<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIMA UPN &#34;Veteran&#34; Jawa Timur &#187; Wahana Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.limaupn.com/category/wacana/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.limaupn.com</link>
	<description>Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Mar 2012 19:20:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Orang Idealis Vs Orang Realistis</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 21:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering mendengarkan orang mengatakan hal-hal negatif mengenai orang yang punya idealisme tertentu. Entah itu mulai dari sindiran hingga secara terang-terangan telah banyak ditujukkan kepada orang-orang yang mempunyai kesetiaan tertentu terhadap ide yang mereka yakini benar. Orang-orang Indonesia, terutama sekali masyarakat perkotaan, menganggap bahwa idealisme adalah suatu konsep yang harus ditinggalkan jauh-jauh dalam menjalankan hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sering mendengarkan orang mengatakan hal-hal negatif mengenai orang yang punya <strong>idealisme</strong> tertentu. Entah itu mulai dari sindiran hingga secara terang-terangan telah banyak ditujukkan kepada orang-orang yang mempunyai kesetiaan tertentu terhadap ide yang mereka yakini benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Indonesia, terutama sekali masyarakat perkotaan, menganggap bahwa idealisme adalah suatu konsep yang harus ditinggalkan jauh-jauh dalam menjalankan hidup agar mendapatkan hidup yang baik. Benarkah itu? Sebelum menilai hal tersebut benar atau salah, ada baiknya saya sedikit jelaskan apa itu idealisme dan realism, beserta apa saja yang termasuk ke dalam kategori idealisme dan realism tersebut.<span id="more-368"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari <strong>pengalaman</strong>, <strong>pendidikan</strong>, <strong>kultur budaya</strong> dan <strong>kebiasaan</strong>. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu, tapi juga hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai idealisme yang mempengaruhi individu contohnya adalah keyakinan mengenai pola hidup, nilai-nilai kebenaran, gaya mengasuh anak, karir dan lain sebagainya. Sedangkan idealisme pada tingkatan negara adalah seperti <strong>Ideologi Pancasila</strong>, <strong>komunisme</strong>, <strong>liberalism</strong> dan masih banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan realisme adalah suatu sikap/pola pikir yang mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sama dengan idealisme, realisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Realisme-pun tidak hanya terbatas pada individu, tapi juga pada level-level diatasnya hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai realisme yang mempengaruhi individu pada umumnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan materi. Namun tidak tertutup kemungkinan juga pada hal-hal lain seperti budaya politik, norma reliji (sistem kepercayaan) dan banyak hal-hal lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang telah saya tuliskan di atas bahwa batasan tulisan ini hanya untuk menjawab pernyataan kaum realis yang menganggap bahwa idealisme adalah sampah kehidupan. Untuk menyederhanakan tulisan ini agar mudah ditangkap oleh semua orang, saya akan menggunakan pendekatan perbandingan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme pada dasarnya adalah <strong>perubahan</strong>, terlepas dari apakah perubahan itu baik atau buruk. Sebagai contoh idealisme positif, ingat ketika <strong>Martin Luther</strong> menentang gereja Katolik Eropa? Banyak orang ketika itu mencemoohnya sebagai orang yang idealis dengan menafikkan kenyataan-kenyataan di lapangan dan keamanan hidupnya sendiri. Namun dengan kekuatan idealisme yang luar biasa akhirnya Martin Luther mampu melahirkan gerakan reformasi (pada masa itu) dan tetap bertahan hingga hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk contoh buruknya, lihat idealisme yang dilakukan oleh <strong>Adolf Hitler</strong>. Dengan keyakinannya atas buruknya kaum Yahudi dan Komunisme, dia bisa menjadi penguasa Eropa dan membinasakan kaum Yahudi dan Komunis. Padahal ketika zamannya ketika itu, korporasi Yahudi dan dominasi politik komunis begitu kental dilingkungannya sehingga pada awal-awal perjuangannya Hitler justru lebih banyak mendapat hinaan dan cemooh ketimbang dukungan. Tentu saja contoh buruk ini jangan ditiru karena justru merupakan kemunduran dalam peradaban manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah semua pemimpin besar dunia: <strong>Mahatma Gandhi</strong>, <strong>Mother Teressa</strong>, <strong>Aung an su kyi</strong>, <strong>Che Guevara</strong>, <strong>Soekarno</strong>, <strong>Julius Caesar</strong>, <strong>Socrates</strong> dan masih banyak pemimpin besar dunia lainnya yang penuh dengan idealisme-idealismenya walaupun kadang hal itu menjadi faktor utama berakhirnya hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Socrates</strong> contohnya: dia bersikukuh bahwa pemerintahan <strong>demokrasi Athena</strong> pada kala itu adalah pemerintah yang busuk dan korup. Walaupun banyak kerabatnya dan murid-muridnya yang membujuknya agar tidak terlalu idealis dengan keyakinannya karena akan membahayakan nyawanya, dia tetap saja lantang menentang demokrasi Athena. Walhasil, senat Athena memerintahkannya menenggak racun sebagai bentuk hukuman mati atas penghinaannya kepada senat, dan matilah Socrates dalam memperjuangkan idealismenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah <strong>Soekarno</strong>. Pada masa mudanya, Soekarno sudah terbiasa diperlihatkan pemandangan betapa anak negeri ini (kaum pribumi) diperbudak oleh penjajah Belanda. Lingkungannya pun (lingkungan terpelajar dan priyayi) sudah menganggap bahwa hal itu adalah biasa. Lalu ketika dia beranjak dewasa, dia menyadari bahwa ini semua salah dan dia mulai merawan arus “realistik” penjajahan, dan mulai mengkampanyekan idealisme kebebasan (kemerdekaan) bangsa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah semua orang atau pemimpin besar di bumi ini, maka orang tersebut pada awalnya selalu mempunyai idealismenya sendiri yang pada akhirnya menghantarkannya kepada kesuksesan. Atau mungkin jika ingin menggunakan pembuktian terbalik: coba anda carilah pemimpin atau orang besar dunia yang tidak punya idealisme, itupun kalau anda bisa menemukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme adalah sumber <strong>perubahan</strong>. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=368&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa sih yang Disebut Kiri Itu?</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 23:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Kiri, adalah jika orang berdiri menghadap ke Timur maka di sebelah kirinya adalah utara. Suka atau tidak suka. Dan di sebelah kanannya adalah selatan, juga suka atau tidak suka. Di Amerika, yang disebut kiri atau left berarti “The individuals and group who advocate the adoption of sometimes extreme messure in order to achieve the equality, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Kiri, adalah jika orang berdiri menghadap ke Timur maka di sebelah kirinya adalah utara. Suka atau tidak suka. Dan di sebelah kanannya adalah selatan, juga suka atau tidak suka. Di Amerika, yang disebut kiri atau <em>left </em>berarti <em>“The individuals and group who advocate the adoption of sometimes extreme messure in order to achieve the equality, freedom, and well-being of the citizens of a state”. </em>(Perorangan atau kelompok yang membenarkan dipakainya sewaktu-waktu tindakan ekstrim untuk mencapai persamaan, kemerdekaan, dan kesejahteraan warga negara dari suatu negara). Dan berarti juga <em>“The opinion of those advocating such messures as opposed to conservative opinion”</em>. Jadi ringkasnya “kiri” itu kebalikan dari “konservatif”.</div>
<div style="text-align: justify;"><span id="more-359"></span></div>
<div style="text-align: justify;">
<div>Dahulu ketika kita dijajah, kaum kolonial Belanda mengonotasikan bahwa seseorang yang berpeci itu adalah “kiri” alias penentang pemerintah kolonial Belanda. Barangkali juga ada benarnya, sebab Alimin tokoh PKI yang memberontak tahun 1926 memakai peci, Soekarno yang dirikan PNI di tahun 1927 dan bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda, juga memakai peci.</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Terjadilah suatu peristiwa di Sekolah Menengah Umum yang ketika itu masih disebut AMS <em>(Algemeene Midelbare School) </em>di Jogja. Seorang murid sekolah itu memasuki kelas memakai peci di kepalanya. Begitu dia duduk, gurunya yang Belanda itu menghardik: <em>“Der af of deruit”</em>. Artinya: “tanggalkan atau keluar”. Sudah tentu yang dimaksud adalah peci di kepala si murid. Dengan tenang si murid berdiri dan melenggang ke luar kelas. Murid itu bernama Moh. Yamin.</p>
<p>Sekitar 80 tahun yang lalu, Sarekat Islam dengan pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, dalam suatu kongresnya melahirkan keputusan: “Berjuang melawan kapitalisme yang zalim”, dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto… memakai peci alias kopiah. Maka di mata Belanda kolonial, berpeci berarti kiri.</p>
<p>Dari kenyataan tersebut di atas, terbukti yang disebut kiri itu adalah pihak yang tidak betah pada keadaan yang berlangsung dan menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik. “Kehendak untuk menjadi lebih baik”, setiap orang bernalar sehat tidak akan mempersalahkannya.</p>
<p>Dan manakala si kiri itu naik ke pentas kekuasaan, manakala dia tidak melanjutkan kekiriannya, untuk senantiasa dengan sungguh mengupayakan perbaikan-perbaikan untuk lebih baik dari yang sudah dicapai, maka ia akan terperosok menjadi “kanan” dan kekananannya itu akan melahirkan “kiri” baru yang lebih baik, lebih arif, dan lebih santun dari yang sebelumnya.</p>
<p>Jika ada yang berpikir, bahwa “kiri” dan “kanan” itu bisa dipersatukan, atau disejajarkan, sungguh mengherankan. “Kiri” dalam arti yang menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik, adalah progresif. Sedangkan “kanan” yang menolak perubahan itu dan menghendaki tetap pada keadaan yang berlaku dan berlangsung, dengan segala perangkat legalnya sekalipun, akan menjadi “konservatif”, dan lambat laun ditinggalkan oleh kesadaran yang dari hari ke hari senantiasa bertambah maju.</p>
<p>Akan halnya orang yang merasa bisa mempersatukan “kiri” dan “kanan” apalagi dengan gagah-gagahan, sungguh patut dikasihani (<em>“kasiaaan deh lu…,”</em> kata ABG zaman sekarang). Sebab yang akan terjadi, kiri dan kanan melangkah bersama, begitu juga tangan kiri dan tangan kanan dua-duanya melonjor ke depan. Jalannya melompat-lompat. Itulah “pocong” namanya.</p>
<p>Yang terjadi sejak ribuan tahun ialah “kanan” digantikan oleh “kiri” dan pada waktu si “kiri” yang menggantikan itu terpeleset menjadi “kanan”, lahirlah “kiri” yang baru.</p>
<p>Kedua-duanya punya eksistensi, perbedaannya ialah yang dominan dan yang belum dominan. Itulah proses kelangsungan. Tanpa itu, Monarki absolut tidak akan digantikan oleh Demokrasi. Tanpa itu, piringan hitam tak akan digantikan pita kaset, dan pita kaset oleh kepingan VCD, lalu maju lagi ke MP3 dan DVD. Kapal layar tak akan digantikan oleh kapal bermesin. Dari yang menuju kematian, lahirlah kehidupan. Itulah adat dunia, siapapun tak kuasa menyanggahnya.</p>
<p>Nyatanya, keberadaan “kiri” bermanfaat untuk kehidupan kita, sebab “kiri” menghendaki yang lebih baik daripada yang sedang berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://rumahkiri.net/diskursus/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu" target="_blank"><strong>RUMAHKIRI</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=359&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Virtual University”, Fatamorgana Pendidikan ?</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 17:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan hape dan ratusan notebook dibagikan  ke mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta. Trend seperti itu juga sudah diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia.. Hape- walaupun tidak high specs- dan notebok tersebut digunakan untuk mengakses informasi akademik dan media pembelajaran elektronik. Sekali klik semua terpampang. Sekali pijit, jadwal kuliah pun terpajang. Sekali login, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117410" title="1309687977256004103" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309687977256004103_300x281.80147058824.jpg" alt="1309687977256004103" width="300" height="281.80147058824" />Ribuan<em> hape</em> dan ratusan <em>notebook</em> dibagikan  ke mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta. <em>Trend</em> seperti itu juga sudah diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia..<em> Hape- </em>walaupun tidak <em>high specs</em>- dan notebok tersebut digunakan untuk mengakses informasi akademik dan media pembelajaran elektronik. Sekali <em>klik</em> semua terpampang. Sekali pijit, jadwal kuliah pun terpajang. Sekali <em>login</em>, semua materi pembelajaran sudah terpajang. Sekarang tidak ada lagi papan pengumuman, <em>mading</em>, atau tempelan kertas di kaca-kaca. <em>Fotocopy</em> materi dosen sudah jarang. Tinggal <em>download</em> di website dosen, Tinggal <em>ngakses</em> di <em>virtual-class</em>. Atau <em>copy e-book </em>yang tersedia gratis. “<em>Education in Your Hand</em>“, begitulah <em>tagline</em> yang dicoba diusung. Seolah dunia ada dalam genggaman. Bahkan, genggaman itu bisa dibungkus slogan atau kampanye <em>Stop Global Warming</em>. Tidak perlu menyoal paradoks <em>green computing</em> dengan ekploitasi energi dan sampah elektronik dari <em>gadget</em>.  Apakah program ini efektif? Jangan-jangan ini sekedar <a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/05/31/untung-rugi-bergaya-di-kelas-maya/" target="_blank">bergaya di dunia maya</a>. Terperdaya muslihat pasar penyedia produk dan jasa di sektor telematika.<span id="more-350"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mudah membagikan ribuan <em>hape</em> dan ratusan <em>notebook</em>. Bukan hanya penyerahan fisiknya saja, namun harus ada sosialisasi atau <em>user education</em> yang intensif juga. Bukan sebatas bagaimana menggunakan <em>hape</em> dan <em>notebook</em> tersebut- yang pasti mahasiswa tidak perlu diajari lagi- namun, bagaimana aplikasi khusus yang sudah ditanam pada <em>hape</em> dan <em>notebook</em> tersebut bisa dipahami oleh mahasiswa. Ternyata, tidak semudah itu untuk menerapkan <em>e-education</em> yang digunakan untuk proses belajar-mengajar di perguruan tinggi. Banyak kendala dan resiko yang perlu dipertimbangkan. Godaan dunia maya bisa menjadi penjara atau malah sorga dunia. <em>Klik </em>sana, <em>klik</em> sini. <em>Posting</em> di sana, <em>posting</em> di sini. Bebas dan merdeka tapi kadang merasa sendiri dan sunyi di tengah keramaian. Semua tumplek di sana. <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/26/kopi-dan-pasta-pahit-di-dunia-kampus/" target="_blank">Pahit dan manisnya, kecut dan lezatnya seolah kopi dan pasta</a>. Bisa dicicipi sedikit, menjadi candu, atau justru anti. Itu adalah pilihan. Dan pilihan itu harus dideskripsikan, disosialisasikan, dan diinternalisasikan. Selanjutnya, semua terserah mereka. <em>Toh</em>, genggaman dan jari-jari itu dikendalikan dirinya. Program <em>user education</em> inilah yang mulai digalakkan oleh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ada Kepalsuan</strong></em><strong><em></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117411" title="13096883931416721967" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096883931416721967_300x413.83647798742.jpg" alt="13096883931416721967" width="307" height="413" />Salah satu isu besar dala  dunia maya adalah kepercayaan. Salah satu wujudnya adalah masalah otentifikasi. Tidak semua orang mau begitu <em>terang benderang</em> di dunia maya, termasuk pengungkapan identitas aslinya. Kadang kita juga menebak-nebak apakah gaya dan substansi kontennya bisa dijadikan pijakan untuk menduga-duga profil si pembuatnya. Tidak sedikit juga orang bersembunyi dibalik anonim atau nama alias di dunia maya. Dengan begitu, mereka bisa bebas lepas menuangkan ide atau informasi. Seolah identitas atau profesi yang sebenarnya menjadi penghalang untuk kebebasan. Dunia maya menjadi tempat persembunyian jati diri, namun tetap bisa berpetualang dan bersuara lantang lewat eksistensinya di dunia maya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin setiap orang mempunyai wujud elektroniknya, namun apakah itu <em>kloningan</em> atau <em>copy-paste</em> dari fisik ragawinya? Entahlah. Namun di kampusku, penyedia dan penulis konten harus terverifikasi sebagai mahasiswa. Bukan hanya sekedar wujud akuntabilitas publik atau implementasi kebijakan <em>open-content</em> untuk penyebaran konten kepada masyaralat saja, tapi perlu kejelasan siapa yang perlu diberi insentif atau apresiasi terhadap aktivitasnya di dunia maya. Apresiasi berupa nilai atau kelulusan mata kuliah yang memanfaatkan <a href="http://media.kompasiana.com/new-media/2011/06/19/student-journalism-lulus-kuliah-dengan-go-blog/" target="_blank"><em>student journalism</em></a> perlu kejelasan identitas mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Menutup Jurang</strong></em><em><strong></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua orang mempunyai kemampuan dan hak akses yang sama dalam pemanfaatan konten digital. Ada disparitas kemampuan, ada jurang koneksi dan akses informasi, dan ada kesenjangan kesempatan bergaya di dunia maya. Itu bisa antar kelompok, antar wilayah, antar jender, atau antar kelompok kepentingan, bahkan antar orang kaya dan miskin. Seolah, <a href="http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/05/22/dunia-maya-hanya-untuk-orang-kaya/" target="_blank">dunia maya hanya untuk orang kaya</a>. Kita sering menyebutnya dengan <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/03/29/new-economy-dan-kesenjangan-digital-1/" target="_blank"><em>digital divide</em></a>. Ketika sebagian orang atau wilayah tidak bisa hadir di dunia maya, dunia seolah tidak hadir di sana. Mereka seolah terisolir dari keterbukaan. Mereka seolah tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai berita dan perkembangan terkini seolah barang mahal yang tidak terjangkau. Terlepas mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak menganggapnya masalah, para penikmat dunia maya bisa saja mengatakan mereka tertinggal. Seperti t<a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/04/03/terpuruk-di-dunia-digital/" target="_blank">erpuruk di dunia digital</a>.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117448" title="1309710996799971359" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309710996799971359_300x196.89578713969.jpg" alt="1309710996799971359" width="300" height="196.89578713969" />Kesenjangan digital menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemerataan distribusi konten digital, termasuk konten pembelajaran di universitas. Jika kesenjangan digital masih hadir di universitas maya atau kelas maya, maka ada perbedaan peluang untuk berhasil. Tidak ada azas pemerataan karena perbedaan akses dan konektivitas, serta tingkat melek komputer atau internet yang berbeda-beda.  Jika kendala itu tidak ditangani dengan baik, maka ada tuntutan keadilan, ada komplain dan ketidakpuasaan, atau ada kegagalan pembelajaran. Jadi pastikan infrastruktur pendukung bisa mengurangi perbedaan itu. Yakinkan bahwa navigasi, tata letak, atau fitur layanan bisa mudah diakses dan dibaca oleh semuanya, setidaknya mayoritas. Namun, kaum minoritas harus tetap dilayani dan diperhatikan, khususnya untuk mengurangi disparitas kemampuan dan kemauan dalam memanfaatkan dunia maya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Banjir Menyapu Rak Buku</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117412" title="13096884781013450000" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096884781013450000_300x427.96208530806.jpg" alt="13096884781013450000" width="300" height="427.96208530806" /> Ledakan atau banjir informasi menjadi pertanyaan besar di masa depan. Seberapa kuat dan besarnya sebuah gudang penyimpanan konten elektronik bisa tetap menyimpannya dengan rapi dan awet, perlu dipertimbangkan matang oleh perguruan tinggi. Itu terjadi di dunia maya yang tanpa batas. Semua konten tersimpan dalam bentuk <em>bit</em>, yang pada dasarnya hanyalah rangkaian angka 0 dan 1, yang dapat memunculkan kombinasi yang bermakna membentuk informasi. Informasi menjadi barang digital yang diproduksi, didistribusikan, bahkan diperjual-belikan di dunia maya. <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/04/07/new-economy-digital-goods-vs-physical-goods/" target="_blank">Barang digital tersebut menjadi barang ekonomi</a>, yang juga ditawarkan di perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks terbatas-yaitu dunia pendidikan di dunia maya- puluhan ribu postingan dari mahasiswa bisa terpapar di internet. Ribuan modul <em>virtual-class</em> atau <em>e-learning</em> mungkin tersaji di papan digital. Ketika mengaksesnya, kita seolah tersesat di hutan belantara informasi. Analoginya, banyak buah di pohon yang begitu menggoda, namun ternyata berasa pahit, bahkan seperti racun. Kita pun bisa salah menduga ketika ternyata ada mutiara yang seperti terendam di comberan. Suatu waktu, kita pun tertarik dengan kerumunan dan keramaian di sebuah tulisan. Berebut melontarkan pujian dan sapaan. Semua merasa sudah memperoleh pembelajaran di sana. Atau, bisa juga sunyi sendiri menikmati tulisan lain. Memberikan komentar jujur, atau sekedar memberikan hiburan dan dorongan semangat untuk tetap menulis. Semua punya motif dan inisiatif yang berbeda-beda. Ada yang rajin menulis, ada yang hanya membaca. Ada yang berperan sebagai <em>uploader</em>, namun tidak sedikit yang tergolong <a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/03/28/dowloader-society/" target="_blank"><em>downloader society</em></a>. Muara akhir dari banjir informasi tersebut adalah sepi dan kosongnya rak buku di perguruan tinggi. Ini menjadi tantangan terbesar bagi dosen dan mahasiswa agar serbuan konten digital sejatinya tidak menggantikan 100% fungsi pendidik dan pembelajar</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Reproduksi  Usang</em><em></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Barang digital memang awet, bahkan biaya reproduksinya pun murah. Orang ekonomi pun mengatakan bahwa biaya marginal barang digital mendekati nol- sebuah pertimbangan ekonomi yang logis dan ekonomis bagi para pembajak atau para plagiat. Para produsen barang digital yang telah mengeluarkan biaya riset dan pengembangan pun mencak-mencak karena begitu mudahnya barang digital di-c<em>opy paste</em> atau digandakan, termasuk yang sudah berpikir keras membuat tulisan. Dalam konteks konten pembelajaran pun sama saja. Biaya membuat materi pembeljaran online tergolong tinggi. Tidak dalam arti finansial, namun dilihat dari usaha dan kerja keras yang harus dikelurkan untuk membuat sebuah konten. Minimal sebagai hasil olah pikir atau renungan yang memeras otak.  Jadi tidak setiap saat pencipta konten bisa memproduksi konten baru. Jika jeda produksinya relatif lama maka konten pembelajaran pun bisa tidak berkelanjutan. Tidak ada upaya merespon komentar, atau menjawab pertanyaan dari khalayak.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117420" title="1309695964118733061" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309695964118733061_300x300.jpg" alt="1309695964118733061" width="300" height="300" />Konteks reproduksi tidak hanya diartikan sebagai kopi dan pasta yang cederung fisik tulisan, namun bisa juga diartikan reproduksi ide dan gagasan yang disampaikan turun temurun. Ilmu pengetahuan yang mengalir membentuk <em>road map</em> yang mematri para penemu dan pakar sepanjang aliran itu. Begitulah repoduksi pengetahuan dan wawasan dari guru ke murid, atau dari dosen ke mahasiswa, itupun kalau pengajaran bersifat searah, atau tidak mengakui bahwa guru dan dosen pun bisa sama-sama belajar bersama siswa dan mahasiswa. Aliran produksi atau reporduksi itu bisa terganjal dengan distorsi, atau penyelewenangan makna yang sesungguhnya dari produsen tulisan. <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/27/bias-di-kelas-itu-biasa/" target="_blank">Makanya, bias di kelas itu biasa</a>. Aspek produksi dan reproduksi tersebut bisa semakin lancar, bahkan mengalir deras di dunia maya. Pembelajar pun dijejali dengan produk-produk pengetahuan bak menu makanan yang siap disantap, namun tergantung selera dan tingkat kelaparan mahasiswanya. Jika proses produksi atau reproduksi itu berhenti, maka kampus maya akan sepi dan ditinggalkan. Kampus maya pun akhirnya mati suri. Menjelang ajal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Konflik dan Ancaman</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan ada di dunia maya. Kebermanfaatan pun tidak bisa dipungkiri telah hadir. Namun, sampah-sampah elektronik berupa tulisan pun bisa berserakan di sana. Berguna atau tidak bergunanya konten, masih bisa diperdebatkan. Namun kenyataannya, konten bisa dikerubuti, sepi pengunjung, bahkan menjadi sarana adu mulut yang tertuliskan. Pro dan kontra. Suka dan tidak suka terhadap konten menjadi bahan perdebatan, bahkan konflik yang bermuara di pengadilan di dunia nyata. Konten itu benar, konten itu salah. Konten ini baik, konten itu buruk. Terlepas dari debat benar dan salah, diskusi baik dan buruk, konten di dunia maya menjadi kajian etika dan estetika. Bahkan sudah menjadi obyek dan kajian peraturan dan perundangan. Dengan masuknya aspek hukum tersebut, sebuah konten atau transaksi digital sudah menjadi obyek hukum yang bisa dinyatakan benar atau salah.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117449" title="13097110431504331527" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13097110431504331527_300x198.64314789688.jpg" alt="13097110431504331527" width="300" height="198.64314789688" />Konflik dan perseteruan pun bisa terjadi demi mempertahankan benar atau salahnya ide, gagasan, pendapat, atau hasil pemikiran atau produk mental dari para penulis dan pembacanya. Saling menyerang bisa terjadi, yang tadinya hanya perdebatan biasa saja. Upaya penggalangan kubu pro dan kontra pun bisa terjadi. Dan akhirnya, pengadilan harus memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketika kebenaran dipertanyakan, maka perguruan tinggi termasuk garda terdepan yang diharapkan oleh masyarakat. Atas nama kebebasan akademik dan otonomi keilmuan, kampus pun- seharusnya- menjadi sebuah produsen informasi atau konten yang dapat dipertanggungjawabkan. Aspek etika, estetika, dan legalitas konten di dunia maya harus menjadi harga mati yang harus dipertahankan mati-matian oleh perguruan tinggi yang mencoba menawarkan <em>Virtual University</em>. Jika tidak, kampus pun bak menara gading yang terbuat dari benteng pasir yang dibuat anak-anak di tepi pantai. Begitu air pasang atau ombak datang, benteng pasir itu pun hancur tak berbekas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Asyik Sendiri</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117413" title="13096885161941266392" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096885161941266392_300x219.86577181208.jpg" alt="13096885161941266392" width="300" height="219.86577181208" />Sering ada ledekan kepada penyuka gadget. Mereka sering disebut-maaf, seperti orang “gila”. Mereka seperti asyik dengan diri sendiri dengan bermodalkan HP atau <em>Notebook</em>. Waktu pun tersita untuk menggauli gadget yang seperti tidak bisa lepas dari tangan.  Dunia maya seolah mempunyai magnet yang bisa menyedot orang untuk terpenjara di dalamnya. Banyak tragedi atau kasus tentang dampak negatif dari dunia digital. Kehidupan sosial yang sesungguhnya seperti terisolasi. Dunia nyata dan dunia maya bisa saja tidak linear, bahkan seperti dua dunia yang berbeda. Memang tidak semuanya begitu, tapi selalu ada kasu pengecualian.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Silaturahmi </strong><strong>Semu</strong></em><em><strong></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hanya orang ajaib dan luar biasa yang bisa <em>manteng</em> 24 jam di dunia maya. Tapi orang ajaib tersebut semakin bermunculan di tengah maraknya kemajuan teknologi. Orang lebih banyak berdialog lewat pesan-pesan <em>offline</em> yang membanjiri <em>dashboard</em> layanan internet. Sapa dan gurauan pun hanya terbaca pada dialog tertulis. Namun dengan gadget yang semakin canggih, setiap langkah kita bisa memonitor lawan bicara di dunia, bahkan debat dengan musuh pemikiran pun bisa terus dipantau dalam genggaman tangan. Namun, ketika semua orang menyapa serentak dalam waktu yang sama, walaupun secara fisik entah ada dimana, begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk itu. Pilihan mode <em>synchronous</em> bisa menjadi jerat atau belenggu yang bisa melupakan eksistensi kita di dunia maya. Itulah tantangan lain yang harus dihadapi oleh pendidik yang memanfaatkan dunia internet dalam proses pembelajaran. Harus hadir terus, atau sesekali saja berkunjung untuk melihat aktivitas mahasiswanya di dunia maya. Jadi, pilihan mode <em>synchronous</em> atau <em>asynchronous</em> dalam model <em>e-learning</em> pun harus dipertimbangkan dengan tepat dan bijak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Berguru atau Diburu</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117414" title="1309688764389087905" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309688764389087905_300x193.6170212766.jpg" alt="1309688764389087905" width="300" height="193.6170212766" />Banyak perdebatan dan teori yang berseberangan tentang bagaimana sebaiknya manusia belajar. Otodidak pun menjadi salah satu kiblat dalam belajar yang seolah tergantung atau semaunya sendiri untuk belajar. Namun tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kemauan yang sama untuk sekedar belajar sendiri. Di sisi lain, konten yang bertebaran bak air bah di dunia maya, tidak otomatis bisa dicerna oleh semua orang. Seolah ada sekat atau segmen yang berbeda-beda untuk setiap konten. Sangat sulit membuat sebuah konten yang bisa dinikmati segala umur, semua profesi, segenap kelompok, dan seluruh pembaca tanpa melihat perbedaan di antara mereka. Untuk maksud pembelajaran yang diharapkan dapat ditangkap oleh pembaca, setiap tulisan mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menimbulkan kesan kuat yang akhirnya menempel menjadi sebuah pengetahuan. Proses penempelan informasi dari luar ke dalam otak manusia memang rumit. Konten di dunia maya belum tentu sama dan sebangun dalam otak pembaca dengan pemikiran dari pembuat konten. Aspek pedagogi pun tetap harus dipertimbangkan dalam perancangan dan implementasi <em>Virtual University</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika berguru ilmu dan wawasan di kampus maya ternyata gagal, maka pendidik dan pembelajar hanyalah korban dan sasaran dari gaya hidup dan <em>trend</em> teknologi. Semuanya hanyalah konsumen dunia maya yang tidak bisa dimaknainya sebagai sebuah media yang masih memungkinkan untuk dijadikan media pembelajaran. Niat berguru pun berbalik arah menjadi diburu produk digital dengan segala perangkat canggih yang begitu mudah untuk digenggam, disentuh dan dipijit dengan ujung-ujung jari. Dan itu saat ini sedang terjadi di negeri kita ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>*****</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang ditawarkan dunia maya bisa berujung pada ketergantungan terhadapnya. Seolah kerinduan tidak bisa disingkirkan ketika untuk sesaat kita terpisah dari dunia internet. Dunia maya yang begitu mudahnya diakses dari gadget model jadul sampai gaul, menjadi penggoda luar biasa di jaman modern ini. Seorang yang terisolir secara fisik, atau secara psikologis merasa terpinggirkan, dapat ditemani oleh dunia maya yang begitu setia menawarkan segala bentuk hiburan dan pertemanan. Semoga <em>Virtual University</em> tidak menjadi perangkap baru ketika dunia maya bersinergi dengan dunia pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seolah ada tapi tiada. Seolah mendekat tapi tak bisa didekap.  Mungkinkah <em>Virtual University</em> terwujud nyata dan bermakna di Indonesia ?</p>
<p style="text-align: justify;">—-</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan:</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar-Gambar ilustrasi diambil dari file presentasi Dr Jamil Salmi pada Seminar “<a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/08/mengejar-world-class-university-pakai-ojek/"><strong>Tertiary Education” in the 21st Century: Opportunities and Challenges</strong></a>” pada tanggal 8 Juni 2011 di Kementrian Pendidikan Nasional.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=350&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis adalah Proses Mengasah Kepekaan</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 17:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi penulis membuat setiap kita secara tak langsung menjadi pengamat kehidupan. Pemerhati lebih tepatnya. Terhadap hal apapun yang terjadi disekitar kita. Menulis membuat orang menjadi lebih peka dan peduli akan sesuatu. Kejadian dan peristiwa apapun terekam dengan baik dalam memori. Dengan menulis pula kita  terlatih untuk pandai menangkap momen, mengolah kata, mengolah rasa dan  mengolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menjadi penulis membuat setiap kita secara tak langsung menjadi pengamat kehidupan. Pemerhati lebih tepatnya. Terhadap hal apapun yang terjadi disekitar kita. Menulis membuat orang menjadi lebih peka dan peduli akan sesuatu. Kejadian dan peristiwa apapun terekam dengan baik dalam memori. Dengan menulis pula kita  terlatih untuk pandai menangkap momen, mengolah kata, mengolah rasa dan  mengolah makna.<span id="more-343"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian biasa bukan tak mungkin bisa menjadi sangat luar biasa ketika dituangkan begitu apik dalam sebuah tulisan. Kesedihan bisa digambarkan dengan begitu dramatis, hingga siapapun yang membacanya bisa ikut terharu, seolah mengalami sendiri. Begitu pula saat ada kelucuan, boleh jadi tulisan yang dibuat bisa jauh lebih lucu dari kejadian yang sesungguhnya, hingga mampu membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Demikian dahsyatnya daya pikat sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun awalnya tak terlalu menyadari hal ini. Sampai suatu saat, sambil bercanda teman-teman meledek saya, saat kami bertemu dalam sebuah kesempatan. Ketika teman-teman saya asyik saling bercerita, saat itu saya hanya diam mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan tersenyum. Tentu saja saya sibuk menyimak pengalaman seru yang mereka ceritakan. Tiba-tiba tanpa saya duga seorang teman saya nyeletuk. Eh…hati-hati lho, nanti ada yang nulis cerita kita, jangan-jangan nanti dibikin buku lagi…sambil ngelirik saya yang sejak tadi diam saja. Heee…tiba-tiba saya jadi tertuduh diantara mereka. Seolah mereka dapat membaca pikiran saya. Sayapun menanggapi, ehhh….kok  pada tau siii???  Ya iyalah…sahut mereka kompak… lo kan sekarang ga bisa denger cerita, dikit-dikit ditulis, ga beda deh ma intel…hahaha… Berderai tawa kami bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya tak ada yang salah dengan candaan mereka. Benar adanya. Rajin menulis membuat semua hal di sekeliling kita adalah sumber inspirasi. Kalau orang lain bisa melewatkan momen begitu saja. Tentu tidak begitu bagi kita yang terbiasa menulis. Benar pula kata teman saya, seperti kerja seorang intel, telinga dan  mata kita siaga melihat dan mendengar apapun informasi berharga.</p>
<p style="text-align: justify;">Inspirasi dan bahan tulisan sesungguhnya terserak dimanapun. Hanya butuh kepekaan kita untuk menggalinya. Dengan menulis kepedulian kita akan sesuatu hal lebih terasah. Ketidakadilan. Penindasan. Kezhaliman. Kemiskinan. Kebahagiaan. Kesedihan. Tak terkecuali perasaan hati. Semua bisa diterjemahkan dalam uraian kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah hal positif yang bisa kita dapat dari menulis. Tumbuhnya kepedulian. Jiwa bisa menjadi sangat lembut, Sensor hati menjadi sangat sensitif, karena kepekaannya terasah dengan baik. Tidak dingin. Tidak apatis.  Sesungguhnya dengan menuliskan suatu peristiwa, apalagi bila itu tentang ketidakadilan ataupun sesuatu yang menginspirasi banyak orang, ini sudah merupakan sumbangsih. Kita sudah bergerak dan berbuat melalui kata dalam tulisan. Menyuarakan sesuatu. Tentu ini lebih baik dibanding hanya berdiam diri. Meski mungkin masih sebatas sumbangsih kecil. Tapi siapa yang tahu bila langkah kecil ini suatu saat bisa sampai pada cita-cita besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi bila disuarakan di media sosial semacam kompasiana. Bukan tak mungkin suara kecil kita terdengar. Gaungnya sampai kemana-mana. Tentu outputnya adalah tercipta perubahan. Yang bisa menjadi solusi dari permasalahan. Dan rasanya itu bukan lagi mimpi. Sudah banyak contohnya disini.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya tetaplah menulis. Suarakan apa yang tak pas dengan nurani kita. Dan tunggulah outputnya…</p>
<p style="text-align: justify;">Keep writing kawan…</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/11/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/" target="_blank"><strong>KOMPASIANA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=343&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/kebebasan-akademik-dan-otonomi-keilmuan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/kebebasan-akademik-dan-otonomi-keilmuan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 02:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering mendengar istilah “mimbar akademik” ketika mendengar diskusi, membaca tulisan atau menonton bincang-bincang seputar dunia pendidikan. Saya pun sering mendengar bahwa dunia kampus adalah salah satu corong atau sumber suara “kebenaran” yang dianggap “bersih” dan terbebas dari “kepentingan”. Netralitas IPTEKS dan posisi dunia pendidikan dalam pengembangan SDM menjadikan perguruan tinggi sebagai salah satu garda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sering mendengar istilah “mimbar akademik” ketika mendengar diskusi, membaca tulisan atau menonton bincang-bincang seputar dunia pendidikan. Saya pun sering mendengar bahwa dunia kampus adalah salah satu corong atau sumber suara “kebenaran” yang dianggap “bersih” dan terbebas dari “kepentingan”. Netralitas IPTEKS dan posisi dunia pendidikan dalam pengembangan SDM menjadikan perguruan tinggi sebagai salah satu garda terdepan untuk menyuarakan asa atau keprihatinan ketika menyikapi perkembangan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Salah satu episode tentang suara kampus adalah tentang upaya menjaga 4 pilar utama berbangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.<span id="more-273"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah suara kampus selalu dianggap benar? Ada ungkapan di kalangan masyarakat, “Akademisi bisa salah, tapi tidak boleh bohong”. Saya kali ini tidak akan berdebat tentang arti suara kebenaran dari dunia pendidikan, atau pertanyaan lainnya, “Apakah akademisi, termasuk dosen, bisa bicara bebas sebebasbebasnaya?”. Bicara soal kebebasan selalu ada pro dan kontra. Setiap orang atau pihak mempunyai batas-batas yang berbeda dalam mengartikan kebebasan. Kita pun sering mendengar pepatah, “Bebas tapibertanggung jawab”, atau “Kewajiban seseorang selalu bersinggungan dengan hak orang lain”. Kita pun selalu mendengar bahwa kita sedang dalam era kebebasan yang kebablasan. Tapi benarkah?</p>
<p style="text-align: justify;">Kebebasan tergantung dari kematangan masyarakat dalam menyikapi perbedaan. Keberagaman masyarakat, termasuk kalangan akademisi yang notabene harusnya relatif homogen, berpotensi menimbulkan persepsi dan opini yang berbeda dalam mengartikan dan mengartikulasikan perbedaan. Mungkin jika dilihat dari aspek demografi dan psikografi, masyarakat akademisi mungkin hetergon, namun jika bersentuhan dengan soal pemikiran dan keyakinan, kita bisa berbeda. Namun yang lebih penting itu adalah bagaimana menyikapi perbedaan tersebut dengan cara ilmiah. Itulah esensi dari perdebatan atau diskusi ilmiah yang menjadi konvensi di perguruan tinggi. Namun masalahnya, kalangan akademisi tersebut juga merupakan anggota masyarakat juga. Artinya, pembicaraan di kalangan masyarakat ilmiah atau akademisi tidak melulu soal ilmiah. Ada tanggung jawab sosial yang diemban oleh perguruan tinggi dengan perkembangan masyarakat. Atau ada aspek pengabdian kepada masyarakat yang pengejawantahannya tidak harus melalui kegiatan ilmiah. Jika peran tersebut tidak terlaksanakan, akhirnya kita sering mendengar tuduhan klasik dan klise untuk perguruan tinggi yang tidak peduli dengan masyarakat dan bangsa, yaitu “Bak menara Gading”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini saya juga tidak akan memperdenatkan tentang arti kebebasan di dunia akademisi. Saya hanya mencoba mengulas secara singkat tentang definisi kebebasan di dunia akademik menurut peraturan dan perundangan. Dua Peraturan Pemerintah (PP) yang dikutip disini yaitu (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dan (2) PP Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen. Mengenai kebebasan akademik dan Otonomi Keilmuan, Saya mengambil dua pasal- yaitu pasal 91 dan 92 dari PP yang pertama dan dari PP yang kedua, saya mengutip pengantar pada bagian penjelasan, serta pasal 28.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PP Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kualifikasi dosen diatur juga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dosen memiliki kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. Kebebasan akademik merupakan kebebasan yang dimiliki dosen untuk melaksanakan kegiatan akademik yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan/atau olahraga secara mandiri dan bertanggung jawab. Kebebasan mimbar akademik berlaku sebagai bagian dari kebebasan akademik yang memungkinkan dosen menyampaikan pikiran dan pendapat akademik dalam forum akademik yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan tinggi, sesuai dengan kaidah keilmuan, norma, dan nilai, serta dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Otonomi keilmuan merupakan kemandirian dan kebebasan suatu cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan/atau olahraga yang melekat pada kekhasan atau keunikan cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan/atau olahraga dalam mengungkap, menemukan, dan/atau mempertahankan kebenaran menurut paradigma keilmuannya untuk menjamin pertumbuhan ilmu secara berkelanjutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pimpinan perguruan tinggi wajib mengupayakan dan menjamin agar setiap anggota sivitas akademika melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dan dilandasi oleh etika dan norma/kaidah keilmuan. Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik, setiap anggota sivitas akademika: (a).mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan; (b) mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara, dan kemanusiaan; (c) bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya, serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain; (d) melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai agama, nilai etika, dan kaidah akademik; dan € tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebebasan akademik dilaksanakan dalam upaya mendalami, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkualitas dan bertanggung jawab. Kebebasan mimbar akademik merupakan kebebasan setiap anggota sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik melalui kegiatan perkuliahan, ujian sidang, seminar, diskusi, simposium, ceramah, publikasi ilmiah, dan pertemuan ilmiah lain yang sesuai dengan caída keilmuan. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik: (a) merupakan tanggung jawab setiap anggota sivitas akademika yang terlibat; (b) menjadi tanggung jawab perguruan tinggi, atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi, apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya; dan (c) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dan dilandasi etika dan norma/kaidah keilmuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: (a) melindungi dan mempertahankan hak kekayaan intelektual; (b) melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami, hayati, sosial, dan budaya bangsa dan negara Indonesia; (c) menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia; dan (d) memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. Kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik dilaksanakan sesuai dengan otonomi perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pimpinan perguruan tinggi wajib mengupayakan dan menjamin agar setiap anggota sivitas akademika melaksanakan otonomi keilmuan secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan dilandasi etika dan norma/kaidah keilmuan. Otonomi keilmuan merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga yang bersangkutan, dalam menemukan, mengembangkan, mengungkapkan, dan/atau mempertahankan kebenaran menurut caída keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=273&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/kebebasan-akademik-dan-otonomi-keilmuan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Entrepreneurship dengan Teknopreneurship</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/perbedaan-entrepreneurship-dengan-teknopreneurship/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/perbedaan-entrepreneurship-dengan-teknopreneurship/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 16:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Saat membaca kata technopreneur (teknopreneur, id.), kemungkinan besar pikiran kita akan tertuju pada dua hal, teknologi dan entrepreneurship atau kewirausahaan. Ya, teknopreneur memang didefinisikan sebagai entrepreneur yang mengoptimalkan segenap potensi teknologi yang ada sebagai basis pengembangan bisnis yang dijalankannya. Namun, permasalahan mendasarnya adalah teknopreneur sendiri merupakan istilah yang masih asing di kalangan masyarakat Indonesia pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Saat membaca kata <em>technopreneur</em> (teknopreneur, id.), kemungkinan besar pikiran kita akan tertuju pada dua hal, teknologi dan <em>entrepreneurship</em> atau kewirausahaan. Ya, teknopreneur memang didefinisikan sebagai <em>entrepreneur</em> yang mengoptimalkan segenap potensi teknologi yang ada sebagai basis pengembangan bisnis yang dijalankannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, permasalahan mendasarnya adalah teknopreneur sendiri merupakan istilah yang masih asing di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kecuali bagi mereka yang terus mengikuti segenap perkembangan bisnis dunia. Selain itu, bagi mereka yang sudah mengenalnya pun masih ada yang salah kaprah memahaminya sebagai IT entrepreneur. <span style="font-size: x-small;">(Fathoni, 2007)</span><span id="more-264"></span><br />
<!--more--></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Teknopreneur terdapat pada bidang pertanian misalnya, berupa pembuatan peralatan pertanian, penggunaan tenaga binatang dalam mengolah lahan pertanian, pembuatan irigasi pertanian untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian. Lalu teknopreneur pada bidang industri, yang dahulu sering disebuat revolusi industri, menemukan alat-alat canggih yang dapat membantu peroses peroduksi. Alat-alat moderen mulai diproduksi massal seperti kendaraan otomotif, perumahan, retail dan lain-lain. Dan sekarang bisnis teknologi mulai digemari, contoh saja Bill Gate sebagai salah satu pendiri Microsoft.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Apa yang membuat teknopreneur berbeda dangan <em>entrepreneur</em>?, kata <em>entrepreneur</em> (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Perancis <em>entreprendre</em> yang sudah dikenal sejak abad ke-17 <em>The Concise Oxford French Dictionary</em> mengartikan <em>entrepreneur</em> sebagai <em>to undertake</em> (menjalankan, melakukan, berusaha), <em>to set about</em> (memulai, menentukan), <em>to begin</em> (memulai) dan <em>to attempt</em> (mencoba, berusaha). Kata entrepreneur atau wirausaha dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan dari kata wira (gagah, berani, perkasa) dan usaha (bisnis) sehingga istilah <em>entrepreneur</em> dapat diartikan sebagai orang yang berani atau perkasa dalam usaha/bisnis.<span style="font-size: x-small;">( Nasution, </span><span style="font-size: x-small;">Arman Hakim et al, 2007)</span></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" lang="fi-FI" align="justify">Entrepreneur adalah seorang innovator yang menggabungkan teknologi yang berbeda dan konsep-konsep bisnis untuk menghasilkan barang atau jasa baru yang mampu mengenali setiap kesempatan yang menguntungkan, menyusun strategi dan yang berhasil menerapkan ide-idenya. Entrepreneur bukanlah sekedar pedagang, namun bermakna jauh lebih dalam, yaitu berkenaan dengan mental manusia, rasa percaya diri, efisiensi, kreativitas, ketabahan, keuletan, kesungguhan dan moralitas dalam menjalankan usaha mandiri.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Ada sedikit perbedaan antara <em>e</em><em>ntrepreneur dengan teknopreneur, </em>meskipun esensinya sama. Seseorang bisa disebut <em>“Entrepreneur Sukses”</em> apabila secara ekonomi ia mampu memberikan nilai tambah ekonomis bagi komoditas yang dijual sehingga mampu menciptakan kesejahteraan bagi dirinya.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Dengan demikian, mereka yang digolongkan sebagai <em>entrepreneur</em> sukses adalah yang termasuk pensuplay produk bagi kebutuhan pasar pemerintah (supplier pemerintah), pensuplay kebutuhan pasar masyarakat (pedagang), ataupun pengusaha yang bergerak di sektor jasa dengan sifat persaingan pasar yang cenderung monopolistik hingga ke persaingan bebas (komoditi).</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" align="justify">Berbeda dengan <em>e</em><em>ntrepreneur</em> diatas, <em>teknopreneur</em> dibangun berdasarkan keahlian yang berbasis pada pendidikan dan pelatihan yang didapatkannya di bangku perkuliahan ataupun dari percobaan. Mereka menggunakan teknologi sebagai unsur utama pengembangan produk suksesnya, bukan sekedar jaringan, lobi dan pemilihan pasar secara demografis. Mereka yang disebut teknopreneur adalah seorang “<em>Entrepreneur Modern</em>” yang berbasis teknologi. Inovasi dan kreativitas sangat mendominasi mereka untuk menghasilkan produk yang unggulan sebagai dasar pembangunan ekonomi bangsa berbasis pengetahuan (<em>Knowledge Based Economic</em>).<span style="font-size: x-small;">( Nasution, </span><span style="font-size: x-small;">Arman Hakim et al, 2007)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: center;"><strong>Perbedaan Entrepreneur dan Teknopreneur</strong></p>
<table style="text-align: center;" width="584" border="1" cellspacing="0" cellpadding="7">
<colgroup>
<col width="76" />
<col width="154" />
<col width="142" />
<col width="154" /> </colgroup>
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="76"></td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Usaha Kecil</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;"><em>Entrepreneur</em></span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;"><em>Teknopreneur</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Motivasi</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Sumber hidup</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Tingkat keamanan</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Bekerja sendiri</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Ide khusus</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Personaliti pemilik</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Motivasi mendominasi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Ide dan konsep</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-E</span><span style="font-size: xx-small;">ksploitasi kesempatan</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Akumulasi kekayaan</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-P</span><span style="font-size: xx-small;">ola pikir revolusioner </span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Kompetisi dan resiko </span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-sukses dengan teknologi baru</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Finansial, nama harum</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Kepemilikan</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pendiri/rekan bisnis</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-saham pengendali</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Maksimalisasi keuntungan </span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penguasaan pasar</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="es-ES" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Saham kecil dari kue besar</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Nilai perusahaan terus bertambah</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Gaya Manajerial</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Trial dan error</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Lebih personal</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Orientasi local</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Menghindari resiko</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Arus kas stabil</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Mengikuti pengalaman</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-P</span><span style="font-size: xx-small;">rofesionalisme</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Resiko pada menejeman</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pengalaman terbatas</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Fleksibel</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Target strategi global</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Inovasi produk berkelanjutan</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Kepemimpinan</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Jalan hidup</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Hubungan baik</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Dengan contoh</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Kolaborasi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Kemenangan kecil</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Otoritas tinggi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Kekuatan lobi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Imbalan untuk kontribusi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-manajemen baru</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-</span><span style="font-size: xx-small;">Perjuangan kolektif</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Sukses masa depan visioner</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-M</span><span style="font-size: xx-small;">embagi kemajuan bisnis</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-M</span><span style="font-size: xx-small;">enghargai kontribusi dan pencapaian</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">R&amp;D dan I</span><span style="font-size: xx-small;">novasi</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-M</span><span style="font-size: xx-small;">empertahankan bisnis</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pemilik bertanggung jawab</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-S</span><span style="font-size: xx-small;">iklus waktu yang lama</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Akumulasi teknologi sangat kecil</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Bukan prioritas utama, kesulitas mendapatkan penelitian</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Mengandalkan franchise, lisensi</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Memimpin dalan riset dan inovasi, IT, biotek global</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Akses ke sumber teknologi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Bakat sangat tinggi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Kecepatan peluncuran produk ke pasar</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Outsourcing dan Jaringan K</span><span style="font-size: xx-small;">erja</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Sederhana</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Lobi bisnis langsung</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penting tapi sulit mendapatkan tenaga ahli</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-K</span><span style="font-size: xx-small;">emampuan umum</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-T</span><span style="font-size: xx-small;">idak selalu tersedia pada tingkat global</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pengembangan bersama tim outsourcing</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Banyak penawaran</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Science and technology park</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">Potensial </span><span style="font-size: xx-small;">Pertumbuhan</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Siklus ekonomi</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Stabil</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penetrasi nasional cepat, global lambat</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pemimpin pasar dalam waktu singkat dengan proteksi, monopoli, ologopoli</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pasar berubah dengan teknologi baru</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Akuisi teknologi baru</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Aliansi global untuk mempertahankan pertumbuhan</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="76">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: center;"><span style="font-size: xx-small;">Target P</span><span style="font-size: xx-small;">asar</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Lokal</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-</span><span style="font-size: xx-small;">Kompetisi dengan produk di pasar</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penekanan biaya</span></p>
</td>
<td width="142">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penguasaan pasar nasional</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Penetrasi pasar mamakan waktu lama</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Produk baru untuk pelanggan baru</span></p>
</td>
<td width="154">
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-Pasar global sejak awal</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-jaringan science and tech.park</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"><span style="font-size: xx-small;">-penekanan time to market, presale dan postsale.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: center;"><span style="font-size: xx-small;">-Mendidik konsumen teknologi baru </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: center;"><span style="font-size: x-small;">Sumber : Amir Sambodo,Makalah Seminar Pengembangan Teknopreneurship</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: center;"><span style="font-size: x-small;">Jakarta, 10 Agustus 2006</span></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Teknopreneur adalah pengusahan yang membangun bisnisnya berdasarkan keahliannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menghasilkan prosuk inovatif yang berguna tidak hanya bagi dirinya, tetapi bagi kesejahteraan bangsa dan negaranya.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Kisah Sukses Google: Kisah Sukses Kewirausahaan Berbasis Teknologi</strong></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><em>Mesin pencari situs di internet, yakni google, didirikan oleh Page dan Brian dari sebuah proyek penelitian tingkat doctoral di Universitas Stanford pada pertengahan 90-an. Tahun 1998, Page dan Brian berhasil meyakinkkan seorang investor untuk menanamkan modal USD 100 USD di tengah ketidakpercayaan investor ventura akan prospek internet. Tersedianya modal kepercayaan investor tersebut memungkinkan keduanya untuk mempu menarik modal kawan-kawan dan keluarganya hingga meraih modal USD 1 juta.</em></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><em>Bermodalkan kepercayaan tersebut, keduanya kemudian mengembangkan Google menjadi mesin pencari utama. Gaya manajemennya yang unik, yaitu main-main, santai tapi serius, mewarnai kantor pusat Googleplex yang didesain meriah, dengan aneka cemilan pada tempat strategis, sarana bilyar atau berenang, hingga beberapa karyawan yang hilir mudik dengan skateboard. </em><em>Konsep Page dan Brian adalah karyawan yang ceria dan bahagia. Disamping itu, mereka juga membagi opsi saham secara royal kepada karyawanya sehingga para karyawan seakan-akan bekerja untuk dirinya sendiri.</em></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><em>Manajemen gaya dua anak muda yang suka pesta dan makan enak tersebut ternyata </em><em>membentuk</em><em> Microsoft. </em><em>Banyak karyawan Microsoft yang berduyun-duyun berpindah ke Google sehingga seakan-akan Microsoft hanya menjadi biro tenaga kerja yang siap pakai untuk disalurkan ke Google. Hingga tahun 2006, lulusan terbaik universitas Mapan di As mematok Google sebagai pilihan teratas untuk meniti karier</em> (Sumber: David A Vise dan Mark Malseed, <em>Kisah sukses Google</em>, 2006).</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dalam teknopreneur peniruan semakin cepat terjadi, hal ini mengakibatkan siklus hidup produk semakin pendek. Produk berteknologi tinggi seperti elektronik yang dulunya baru bisa ditiru dalam 1 tahun, sekarang telah mampu ditiru hanya dalam 2 bulan bahkan hanya dalam beberapa minggu.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Oleh karena itu, kecepatan peluncuran inovasi produk menjadi kekuatan perusahaan yang menjadi market leadership. Di bidang elektronik kita mengenal Sony sebagai pelopor teknologi, sedangkan di bidang musik entertain kita mengenal Apple. Mengingat akan hal tersebut, pengembangan produk akan mengarah kepada <em>trend</em> penggunaan <em>“concurrent engineering”</em> untuk mempercepat peluncuran produk baru.</p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Pentingnya Inovasi dalam T</strong><strong>eknopreneurship.</strong></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Salah satu hal yang penting dalam teknopreneur ialah inovasi. Inovasi adalah pengenalan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Orang yang inovatif ditandai oleh kecendrungan untuk memperkenalkan gagasan, metode, peralatan prosedur dan produk/jasa baru yang lebih baik atau lebih bermanfaat.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Inovasi merupakan kelanjutan dari penemuan yaitu kegiatan kreatif untuk menciptakan suatu konsep baru untuk dengan manfaat dan kebutuhan yang baru. Dalam teknopreneur hasil inovasi ini kemudian diwujudkan dan diimplementasikan menjadi suatu bisnis yang sukses.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Inovasi adalah suatu fungsi khusus dari teknopreneurship, yakni kegiatan yang membawa sumber daya dengan kepasitas baru untuk menciptakan kesejahteraan. Inovasi merupakan pekerjaan terorganisasi, sistematis, rasional, bersifat konseptual dan perseptual. Hal terpenting dari suatu inovasi adalah gagasan, penerapan dan kegunaan. Dan yang terpenting adalah apakah seorang wirausahawan mampu untuk menangkap sebuah inovasi teknologi menjadi sebuah usaha/bisnis. Era baru kesuksesan bisnis saat ini adalah menjadi seorang teknopreneur.<strong>(</strong><em><strong>AIJ</strong></em><strong>)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" lang="sv-SE"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p style="margin-left: 0.95cm; text-indent: -0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Nasution, Arman Hakim, Noer Bustanul Arifin, Suef Mokh. (2007). “<em><span style="font-style: normal;">Entrepreneurship membangun spirit Teknopreneurship”, </span></em>Andi Yogyakarta.</p>
<p style="margin-left: 0.95cm; text-indent: -0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" lang="id-ID">http://azwan87.wordpress.com</p>
<p style="margin-left: 0.95cm; text-indent: -0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" lang="id-ID">http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=jbptitbpp-gdl-amirsambod-26433&amp;=Membangun%20Teknopreneur%20:%20Menyongsong%20Gelomban%20Baru%20Bisnis%20Teknologi</p>
<p style="margin-left: 0.95cm; text-indent: -0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" lang="id-ID">http://fathoni.wordpress.com/2007/02/15/teknopreneur-apaan-tuh/</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=264&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/perbedaan-entrepreneurship-dengan-teknopreneurship/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergerakan Mahasiswa 2.0 &#8211; Mahasiswa vs dirinya sendiri</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/pergerakan-mahasiswa-2-0-mahasiswa-vs-dirinya-sendiri/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/pergerakan-mahasiswa-2-0-mahasiswa-vs-dirinya-sendiri/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 16:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh! Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan! Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi! Adalah tiga kalimat pembuka dari diskusi yang saya sampaikan, Perlu kita pahami bersama bahwa masyarakat sudah sangat resistence dengan teriakan-teriakan idealis tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh! Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan! Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi!</p>
<p>Adalah tiga kalimat pembuka dari diskusi yang saya sampaikan,</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kita pahami bersama bahwa masyarakat sudah sangat resistence dengan teriakan-teriakan idealis tanpa pelaksanaan yang sering mahasiswa lakukan. Rakyat perlu teladan, rakyat perlu studi kasus, rakyat perlu success story, dan rakyat perlu know-how yang kita miliki. Dengan memanfaatkan berbagai solusi praktis dan nyata yang kita dapatkan dari bangku kuliah maupun pengalaman lapangan, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang semakin menumpuk. Pergerakan mahasiswa di era dunia datar harus lebih cerdas, lebih efektif, sehingga energi dan biaya yang kita miliki tidak mubadzir dan bisa dialokasikan untuk berbagai kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Teknologi informasi khususnya Internet dengan jumlah pengguna yang semakin besar di Indonesia bisa menjadi satu alternatif teknologi pendukung pergerakan mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-94"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sebenarnya tidak berbicara muluk-muluk, tapi hanya sharing pengalaman, era dunia datar membuat saya bergerak di dunia maya, menciptakan usaha kreatif, menjalin kerjasama dengan organisasi lain, membangun komunitas maya, melakukan image branding, maupun mempengaruhi orang lain lewat tulisan di blog. Semua tetap saya lakukan dengan tetap menjaga prestasi akademik, karena tugas utama mahasiswa adalah belajar dan prestasi akademik adalah salah satu alat ukur keberhasilan mahasiswa dalam belajar.</p>
<p>Materi diskusi saya bagi menjadi dua topik utama.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Modal dan strategi dasar      seperti apa yang harus dimiliki mahasiswa pergerakan. </strong>Modal dasar ini      penting, karena membuat teriakan kita, demo-demo kita, kritikan kita      terasa bermakna alias tidak hampa</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Apa yang harus dipersiapkan      mahasiswa menyambut era dunia datar. </strong>Internet adalah media yang sangat      efisien dan efektif untuk mendukung pergerakan mahasiswa. Terkadang      web-based influence tactics bisa lebih efektif dan efisien daripada      teriakan mahasiswa di jalan yang kadang memacetkan ruas-ruas jalan jakarta yang sudah      macet. Meskipun tentu saja pada timing yang lain, turun jalan juga adalah      alternatif strategi yang harus kita tempuh.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>PERGERAKAN MAHASISWA</strong></p>
<p>Modal dan strategi dasar yang harus dimiliki mahasiswa yang merasa menjadi aktifis pergerakan saya gambarkan di bawah.</p>
<p><img class="aligncenter" title="pergerakan mahasiswa 1" src="/images/1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jaga prestasi akademik, </strong><br />
Tugas utama mahasiswa adalah belajar, karena kedudukan di kampus membawa      implikasi bahwa mahasiswa adalah seorang akademisi, pemikir, bergerak      secara logis dan terukur. Kualitas intelektual kita terukur lewat      nilai-nilai dari mata kuliah yang kita ikuti. Ingat bahwa teriakan berantas      kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh!</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Madzab,</strong><br />
pemikiran dan strategi pergerakan mahasiswa juga harus dikuasai. Ini bisa      dilakukan dengan banyak membaca sejarah pergerakan mahasiswa di berbagai      negara lain, membaca biografi tokoh pergerakan mahasiswa dimanapun berada,      dan tentu saja yang sangat urgent adalah sejarah dan benang merah      pergerakan mahasiswa di Indonesia. Jangan sampai mahasiswa mengulang      kesalahan yang dilakukan mahasiswa di era sebelumnya.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Benih-benih entrepreneurship      harus dipupuk sejak masa mahasiswa</strong><br />
Mahasiswa harus berusaha mengatasi masalah finansial, karena kita harus      memberikan teladan dan success story kepada masyarakat berhubungan dengan      kemandirian finansial. Ingat, mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit      finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan.      Kemandirian organisasi dan personelnya dari “sumbangan” pihak lain yang      punya kepentingan, membuat independensi organisasi mahasiswa terjaga.      Membuat teriakan kita tetap lantang kepada siapapun tanpa pandang bulu.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Konsistensi perdjoeangan      adalah kekuatan karakter aktifis mahasiswa.</strong><br />
Pahami hakekat dari kritik-kritik yang kita lakukan. Logikanya mahasiswa      koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi. Think globally,      but act locally.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Public speaking dan      leadership</strong>,<br />
faktor penting dalam mempengaruhi orang, karena tidak mungkin mahasiswa      dengan leadership dan public speaking yang buruk mengkritik kepemimpinan      nasional.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Opini lewat tulisan</strong><br />
adalah faktor penting dalam teknik mempengaruhi ala mahasiswa. Kualitas      pikir seseorang diukur dari kualitas tulisan yang dihasilkan. Pergerakan      mahasiswa tak akan lepas dari masalah intelektualitas, daya pikir, daya      kreatif dan perilaku berbasis otak yang lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>PERGERAKAN MAHASISWA 2.0</strong></p>
<p>Modal pergerakan mahasiswa diatas harus dikuasai, karena itu adalah modal minimal. Meskipun itu semua tidak cukup ketika kita bergerak di era dunia datar dengan perkembangan internet dan web yang semakin pesat yang saat ini menuju ke generasi kedua (Web 2.0).</p>
<p>Barrack Obama tidak hanya mengandalkan tim suksesnya secara penuh ketika mengupload video pidato dan kampanye lewat YouTube, tapi sebagian diupload oleh para pemilihnya dengan sukarela. Inilah keindahan user-generated content. Influence tactics ala Web 2.0 ini saya yakin bisa dimanfaatkan oleh aktifis pergerakan mahasiswa, sehingga berbagai opini yang kita keluarkan akan lebih bergema, lebih luas dipahami masyarakat, dan wacana ini akan banyak dinikmati mahasiswa lain karena mahasiswa adalah pengakses Internet di Indonesia yang terbesar. Ingat menurut InternetWorldStats.com pengguna Internet di Indonesia mencapai 20 juta, dan menurut APJII bahkan 28 juta. Pengguna Internet di Indonesia bahkan lebih banyak daripada Spanyol atau negara tetangga kita yang ada di Asia. Tidak ada oplah media massa di Indonesia yang melebih angka 20 atau 28 juta, kecuali TV tentunya yang menurut berbagai data mencapai angka 40 juta.</p>
<p>Kalau boleh saya gambarkan, pergerakan mahasiswa generasi kedua alias 2.0 saya pikir akan seperti gambar di bawah.</p>
<p><img class="aligncenter" title="pergerakan mahasiswa 2" src="/images/2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Tebar Keshalehan Sosial      dan Kreatifitas Maya.</strong><br />
Ini adalah sumbangan besar mahasiswa plus sebagai solusi nyata untuk      masyarakat. Efek langsungnya mungkin ke pengguna Internet, tapi efek tidak      langsungnya bisa ke masyarakat yang bahkan tidak mengenal Internet.      Misalnya, download materi IlmuKomputer.Com mungkin hanya bisa dilakukan      oleh pengguna Internet. Tapi ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya dapat      dimanfaatkan oleh dosen dan guru untuk mengajar anak didik yang berada di      berbagai pelosok tanak air.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Lakukan Image Branding      Lewat Dunia Maya.</strong><br />
Sekali lagi dengan 20-28 juta penguna, Internet adalah media massa yang      paling efisien dan efektif untuk melakukan marketing dan branding baik      untuk personal maupun organisasi.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Webpreneurship.</strong><br />
Arah entrepreneurship yang sudah kita pupuk sebelumnya, mungkin bisa      dikembangkan ke arah technopreneurship, khususnya webpreneurship. Organisasi      pergerakan mahasiswa bisa membangun lini bisnis yang memikirkan berbagai      bisnis model yang menarik, dan dari sinilah operasional organisasi      dibiayai. Kemandirian finansial ini adalah teladan yang baik bagi      masyarakat, membuat teriakan lantang kita tentang pembebasan kemiskinan      dan kemandirian bangsa menjadi bermakna. Mengemis dana dari para pejabat,      mentri maupun institusi pemerintah atau swasta, sebenarnya membuat rantai      ikatan yang mengakibatkan organisasi kita tidak independen lagi. Pada saat      memimpin PPI Jepang, saya juga berkonsentrasi ke kerjasama bisnis dengan      berbagai perusahaan penerbangan, perusahaan telepon seluler dan bahkan      perusahaan elektronik yang punya pasar ke Indonesia.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Tebar Pengaruh Lewat      Tulisan di Blog.</strong> Lanjutkan <em>influence tactic</em> yang sudah kita      lakukan di media massa      cetak, ke arah blogging di Internet. Bahkan ketika objek yang kita bidik      adalah pelajar di level SMA dan kebawah, gunakan layanan social networking      semacam Friendster yang pengguna di level itu sangat besar. Ingat, Indonesia      pengguna Friendster nomor tiga sedunia.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Fokus di Core      Competence.</strong> Ini yang mahasiswa kita sering lupakan. Jurusan yang kita      pilih di kampus seolah-olah bagaikan bidang garapan sampingan. Jurusan      computing yang kita pilih, tidak membuat kita fasih berbicara tentang      statistik pornografi di Internet ketika kita beraudiensi tentang RUU      Antipornografi. Jurusan ilmu kehutanan yang kita geluti, juga seolah-olah      tidak bermakna karena kita malah mengkritik sisi lain, ketika berteriak      lantang tentang masalah kerusakan hutan kita, penebangan hutan yang liar      atau monopoli pemanfaatan hutan oleh perusahaan. Jurusan sosial politik      yang kita geluti, juga kadang tidak membuat kita fasih berbicara tentang      teoritika dan strategi politik atau komparasi sistem politik kita dengan      negara lain. Wahai aktifis mahasiswa, konsisten di kompetensi inti adalah      jalan yang luruk, bijak dan bertanggungjawab. Jangan pernah mengatakan hal      yang tidak kita kuasai permasalahannya, karena itu membuat kita dan segala      sesuatu yang kita sampaikan terasa hampa.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Leadership di Komunitas      Maya.</strong> Buktikan bahwa leadership kita di dunia nyata juga terbukti di      dunia maya. Bangun komunitas, pimpin pergerakan komunitas maya, sebagai      penambah dukungan pergerakan kita di dunia nyata.Terakhir, tiga pesan saya untuk para aktifis pergerakan mahasiswa.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Perdjoeangan yang      mahasiswa lakukan adalah untuk memberi manfaat bagi rakyat.</strong><br />
Semua itu bukan bertujuan untuk jalan kita menuju senayan (menjadi anggota      DPR), jalan kita menjadi pejabat, jalan kita mendapatkan uang secara      instan, atau jalan-jalan berpamrih lain yang membuat kita tidak ikhlash</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ucapan menjadi bermakna</strong> ketika kita juga bergerak melakukan perubahan dan memberi contoh yang      nyata. <em>Think globally but act locally.</em></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Kembalikan perdjoeangan      ke karakter dan kredo mahasiswa yang sebenarnya.</strong></li>
<li style="text-align: justify;"> <strong>Mahasiswa adalah akademisi, pemikir muda, intelektual muda, entrepreneur      muda dan agen perubahan bangsa. </strong>Baca kembali dengan detail semua visi,      misi dan kredo organisasi pergerakan mahasiswa kita, pasti selalu menyebut      masalah intelektualitas, jiwa pemikir dan kekuatan akademik lain. Karena      itulah akar dan dasar kita bergerak.<strong> Tetap dalam perdjoeangan !!!<br />
</strong></li>
</ul>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=94&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/pergerakan-mahasiswa-2-0-mahasiswa-vs-dirinya-sendiri/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Format Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/format-gerakan-mahasiswa-pasca-reformasi/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/format-gerakan-mahasiswa-pasca-reformasi/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu peran yang sangat penting dalam proses perubahan politik di Indonesia adalah peran mahasiswa dengan gerakan mahasiswanya. Perjalanan panjang Gerakan mahasiswa mencapai puncaknya pada mei 1998 dengan indikasi turunnya kekuatan otoriter dibawah kepemimpinan Soeharto. Keberhasilan yang mengesankan ini tampaknya tidak dibarengi oleh kesiapan jangka panjang gerakan mahasiswa. Sejumlah pihak menganggap turunnya Soeharto pada Mei [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salah satu peran yang sangat penting dalam proses perubahan politik di Indonesia adalah peran mahasiswa dengan gerakan mahasiswanya. Perjalanan panjang Gerakan mahasiswa mencapai puncaknya pada mei 1998 dengan indikasi turunnya kekuatan otoriter dibawah kepemimpinan Soeharto.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan yang mengesankan ini tampaknya tidak dibarengi oleh kesiapan jangka panjang gerakan mahasiswa. Sejumlah pihak menganggap turunnya Soeharto pada Mei 1998 sebenarnya diluar prediksi semula. Soeharto terlalu cepat turun sementara konsolidasi gerakan mahasiswa sebenarnya masih amburadul.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-27"></span>Pasca reformasi 1998 tampak terlihat bagaimana masih amburadulnya konsolidasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa tahap selanjutnya mengalami krisis identitas. Perbedaan visi yang muncul pada gerakan mahasiswa seringkali mengarah pada persoalan friksi-friksi yang sifatnya teknis. Kenyataan demikian menyebabkan friksi-friksi gerakan mahasiswa kehilangan arah dan bentuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehilangan arah dan bentuk format gerakan ini menyebabkan sejumlah gerakan mahasiswa harus melakukan konsolidasi internal organisasi. Konsolidasi internal ini sebagai upaya untuk mencariu format baru gerakan mahasiswa dalam konstalasi politik yang baru pula. Disamping itu konsolidasi internal ditujukan agar gerakan mahasiwa harus lebih intropeksi diri terhadap apa yang dilakukan. Upaya konsolidasi internal ini bukan berarti menegasikan dinamika politik sekitar. Tetapi konsolidasi internal ini agar lebih tepat baik secara strategis dan taktis untuk melakukan gerakan kedepan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal reformasi terjadi konsolidasi massif melawan simbol-simbol kekeuasaan otoriter yaitu Soeharto. Perkembangan selanjutnya, gerakan mahasiswa lebih disibukkan oleh kondisi internal organisasi, tanpa melihat nilai-nilai apa yang telah digulirkan pada awal-awal reformasi yaitu untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar yang dihadapi oleh rakyat. Artinya disini ada satu otokritik bagi elemen gerakan mahasiswa yaitu penyebaran-penyebaran yang dilakukan bukan pada masifikasi gerakan. Gerakan Mahasiswa tidak menjadi sebuah inklusifitas gerak tetapi menjadi eklusifitas gerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi ini terjadi karena mahasiswa tidak mempunyai konsistensi orientasi dari kondisi otoriter ke kondisi leberalisme politik. Seharusnya mahasiswa harus terus konsisten dengan orientasinya bahwa saat ini kalau dalam tataran opini tidak sampai muncul dalam konstalasi politik bukan berarti gerakan mahasiswa harus mengendap, akan tetapi ditengah pengendapan itu harus ada konsolidasi ditingkatan grasroot yaitu konsolidasi masyarakat sipil yang solid.<br />
Agenda gerakan mahasiswa kedepan adalah ruang gerak mahasiswa harus lebih reaktif dalam mensikapi kondisi sosial masyarakat. Mahasiswa tidak perlu terjebak dalam konstalasi politik nasional sementara ia harus kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa. Perjuangan kedepan adalah bagaimana membangun kekuatan sosial masyarakat dengan melakukan kerja bareng bersama-sama rakyat. Hal ini menginggat bahwa salah satu hal yang menyebabkan terpecahnya konsolidasi gerakan mahasiswa adalah terjebak dalam arus politik nasional yang sebenarnya jauh dari kegiatan mahasiswa. Untuk itu salah satu perekat dari keberlanjutan gerakan mahasiswa adalah membangun kekuatan bersama-sama rakyat.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=27&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/format-gerakan-mahasiswa-pasca-reformasi/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eskalasi Unjuk Rasa</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/eskalasi-unjuk-rasa/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/eskalasi-unjuk-rasa/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Editorial Harian Pontianak Post, Kalimantan Barat UNJUK rasa mahasiswa memperlihatkan perubahan arah dan tujuan. Awalnya, aksi-aksi yang melibatkan badan eksekutif mahasiswa (BEM), OKP (organisasi kemahasiswaan pemuda), dan eksponen mahasiswa lain itu hanya memprotes kebijakan pemerintah. Misalnya, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik (TDL), dan telepon &#8211;meski kenaikan yang terakhir ini melalui Menhub Agum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Editorial Harian Pontianak Post, Kalimantan Barat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">UNJUK rasa mahasiswa memperlihatkan perubahan arah dan tujuan. Awalnya, aksi-aksi yang melibatkan badan eksekutif mahasiswa (BEM), OKP (organisasi kemahasiswaan pemuda), dan eksponen mahasiswa lain itu hanya memprotes kebijakan pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik (TDL), dan telepon &#8211;meski kenaikan yang terakhir ini melalui Menhub Agum Gumelar dinyatakan ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan&#8211; dinilai merugikan masyarakat sehingga didemo agar kenaikan itu dibatalkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-25"></span>Belakangan, dengan eskalasi yang terus meningkat, isu yang diusung gerakan mahasiswa bukan lagi penentangan terhadap kenaikan tiga komponen kebutuhan vital publik itu. Tema baru gerakan mereka adalah gagalnya duet kepemimpinan Presiden Megawati-Wapres Hamzah Haz dalam menjalankan pemerintahan dengan benar dan, karena itu, mereka menuntut keduanya mundur.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan lebih baru, sebagaimana diberitakan Pontianak Post, gerakan mahasiswa lebih fokus lagi, yakni menargetkan jatuhnya pemerintahan Mega-Hamzah sebelum 2004.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, Mega-Hamzah tak perlu lagi diberi mosi tidak percaya melalui pemilu -dengan tidak mencoblos PDIP dan PPP&#8211; melainkan harus didongkel di tengah jalan sebelum 2004.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita memahami mahasiswa masih merupakan kekuatan politik dan massa yang militan. Mereka sebagai orang muda memiliki semangat dan vitalitas tinggi untuk menciptakan perubahan politik.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya terakhir mahasiswa yang patut ditulis sejarah &#8211;meski tidak sendirian&#8211; ialah menjatuhkan pemerintahan Presiden Soeharto bersama rezim Orde Baru yang berkuasa 32 tahun pada 21 Mei 1998.</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalannya ialah apakah setiap perubahan mendasar di negeri ini harus melalui gerakan di luar parlemen? Melalui aksi massa kaum muda dan jaringan pendukungnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Sangat banyak kalangan yang sepakat agar kita bersabar, tidak emosional dan terburu-buru menjatuhkan rezim Mega-Hamzah sebelum periode kekuasaannya berakhir pada 2004.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, aksi mahasiswa cukup berhasil menciptakan perubahan dan melahirkan rezim politik baru. Namun, cara demikian bukanlah pilihan paling tepat. Mengapa? Sebab, jika cara-cara menghentikan kekuasaan rezim yang berkuasa senantiasa melalui aksi di luar parlemen, melalui mosi tidak percaya di luar pemilu, kita selalu berada dalam situasi tidak normal. Selalu menjalani keadaan darurat sehingga harus menempuh cara atau mekanisme darurat pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, menafikan gerakan mahasiswa merupakan kebodohan yang berlanjut. Sebab, aksi-aksi mereka dalam sejarah negeri ini telah terbukti mendorong perubahan politik, sekaligus melahirkan rezim penguasa baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, pilihan paling bijaksana ialah merespons gerakan mahasiswa sebelum aksi-aksi mereka menjadi masif dengan eskalasi yang sulit diredam. Perlu tenggang rasa politis untuk mendengarkan tuntutan gerakan mahasiswa. Perlu kesabaran untuk merespons berbagai aksi mereka, betapapun panasnya kecaman, cacian, dan tudingan anak-anak muda itu terhadap penguasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini eskalasi aksi-aksi mahasiswa mulai membuat kita waswas. Sebab, tingkat pelibatan massa pendukungnya sudah sangat luas dan besar. Karena itu, aksi-aksi tersebut tidak bisa dihadapi dengan cara-cara represif yang sekadar mengatasnamakan hukum. Perlu respons politis untuk membuka ruang lebih terbuka guna mendorong akomodasi yang demokratis.**</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=25&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/eskalasi-unjuk-rasa/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/rekonstruksi-soliditas-gerakan-mahasiswa/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/rekonstruksi-soliditas-gerakan-mahasiswa/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.www.limaupn.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Oleh R. Andriadi Achmad Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa KM Universitas Andalas Mobilisasi pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Terlihat pada masing-masing zaman menampilkan figur, isu, problem yang berbeda. Menarik benang example, pergerakan mahasiswa Angkatan 66 membumikan isu otoritarian state dengan ‘Ikon tritura’. Angkatan 74 (Malari) mengusung isu NKK/BKK dengan ‘Ikon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh R. Andriadi Achmad<br />
Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa KM Universitas Andalas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mobilisasi pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Terlihat pada masing-masing zaman menampilkan figur, isu, problem yang berbeda. Menarik benang example, pergerakan mahasiswa Angkatan 66 membumikan isu otoritarian state dengan ‘Ikon tritura’. Angkatan 74 (Malari) mengusung isu NKK/BKK dengan ‘Ikon otonomisasi’. Angkatan 78 mengangkat isu perlunya merealisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas, bahkan pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan ‘Ikon menolak Soeharto sebagai calon presiden’ (Demokrasi Suatu Keharusan, Anwari WMK, 2004). Angkatan 98 mengumbar isu reformasi dengan ‘Ikon enam visi reformasi’. Angkatan 2001 dengan isu reformasi jilid 2 berikon ‘Demokratisasi’. Akankah, angkatan 2004 harus mengusung isu revolusi dengan ‘Ikon Cut Generation (potong generasi) ?.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-22"></span>Power pergerakan mahsiswa, terdeskripsi sungguh menakjubkan. Membukakan memori kita pada tesis filsuf Hanna Arendt ‘The Human Condition’ (New York 1956) bahwa instrumentalisasi dan degradasi politik takkan pernah berhasil membungkam pergerakan atau menghancurkan realitas masalah-masalah kemanusian terbukti dalam setiap gelombang pergerakan mahasiswa tiap-tiap angkatan. Hal itu juga, lantaran gerakan mahasiswa terbangun diatas etika no blesse oblige (Burhan D. Magenda, 1997) yang didefinisikan suatu previlese atau etika yang terbangun atas dasar semangat militansi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggali alasan lain penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat. Menurut Arbi Sanit (1985) lima hal yang melatar belakanginya. Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rapor Merah Gerakan Mahasiswa</p>
<p style="text-align: justify;">Ralita membahasakan &#8216;reformasi jalan ditempat&#8217;. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Padahal, daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena pergerakan melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seolah kehingan roh merupakan rapor merah yang harus dihitamkan. Menurut hemat penulis, terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan. Pertama, terjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa. Menurut Dr. Alfian, dosen UI dan peneliti katalis menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya problema dalam pergerakan mahasiswa adalah fragmentasi lantaran prinsip ideologi yang menancap pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada “perbedaan Idealisme” sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, muncul kelompok mahasiswa oportunis, sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/individu tertentu. Gejala ini, terlihat pada isu terbaru yang mengatakan gerakan mahasiswa &#8212;antimiliterisme, anti Orde Baru, anti pelanggar HAM atau anti yang lainnya &#8212; ditunggangi kelompok tertentu. Padahal gerakan mahasiswa harus independen dan kudu konsisten dengan gerakan moral. Perihal inilah, membuat lemahnya pergerakan mahasiswa hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, apatisme kebanyakkan mahasiswa akan posisi dan peranya sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral) dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa. Di tambah dengan sekelompok Mahasiswa melakukan pergerakan cenderung atas dasar kepentingan tertentu saja, problema ini membuat gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan miring terlihat dari pernyataan Misbah Shoim Haris (1997) dikutip dalam bukunya. &#8220;Namun, selama ini yang kita lihat, realitas tidaklah seindah bayangan (idealisme) kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tanggung jawabnya sebagai pengemban rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar.&#8221; (Media Kampus, Senin, 15 /03/04)</p>
<p style="text-align: justify;">Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa</p>
<p style="text-align: justify;">Mengutip pepatah para ilmuwan francis La Historie Se Pete ( sejarah akan selalu berulang), mengoptimisisasi akan kembalinya roh pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa dekade sebelumnya . Adapaun lampu hijau yang harus ditempuh.. Pertama, membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan. Kedua, menjalin komunikasi antar sesama kelompok mahasiswa. Ketiga, meruntuhkan sikap saling curiga, dengki serta menepis jauh-jauh sikap high egoisme yang rentan menghinggapi mahasiswa. keempat, mengikis infantilisme (kekanak-kanakan) mahasiswa. kelima, membangun indepedensi pergerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa adalah kelompok sejati, abadi, dan berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. keenam, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengevaluasi format pergerakan mahasiswa selama ini, cendrung stagnan, vakum dan mengalami fragmentasi. The big work (pekerjaan besar) mahasiswa hari ini adalah merekonstruksi soliditas pergerakan, memulai gerakan yang lebih sistematis dengan menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan, menuju sinergitas bersama. Sekaligus mengawasi dan mempresure siapa pun pemimpin bangsa Indenesia dalam pemilu putaran pertama 5 Juli dan kedua 21 September mendatang agar merealisasi enam visi reformasi yang pernah ditawarkan mahasiswa. Sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang telah berani memulai ‘Reformasi 1998’.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersimpul pada langkah dan tujuan pergerakan yang sama yaitu membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan krisis multidimensi dan intimidasi kekuasan menuju titik Enlightment (pencerahan).</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=22&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/rekonstruksi-soliditas-gerakan-mahasiswa/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

