-ahli di NASA dan para peneliti ilmiah di Queensland University) dan bahwa manusia sudah mulai muncul di dunia sejak jutaan tahun, maka makin nyatalah bahwa hidup kita di dunia ini (termasuk hidup saya sendiri) hanyalah sebentar saja, dan bahwa kita ini semua hanyalah merupakan sebagian yang amat amat kecil sekali dari alam semesta ini.</p>
<p style="text-align: justify;">LIKA-LIKU JALAN HIDUP DI MASA LALU.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika umur sudah makin tua, dan sisa hidup makin berkurang terus, maka apa sajakah yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan selanjutnya? Dalam kehidupan di masa-masa yang lalu, beraneka-ragam kegiatan sudah saya lakukan dan berbagai pengalaman sudah saya lalui. Ketika masih pemuda umur 17 tahun saya sudah ikut dalam pertempuran 10 November di kota Surabaia dalam (tahun 1945). Bersama-sama dengan sejumlah pelajar SGL (Sekolah Guru Laki-laki) Blitar dan SMP Kediri, saya pernah menggabungkan diri dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur. Dalam tahun 1946, saya telah dikirim oleh Kementerian Dalamnegeri RI sebagai anggoata delegasi API (Angkatan Pemuda Indonesia) ke Sumatera. Setelah menjadi guru Sekolah Dasar sebentar di Malang dan pegawai toko buku Van Dorp di Surabaia (tahun 1948-1949) maka dalam tahun 1950 saya mulai memasuki lapangan kerja di bidang jurnalistik dengan bekerja di suratkabar Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis (sampai 1953).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam tahun 1953 saya menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Internasional Hak-Hak Pemuda yang diselenggarakan di Wina (Austria), yang disambung dengan kunjungan ke Uni Soviet dan RRT sebagai tamu Gabungan Pemuda Seluruh Tiongkok waktu itu. Setelah kembali ke Indonesia (akhir tahun 1953) saya mulai bekerja di Harian Rakyat di Jakarta, sampai pertengahan 1956. Sejak tahun 1956 sampai tahun 1960 saya kemudian memimpin suratkabar HARIAN PENERANGAN di Padang, ketika terjadi pembrontakan PRRI dan dilancarkannya Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel A. Yani. Mulai tahun 1960 sampai meletusnya G30S dalam tahun 1965, saya memimpin harian EKONOMI NASIONAL di Jakarta, dan menjadi pengurus PWI Pusat sejak tahun 1963. Dalam tahun 1963, ketika diselenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika, saya juga menjabat sebagai bendaharanya, dan diteruskan menjadi pengurus Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika yang berpusat di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan terjadinya G30S, maka jalan hidup saya mengalami perobahan yang besar sekali. Pada tanggal 14 September 1965, saya meninggalkan Jakarta sebagai anggota delegasi Indonesia dalam konferensi internasional IOJ (International Orgnisation of Journalists) di Santiago (Chili) dan kemudian meneruskan perjalanan ke Aljazair untuk mempersiapkan diselenggarakannya KWAA (Konferensi Wartawan Asia-Afrika) yang kedua di negeri tersebut. Di Aljazair inilah saya mendengar berita tentang terjadinya G30S. Karena kemudian saya mendengar bahwa EKONOMI NASIONAL bersama-sama dengan sejumlah koran lainnya ditutup dan rekan-rekan wartawan mulai ditangkapi oleh Suharto dkk, maka kemudian saya menggabungkan diri kepada PWAA yang dipindahkan dari Jakarta ke Peking. Selama 7 tahun lebih saya tinggal di RRT dan bekerja di PWAA, ketika di Tiongkok sedang dilancarkan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Dalam tahun 1974 saya pergi ke Perancis dan minta suaka politik. Sejak itu, sampai sekarang, saya tinggal di Prancis.</p>
<p style="text-align: justify;">Catatan yang amat singkat-singkat &#8211; dan secara garis-besar &#8211; tentang itu semua menunjukkan betapalah berliku-likunya sebagian dari jalan hidup saya di masa lalu, sebelum menetap di Prancis. Banyak di antara hal-hal atau peristiwa semasa itu yang menjadi kenang-kenangan yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi hidup saya. Namun, setelah saya menetap di Prancis pun banyak hal dan peristiwa penting yang telah makin memperkaya perjalanan hidup saya.</p>
<p style="text-align: justify;">KEHIDUPAN DI PRANCIS YANG PADAT</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saya datang ke Prancis dalam tahun 1974 dari Tiongkok, maka dapatlah dikatakan bahwa sebagian terbesar dari kehidupan saya telah saya curahkan untuk ikut serta dalam perjuangan melawan kekuasaan regime Orde Barunya Suharto dan konco-konconya. Memang, saya telah meninggalkan Tiongkok pada akhir tahun 1973 dengan tujuan untuk mencari cara dan jalan yang lebih cocok dalam melakukan perlawanan terhadap regime Orde Baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, walaupun beberapa bulan setelah saya tiba di Paris saya dapat bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pertanian Prancis, namun saya menganggap bahwa “kehidupan saya sesungguhnya” adalah yang di luar jam kerja yang resmi itu. Dengan maksud untuk membangun jaring-jaringan persahabatan dan solidaritas dalam melawan regime Orde Baru, saya aktif mengadakan hubungan dengan berbagai golongan di kalangan Katolik, Protestan, Trotskis, Komunis, Sosialis, dan ikut serta dalam beraneka-ragam kegiatan yang dilakukan organisasi-organisasi atau LSM Prancis. Kemudian, ternyatalah bahwa berkat kegiatan yang bersegi banyak dan beraneka-ragam itulah maka bisa terjalin jaring-jaringan solidaritas yang bisa memudahkan atau memungkinkan dilaksanakannya banyak usaha dan kegiatan yang ada hubungannya dengan perjuangan melawan regime Orde Baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari sesudah saya menginjakkan kaki di Paris, saya bergaul dengan teman-teman Prancis dari golongan Katolik “kiri” yang aktif dalam mendukung perjuangan rakyat Vietnam dalam melawan Amerika Serikat dan juga perjuangan rakyat-rakyat Dunia Ketiga dalam melawan kolonialisme dan imperialisme (waktu itu). Karena Paris merupakan kota, sejak dulu, di mana terdapat banyak organisasi (nasional maupun internasional) yang melakukan beraneka-ragam kegiatan politik dan sosial yang bertujuan humaniter, atau memperjuangkan kebebasan manusia dan keadilan, maka menyatukan diri atau ikut dalam berbagai kegiatan itu merupakan cara penting untuk menjalin hubungan. Terjalinnya banyak hubungan persahabatan dengan berbagai fihak ini ternyata amat berguna bagi kegiatan-kegiatan saya selanjutnya di kemudian hari, sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak datang ke Paris, berbagai pengalaman telah saya peroleh. Dalam bulan-bulan pertama, saya ikut membantu berdirinya satu toko buku dan penerbit l’Harmattan. L’Harmattan sekarang ini menjadi besar dan terkenal di Prancis sebagai penerbit yang mengutamakan penerbitan buku-buku tentang Dunia Ketiga (terutama Afrika, Amerika Latin, dan juga Asia). Setelah saya dalam pertengahan tahun 1975 diterima sebagai pegawai Kementrian Pertanian Prancis, dan masalah untuk makan sehari-hari dan tempat tinggal sudah mulai terpecahkan (walaupun secara terbatas sekali) maka saya bisa melakukan berbagai kegiatan dengan lebih mantap.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usaha untuk “memperkenalkan diri”, maka saya telah menulis soal-soal situasi di Indonesia dalam berbagai media Prancis, di antaranya dalam majalah Temoignage Chretien (dengan nama samaran), dan kemudian juga untuk Le Monde Diplomatique (dengan nama A. Umar Said). Dalam tahun 1976, dengan kedatangannya Jose Ramos Horta sebagai pimpinan Fretilin (waktu itu) ke Eropa untuk pertama kalinya, saya telah menemuinya di Holland dan kemudian mengundangnya ke Paris untuk mengadakan rapat besar tentang agresi tentara Suharto ke Timor Timur. Sejak itulah maka berdirilah ASTO ( Association de Solidarité avec Timor Oriental), yang tergolong komite tentang Timor Timur yang tertua di dunia. Sampai sekarang (dalam tahun 2002), saya masih aktif dalam organisasi yang sudah berumur lebih dari seperempat abad ini. Oleh karena itu, saya merasa senang dapat pergi ke Dili untuk ikut menghadiri upacara perayaan Hari Kemerdekaan Timor Timur pada tanggal 20 Mei tahun 2002.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya sudah mulai bekerja di Kementerian Pertanian Prancis, saya pernah mondar-mandir dari Prancis ke Jerman Barat (waktu itu), ke Holland, Swedia, Albania dan ke Tiongkok untuk ikut membantu pengaturan kedatangan sejumlah teman-teman yang ingin tinggal menetap di berbagai negeri Eropa. Bertahun-tahun lamanya, saya bersama sejumlah besar teman-teman ( baik Indonesia, Belanda, Jerman dll) telah mengadakan stand besar dalam pesta tahunan yang diselenggarakan suratkabar Partai Komunis Prancis l’Humanite. Banyak soal yang bisa diceritakan tentang itu semua.</p>
<p style="text-align: justify;">APA SELANJUTNYA YANG MASIH BISA SAYA KERJAKAN ?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bukan Mei 1982 saya mengundurkan diri dari pekerjaan di Kementerian Pertanian Prancis, karena berbagai pertimbangan. Di antaranya, adalah dengan tujuan untuk bisa ikut membantu pemecahan berbagai persoalan yang dihadapi oleh sejumlah besar teman-teman Indonesia, yang mulai berdatangan dari Tionkok, Albania dan lain-lain tempat. Dalam rangka inilah maka saya telah mengambil inisiatif, untuk bersama-sama dengan sejumlah teman-teman lainnya (baik Indonesia maupun Prancis) mendirikan restoran koperasi INDONESIA, yang dalam tahun 2002 ini akan merayakan ultangtahunnya yang ke-20. Berdirinya restoran koperasi INDONESIA di Paris mengandung banyak pengalaman yang berharga dan juga mempunyai arti yang besar, yang mungkin menarik untuk diketahui oleh banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai orang yang menjadikan jurnalistik sebagai profesi dalam hidupnya, pengalaman saya menerbitkan majalah bulanan dalam bahasa Prancis, selama sepuluh tahun (antara 1986 sampai 1997), juga merupakan bagian hidup saya yang menarik. Majalah bulanan ini bernama Chine Express, yang ditujukan untuk perusahaan-perusahaan Prancis yang ingin berhubungan dengan Tiongkok. Pekerjaan ini tidak mudah, sebab segala-segalanya terpaksa harus dikerjakan sendirian. Cerita tentang soal ini juga banyak. Jadi, kehidupan saya selama di Prancis cukuplah padat. Sebab, di samping itu semuanya, masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan masalah-masalah di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tahun 1986, saya menulis artikel-artikel yang disiarkan oleh Apakabarnya John Macdougall. Bertahun-tahun saya pakai berbagai nama samaran, dan baru sejak tahun 1998, saya memutuskan untuk memakai nama saya yang asli. Ketika dalam tahun 1996 saya bisa berkunjung ke Indonesia (sesudah lebih dari 30 tahun tidak menginjaknya), maka saya mengadakan sejumlah kegiatan bersama-sama dengan banyak kawan di Indonesia. Dalam tahun 2000 saya menjadi anggota rombongan Madame Danielle Mitterrand, yang berkunjung ke Indonesia, dalam rangka mengangkat masalah-masalah eks-tapol dan para korban regime Orde Baru pada umumnya..</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika merenungkan itu semuanya, terasalah bahwa jalan hidup saya memang berliku-liku dan juga padat sekali dengan berbagai persoalan dan pengalaman. Dan mengingat bahwa umur sudah makin tua, maka saya kadang-kadang bertanya kepada diri sendiri, apa sajakah selanjutnya yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan? Walaupun saya sekarang sudah pensiun, dan umur pun sudah makin lanjut, rasanya, bagi saya, tidak bisa lain kecuali mengikuti arah besar yang sudah mulai saya tempuh sejak pertempuran di Surabaia 10 November 1945. Namun, ini harus saya lakukan sesuai dengan situasi dunia &#8211; dan di Indonesia &#8211; yang terus-menerus mengalami perobahan, dan juga kondisi fisik pribadi yang sudah tidak muda lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya hanyalah “sesuatu” yang merupakan bagian yang amat kecil sekali dari alam semesta yang begitu besar, dan yang sudah berumur jutaan tahun ini. Dan juga bahwa saya hanyalah satu dari mahluk manusia yang sekarang berjumlah lebih dari 6000 juta orang di bumi ini. Dan juga bahwa, seperti halnya mahluk-mahluk lainnya, maka pada suatu saat saya juga akan hilang ditelan oleh waktu dan sejarah. Ketika ingat kepada hal-hal itu semuanya, maka saya berketetapan hati untuk menggunakan sisa hidup saya untuk terus berusaha berbuat sesuatu yang berguna bagi umat manusia.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=33&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/renungan/apa-selanjutnya-yang-bisa-dan-perlu-saya-kerjakan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIB BESAR DAN DOSA BERAT INI HARUS KITA BUANG JAUH-JAUH</title>
		<link>http://www.limaupn.com/renungan/aib-besar-dan-dosa-berat-ini-harus-kita-buang-jauh-jauh/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/renungan/aib-besar-dan-dosa-berat-ini-harus-kita-buang-jauh-jauh/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Kelihatannya, berbagai macam kegiatan untuk menyelenggarakan peringatan “40 tahun peristiwa 65” sedang terus berkembang di berbagai kalangan dari golongan dalam masyarakat, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah. Ini pertanda baik bahwa, walaupun pelan-pelan, banyak orang dari berbagai kalangan dan golongan (termasuk yang tadinya mendukung Orde Baru) menyadari betapa pentingnya untuk secara serius merenungkan apa saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kelihatannya, berbagai macam kegiatan untuk menyelenggarakan peringatan “40 tahun peristiwa 65” sedang terus berkembang di berbagai kalangan dari golongan dalam masyarakat, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah. Ini pertanda baik bahwa, walaupun pelan-pelan, banyak orang dari berbagai kalangan dan golongan (termasuk yang tadinya mendukung Orde Baru) menyadari betapa pentingnya untuk secara serius merenungkan apa saja yang dialami bangsa kita selama 40 tahun sesudah timbulnya peristiwa 65 atau mengenang apa saja pengalaman-pengalaman pahit yang dialami oleh mereka selama pemerintahan rejim militer Orde Baru.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-31"></span>Ini wajar. Sebab, bagi orang yang bernalar sehat dan berhati bersih, maka nyatalah dengan jelas sekali bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru (yang inti utamanya adalah TNI-AD dan Golkar) selama 32 tahun adalah betul-betul merupakan tumpukan yang menggunung dari kesalahan parah dan kejahatan besar, baik di bidang hak-hak azasi manusia, maupun di bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Di antara kesalahan parah dan kejahatan besar ini termasuk &#8212; terutama sekali &#8212; yang dilakukan terhadap Bung Karno, dan terhadap golongan kiri yang mendukungnya, yaitu para anggota dan simpatisan PKI.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau direnungkan dalam-dalam, sebenarnya yang dirugikan oleh rejimnya Suharto dkk adalah bukannya hanya golongan pendukung Bung Karno dan golongan kiri saja &#8212; terutama anggota dan simpatisan PKI &#8212; , melainkan juga banyak golongan-golongan lainnya, kecuali mereka yang betul-betul merupakan pendukung setia Orde Baru, atau yang merasa diuntungkan oleh sistem mafia yang sangat represif dan sangat korup itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>MASIH MEMUJI-MUJI ORDE BARU ADALAH “SINTING”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itulah sebabnya, maka walaupun rezim militer Suharto baru 7 tahun “lengser” dari kekuasaan mutlaknya yang sudah dipegangnya erat-erat secara tangan besi (dan tangan berdarah !!!) selama 32 tahun, maka makin sedikitlah jumlah orang-orang yang terang-terangan masih berani berkaok-kaok bahwa Suharto adalah pemimpin besar bangsa atau bahwa Orde Baru adalah rejim militer baik yang telah berjasa besar bagi negara dan rakyat. Lambat laun, makin banyaklah orang &#8211; termasuk tokoh-tokoh masyarakat dan kaum intelektual &#8212; yang berani terang-terangan mengkritik segi-segi buruk Suharto beserta keluarganya atau menghujat kesalahan dan kejahatan Orde Baru. Sekarang, berani terang-terangan memuji-muji Orde Baru adalah sesuatu yang bisa dianggap “aneh” atau ”sinting” oleh banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena, kesalahan atau kejahatan yang dilakukan oleh rejim militer Orde Barunya Suharto dkk sudah begitu parahnya (ditambah sudah begitu banyaknya, serta sudah begitu lamanya!!!) sehingga sulit sekali bagi para tokoh-tokohnya untuk membantah secara serius adanya berbagai kesalahan perikemanusiaan atau kejahatan pelanggaran hak-hak azasi manusia itu. Hanya mereka yang betul-betul nalarnya rusak atau hatinya sudah benar-benar membusuklah (atau yang fikirannya tidak waras) yang berani mengingkari atau tidak mengakui adanya berbagai kesalahan atau kejahatan Orde Baru yang sudah dilakukan sejak tahun 1965.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, tentang berbagai macam kejahatan dan pelanggaran itu buktinya masih ada sekarang di mana-mana di seluruh Indonesia, dan saksi hidupnya juga masih banyak sekali. Mereka itu terutama terdiri para keluarga para korban yang dibunuh secara besar-besaran tahun 65 dan juga keluarga para tapol yang sudah ditahan secara sewenang-wenang dalam jangka lama atau dipenjarakan tanpa pengadilan. Tetapi tidak hanya mereka saja, orang-orang dari kalangan lainpun banyak yang sudah menerima perlakuan yang tidak adil.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>RIBUAN BUKU BISA DAN HARUS DITULIS</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para korban peristiwa 65 inilah , yang sebagian terbesar di antaranya sudah mengalami berbagai penderitaan selama 40 tahun karena perlakuan tidak berperikemanusiaan oleh Orde Baru, dan yang sampai sekarang masih juga banyak yang terus menderita. Seperti kita saksikan sendiri (atau kita dengar) selama masa Orde Baru yang 32 tahun, para keluarga korban pembunuhan massal tahun 1965 dan keluarga para tapol tidak bisa atau tidak berani sama sekali bersuara tentang kekejaman dan kebengisan perlakuan yang mereka derita. Mulut mereka telah dibungkem dengan berbagai cara.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak terbayangkan lagilah betapa banyaknya cerita tentang penderitaan, atau kesedihan, atau kepedihan, yang sudah dialami oleh puluhan juta orang korban peristiwa 65 selama puluhan tahun itu. Memang, sejak Suharto “lengser” tahun 1998, sedikit demi sedikit, sudah terbit buku-buku dan tulisan-tulisan dalam media massa yang berisi kisah tetang penderitaan dan penganiayaan yang mereka lalui. (Yang terbaru adalah dua tulisan dalam Sinar Harapan tanggal 29 Juli, yang berjudul “Kisah para perempuan korban 1965” dan Kompas tanggal 31 Juli yang berjudul “Menunggu telinga tumbuh”). Tetapi, apa yang sudah diterbitkan itu adalah masih sangat sedikit sekali atau kecil sekali kalau dibandingkan dengan besarnya tragedi kemanusiaan itu sendiri. Sebenarnya, atau seharusnya, ribuan buku bisa ditulis mengenai itu semuanya, demi pendidikan bangsa dan anak-cucu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, meskipun masih belum banyak sekali di antara para korban peristiwa 65 yang sudah membeberkan pengalaman mereka tentang berbagai macam penderitaan yang berkepanjangan itu, sedikit kisah yang sudah beredar itu saja sudah memungkinkan banyak orang untuk menyadari dan yakin bahwa Orde Baru memang patut dikutuk habis-habisan, dan para pelaku utamanya juga dimintai pertanggungan jawab.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>MEMBENCI ORDE BARU ADALAH BENAR DAN ADIL</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itulah sebabnya, maka dalam kegiatan memperingati “40 tahun peristiwa 65” ini, para korban 65 dan keluarga mereka (dan juga yang bukan korban 65) tidak perlu takut-takut lagi, tidak boleh ragu-ragu atau tidak patut segan-segan untuk melontarkan kemarahan mereka terhadap para tokoh-tokoh terkemuka rejim militer Suharto dkk. Sudah sewajarnyalah bahwa mereka marah, juga sudah sepatutnya, atau sudah selayaknya, atau, bahkan, seharusnya ! Marah, atau benci, atau brontak terhadap segala kesalahan besar atau kejahatan parah Orde Baru adalah sikap yang pasti dibenarkan oleh rasa keadilan dan oleh nalar yang sehat. Mengutuk Orde Baru dan menghujat Suharto adalah benar dan sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, setelah mengalami berbagai macam perlakuan tidak berperikemanusiaan selama 40 tahun, para korban peristiwa 65 mempunyai hak sepenuhnya – sebagai manusia biasa dan juga sebagai warganegara Republik Indonesia &#8212; untuk menuntut keadilan dan pemulihan hak-hak politik, sosial, dan kebudayaan, yang telah dirampas secara sewenang-wenang oleh rezim militer Suharto dkk. Tuntutan mereka ini adalah masuk akal, adil, dan wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilihat dari pandangan yang lebih jauh, kelihatanlah dewasa ini bahwa posisi para korban peristiwa 65 sudah mulai berobah. Kalau selama 32 tahun mereka tidak bisa, atau tidak mungkin “ bersuara” sama sekali tentang kebengisan, kebuasan, atau kebiadaban yang telah mereka terima, sekarang mereka bisa berdiri tegak sambil menuding dan berteriak menggugat :”Kami tidak bersalah sama sekali! Kalianlah yang salah,dan karenanya kami menuntut keadilan!”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PENDERITAAN PULUHAN TAHUN MENJADI “SENJATA”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penderitaan mereka puluhan tahun yang disebabkan perlakuan tak beradab dan tidak berperikemanusiaan oleh Orde Baru itu dewasa ini sudah bisa berbalik menjadi “senjata” mereka untuk memblejedi segala kesalahan dan kejahatan di masa lalu. Karena sudah sangat menyoloknya kejahatan besar yang dilakukan lebih dari 32 tahun, dan bukti-buktinya beserta saksi-saksi hidupnya juga dapat ditemukan di mana-mana, maka banyaknya kejahatan dan kesalahan Orde Baru ini justru menjadi titik lemah para pendukung atau simpatisan rejim militer Suharto dkk. Sekarang sudah bisa dilihat bahwa tokoh-tokoh Orde Baru tidak bisa &#8212; atau sulit sekali &#8212; membantah adanya kejahatan dan kesalahan yang sudah berlangsung begitu lama terhadap begitu banyak orang itu. Dalam hal ini para pendukung Orde Baru adalah defensif sekali. Ini wajar sekali, sebab sudah jelaslah bagi banyak orang bahwa Orde Baru adalah difihak yang salah !</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, sekarang kita bisa tahu lebih jelas atau dengar lebih banyak tentang bagaimana kejamnya atau biadabnya penyiksaan yang dilakukan sebagian golongan militer (persisnya TNI-AD) terhadap banyak sekali anggota, simpatisan, dan para kader PKI , dalam interogasi selama tahanan, dalam usaha menghancurkan kekuatan politik Bung Karno dan PKI. Sekarang diketahui bahwa orang-orang yang dianiaya atau disiksa itu adalah orang-orang yang tidak bersalah apa-apa, dan tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan G30S. Bahkan, di antara mereka itu banyak yang tidak mengerti sedikitpun atau tidak tahu-menahu tentang peristiwa itu. Banyak sekali kesaksian-kesaksian yang membuktikan bahwa cara-cara penganiayaan atau penyiksaan itu sudah menyamai kebiadaban yang dilakukan oleh fasisme Nazi Hitler dan Kenpeitai Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>MENERUSKAN KETIDAKADILAN ADALAH MEMPERBANYAK DOSA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau dilihat secara keseluruhan, para korban peristiwa 65 yang sekarang memperjuangkan tuntutan mereka yang adil (yaitu memulihkan hak-hak mereka di bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan) sebenarnya, dan akhirnya, berarti tidak hanya memperjuangkan kepentingan mereka sendiri saja, tetapi juga untuk kebaikan seluruh bangsa dan anak-cucu kita. Karena, kasus para korban peristiwa 65 sudah jelas-jelas menjadi beban moral bangsa atau sudah menjadi aib bangsa yang memalukan. Atau, sudah menjadi dosa besar bangsa. Jadi, menyelesaikan kasus para korban peristiwa 65 sebenarnya berarti menghilangkan aib dan dosa besar bangsa, yang sudah membikin buruk sekali martabat bangsa Indonesia puluhan tahun, termasuk di mancanegara.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau direnungkan dalam-dalam, sesungguhnya tidak ada keuntungan bagi siapapun, dan dari kalangan atau golongan yang manapun – termasuk bagi mereka yang menjadi pendukung Orde Baru &#8212; untuk meneruskan kesalahan besar atau melanggengkan kejahatan ini lebih lama lagi. Diteruskanya perlakuan yang jelas-jelas tidak mencerminkan perikemanusiaan, atau sama sekali tidak menunjukkan peradaban &#8212; dan juga tidak menunjukkan keadilan bagi sesama makhluk Tuhan dan sesama warganegara Republik Indonesia ini &#8212; , adalah hanya memperbanyak dosa besar. Dan hanyalah mendatangkan keburukan bagi bangsa dan mewariskan aib kepada generasi yang akan datang. Inilah yang harus disadari betul-betul oleh banyak tokoh-tokoh masyarakat dan bangsa kita, baik yang di kalangan pemerintahan dan lembaga-lembaga, maupun yang di kalangan partai-partai politik, kalangan agama, dan kaum intelektual.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat pengalaman yang sudah dilewati oleh bangsa kita selama 40 tahun, maka bisalah kiranya kita tarik pelajaran bahwa berbagai kesalahan besar (dan banyak kejahatan berat) yang dilakukan oleh golongan militer (terutama TNI-AD) dengan Orde Barunya, tidak boleh terulang lagi, dalam bentuknya yang bagaimanapun juga, dengan cara apapun juga, dan dengan dalih apapun juga! Sudah terlalu banyaklah kiranya kerusakan, pembusukan, penderitaan dan penganiayaan yang terjadi dalam jangka waktu yang begitu lama yang dialami sebagian besar rakyat, termasuk penderitaan keluarga para korban pembunuhan massal tahun 65 dan para tapol beserta keluarga mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya orang-orang yang fikirannya sudah dikeruhkan oleh berbagai pandangan yang sesat, atau hanya golongan yang tidak memiliki kesalehan sosial sama sekalilah yang akan tetap senang dengan dilanggengkannya ketidakadilan dan ketidakperikemanusiaan yang sudah begitu menyolok secara sangat keterlaluan ini. Juga hanya tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh negara yang sesat imannyalah yang masih terus menganggap baik diteruskannya perlakuan terhadap para korban 65.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam memperingati 40 tahun peristiwa 65, kita semua patut mengingatkan para tokoh masyarakat dan tokoh negara kita bahwa jiwa bangsa kita akan terus menjadi jiwa bangsa yang sakit selama kasus para korban peristiwa 65 ini tidak mendapat penyelesaian secara adil. Kita tidak bisa sama sekali menamakan diri sebagai bangsa yang beradab dan tidak pula patut membanggakan diri sebagai ummat beriman kalau puluhan juta orang masih terus kita biarkan dibikin menderita berkepanjangan. Kita akan tetap terus menjadi bangsa yang menyandang aib besar dan memikul dosa berat. Oleh karena itu, aib besar dan dosa berat ini harus kita buang jauh-jauh. Makin cepat makin baik.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=31&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/renungan/aib-besar-dan-dosa-berat-ini-harus-kita-buang-jauh-jauh/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

