<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIMA UPN &#34;Veteran&#34; Jawa Timur</title>
	<atom:link href="http://www.limaupn.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.limaupn.com</link>
	<description>Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 01:42:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>7 TAHUN SBY : LELET, LEMBEK, LAMBAN = RAKYAT SENGSARA !!! (Hentikan Perampasan Upah, Tanah, Kerja, Pendidikan dan Kesehatan)</title>
		<link>http://www.limaupn.com/berita/7-tahun-sby-lelet-lembek-lamban-rakyat-sengsara-hentikan-perampasan-upah-tanah-kerja-pendidikan-dan-kesehatan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/berita/7-tahun-sby-lelet-lembek-lamban-rakyat-sengsara-hentikan-perampasan-upah-tanah-kerja-pendidikan-dan-kesehatan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 19:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saddam Revolusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Betapa tidak menariknya pemerintahan sekarang, ”Lelet, Lembek, Lamban = Rakyat Sengsara” pernyataan ini, rasanya sangat relevan buat kondisi objektif Indonesia dewasa ini. Sesuai dengan keadaan objektif dewasa ini 7 Tahun pemerintahan SBY dan 2 Tahun Boediono ternyata tidak membawa perubahan yang sistemik disegala aspek, berbagai persoalan dan berbagai intrik – intrik politik kotor bermain dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Betapa tidak menariknya pemerintahan sekarang, ”Lelet, Lembek, Lamban = Rakyat Sengsara” pernyataan ini, rasanya sangat relevan buat kondisi objektif Indonesia dewasa ini. Sesuai dengan keadaan objektif dewasa ini 7 Tahun pemerintahan SBY dan 2 Tahun Boediono ternyata tidak membawa perubahan yang sistemik disegala aspek, berbagai persoalan dan berbagai intrik – intrik politik kotor bermain dalam wilayah kekuasaannya masing – masing, sehingga bangsa ini seakan – akan telah dipetak – petakkan oleh kepentingan – kepentingan terselubung golongan – golongan tertentu. Muak rasanya jika harus mengulas persoalan ini. Tapi sebagai generasi penerus, kita dituntut untuk tidak berdiam diri, pasrah dan apatis melihat bangsa ini entah kemana. Apa yang kami lakukan hari ini dalam rangka memperingati 7 tahun Rezim SBY dan 2 Tahun Boediono adalah salah satu bentuk keresahan kami.<br />
Masih jernih dalam ingatan kita bahwa untuk beberapa generasi lamanya rakyat kita dibungkam suaranya, sebagian diatara mereka dilenyapkan dan hilang entah kemana dan sebagian lagi dipenjarakan tanpa alasan yang jelas, sementara ketimpangan dan kecurangan terus terjadi disegala sektor pemerintahan dan elemen penting bangsa ini. 234,4 juta rakyat kita, mayoritas diantaranya masih bergelut dengan beban kemiskinan dan ketidak adilan. Selain itu Indonesia dengan karakter setengah jajahan dan setengah Feodal dibawah dominasi Imperialisme AS masih berada dalam keadaan yang semakin terbelakang baik secara Ekonomi, Politik maupun budaya. Fakta tersebut dibuktikan dengan kenyataan hidup rakyat Indonesia yang terus merosot. Yang dipicu oleh tiga factor utama, yaitu makin terjerumusnya rakyat dalam lubang penderitaan yang semakin dalam yaitu “Monopoli atas lahan dan tambang yang makin luas dan ketergantungan atas Import, Meningkatnya utang Negara dan swasta mencapai 1,780 Trilliun, serta politik upah murah yang kian menjerat kehidupan klas buruh”. Dan ironisnya hingga saat ini, politik yang diusung Rezim SBY-Budiono masih menjadi klas penguasa yang menjadi boneka Imperialisme yang selalu siap menjalankan kebijakan ekonomi Neoliberal yang merupakan Produk Imperialisme. Kenyataan tersebut terbukti dengan berbagai kebijkan dan kesepakatan-kesepakatan yang diambil dengan Negara-negara Imperialisme. Situasi Politik lainnya menunjukkan adanya pertentangan antar klik Reaksi (Partai Politik dan para elit politik Nasional)  untuk memperebutkan kekuasaan, Memperebutkan posisi sebagai Rezim boneka Imperialisme. Bahkan saat ini SBY semakin membuktikan kesetiaanya dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat dalam menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Untuk itu kami atas nama ALIANSI PERJUANGAN MAHASISWA menuntut kepada Rezim SBY-Boediono agar :<br />
1.	Realisasikan anggaran pendidikan 20% diluar gaji guru, dosen dan sekolah kedinasan.<br />
2.	Stop Komersialisasi dan diskriminasi dalam dunia pendidikan dan kembalikan pendidikan sebagai tanggung jawab penuh Negara. (Pemerataan Pendidikan)<br />
3.	Wujudkan sistem pendidikan sesuai dengan amanat UUD 45<br />
4.	Peninjauan Kembali terhadap sistem kontrak dengan perusahaan-perusahaan asing sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.<br />
5.	Hapuskan UU Penanaman Modal Asing No. 25 tahun 2007<br />
6.	Naikkan UMR dan UMK sesuai KHL<br />
7.	Stop PHK, Outsourching dan Sistem Kerja Kontrak<br />
8.	Stop monopoli atas lahan/tanah dan laksanakan Reforma Agraria<br />
9.	Hentikan kekerasan terhadap seluruh elemen masyarakat/rakyat.<br />
10.	Usut tuntas segala bentuk pelanggaran HAM<br />
11.	Berikan perlindungan penuh kepada TKI dimanapun mereka berada<br />
12.	Tegakkan kedaulatan NKRI dengan menyelesaikan sengketa – sengketa perbatasan<br />
13.	Usut tuntas segala bentuk tindakan korupsi tanpa pandang bulu<br />
14.	Tolak RUU Intelejen<br />
15.	Berikan kesehatan gratis untuk rakyat </p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=432&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/berita/7-tahun-sby-lelet-lembek-lamban-rakyat-sengsara-hentikan-perampasan-upah-tanah-kerja-pendidikan-dan-kesehatan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUDAK DI NEGERI SENDIRI</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 21:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa INDONESIA adalah bangsa yang kaya raya, loh jinawi, Sumber Daya Alam ( SDA ) cukup melimpah, warisan nenek moyang kita. MERDEKA!!! itulah kata para pejuang pada saat jaman kemerdekaan. Mereka berjuang susah payah untuk kemerdekaan negeri ini. Berkumpul menjadi satu untuk melawan penjajah yang sudah ratusan abad mengeruk hasil bumi pertiwi. Hingga semboyan &#8220;MERDEKA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bangsa <strong>INDONESIA</strong> adalah bangsa yang kaya raya, loh jinawi, Sumber Daya Alam ( SDA ) cukup melimpah, warisan nenek moyang kita. MERDEKA!!! itulah kata para pejuang pada saat jaman kemerdekaan. Mereka berjuang susah payah untuk kemerdekaan negeri ini. Berkumpul menjadi satu untuk melawan penjajah yang sudah ratusan abad mengeruk hasil bumi pertiwi. Hingga semboyan<strong> &#8220;MERDEKA ATOE MATI&#8221;</strong> pun tercetus pada saat itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, kita mulai disusupi penjajahan model baru, dari budaya, ekonomi, dan banyak hal yang lain. salah satu halnya adalah peran globalisasi.Seluruh produk luar negeri mulai merambah ke negeri ini, dari <strong>SHELL</strong> dan sebangsanya mulai menjual bahan bakar, <strong>PERTAMINA</strong> yang notabene adalah produk dalam negeri pun kini kalang kabut menghadapi banyaknya pesaing dari luar negeri yang sudah memasuki bumi pertiwi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>INDONESIA</strong>, di tanahmu kami lahir dari rahim ibu pertiwi, mengais rejeki dari ribuan kaum miskin yang terlantar di negeri ini&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sampai kapan kami harus terjajah baik dari rohani maupun jasmani di BUMI PERTIWI ?!!!</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ketika MEREKA sudah sewenang-wenang dengan para penghuni negeri, MEREKA yang berlimpah uangnya, membungkam pemerintah untuk tetap diam dan patuh terhadap mereka. Disamping itu mereka membabi-buta untuk menghabisi barisan yang ingin melawan penindasan seperti yang terjadi di PAPUA. Bangsa Papua Barat secara terus menerus ditindas hak-haknya, kekayaan alamnya dirampok habis oleh perusahan tersebut tanpa ada jaminan hidup yang sehat.Tembagapura dan sekitarnya dalam situasi darurat, korban penembakan, teror dan intimidasi semakin marak dilakukan aparat keamanan milik perusahan dan pemerintah.Kondisi ini juga di perburuk dengan sikap perusahan tambang raksasa <strong>PT Freeport Indonesia</strong> milik <strong>imperialisme Amerika Serikat</strong> yang acuh tak acuh terhadap tuntutan para serikat pekerja buruh dan masyarakat adat .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imperialisme</strong> ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi pada saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, Bapak Proklamator kita yaitu <strong>Ir. Soekarno</strong> pernah melakukan perjanjian kepada PT. Freeport dimana tambang emas boleh dikelola oleh mereka akan tetapi <strong>80%</strong> masuk ke Indonesia dan <strong>20%</strong> boleh dimiliki oleh pihak asing. Namun pada saat Bapak Pembangunan kita yaitu <strong>Soeharto</strong>, merubah perjanjian pada tahun <strong>1967</strong> dengan <strong>PT. Freeport</strong> yang hingga kini malah menjadi <strong>80%</strong> masuk ke pihak asing, dan <strong>20%</strong> dimiliki oleh <strong>Indonesia</strong>. Melihat kondisi di <strong>PAPUA BARAT</strong> yang kini mulai kronis, marilah kita bergabung, bersatu padu untuk melawan penjajahan yang sudah turun-temurun terjadi di bumi pertiwi.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>MARI KITA DUKUNG UNTUK MENUTUP PT. FREEPORT INDONESIA PT. FREEPORT DAN mempertanggung jawabkan POLITIK, MORAL dan KEJAHATAN terhadap pelanggaran HAK ASASI MANUSIA ( HAM ) di TANAH PAPUA.</strong></p>
</blockquote>
<p>By : <a href="http://www.babycorp.name" target="_blank"><strong>ADITIA WARMA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=420&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/budak-di-negeri-sendiri/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Idealis Vs Orang Realistis</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 21:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering mendengarkan orang mengatakan hal-hal negatif mengenai orang yang punya idealisme tertentu. Entah itu mulai dari sindiran hingga secara terang-terangan telah banyak ditujukkan kepada orang-orang yang mempunyai kesetiaan tertentu terhadap ide yang mereka yakini benar. Orang-orang Indonesia, terutama sekali masyarakat perkotaan, menganggap bahwa idealisme adalah suatu konsep yang harus ditinggalkan jauh-jauh dalam menjalankan hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sering mendengarkan orang mengatakan hal-hal negatif mengenai orang yang punya <strong>idealisme</strong> tertentu. Entah itu mulai dari sindiran hingga secara terang-terangan telah banyak ditujukkan kepada orang-orang yang mempunyai kesetiaan tertentu terhadap ide yang mereka yakini benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Indonesia, terutama sekali masyarakat perkotaan, menganggap bahwa idealisme adalah suatu konsep yang harus ditinggalkan jauh-jauh dalam menjalankan hidup agar mendapatkan hidup yang baik. Benarkah itu? Sebelum menilai hal tersebut benar atau salah, ada baiknya saya sedikit jelaskan apa itu idealisme dan realism, beserta apa saja yang termasuk ke dalam kategori idealisme dan realism tersebut.<span id="more-368"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari <strong>pengalaman</strong>, <strong>pendidikan</strong>, <strong>kultur budaya</strong> dan <strong>kebiasaan</strong>. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu, tapi juga hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai idealisme yang mempengaruhi individu contohnya adalah keyakinan mengenai pola hidup, nilai-nilai kebenaran, gaya mengasuh anak, karir dan lain sebagainya. Sedangkan idealisme pada tingkatan negara adalah seperti <strong>Ideologi Pancasila</strong>, <strong>komunisme</strong>, <strong>liberalism</strong> dan masih banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan realisme adalah suatu sikap/pola pikir yang mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sama dengan idealisme, realisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Realisme-pun tidak hanya terbatas pada individu, tapi juga pada level-level diatasnya hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai realisme yang mempengaruhi individu pada umumnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan materi. Namun tidak tertutup kemungkinan juga pada hal-hal lain seperti budaya politik, norma reliji (sistem kepercayaan) dan banyak hal-hal lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang telah saya tuliskan di atas bahwa batasan tulisan ini hanya untuk menjawab pernyataan kaum realis yang menganggap bahwa idealisme adalah sampah kehidupan. Untuk menyederhanakan tulisan ini agar mudah ditangkap oleh semua orang, saya akan menggunakan pendekatan perbandingan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme pada dasarnya adalah <strong>perubahan</strong>, terlepas dari apakah perubahan itu baik atau buruk. Sebagai contoh idealisme positif, ingat ketika <strong>Martin Luther</strong> menentang gereja Katolik Eropa? Banyak orang ketika itu mencemoohnya sebagai orang yang idealis dengan menafikkan kenyataan-kenyataan di lapangan dan keamanan hidupnya sendiri. Namun dengan kekuatan idealisme yang luar biasa akhirnya Martin Luther mampu melahirkan gerakan reformasi (pada masa itu) dan tetap bertahan hingga hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk contoh buruknya, lihat idealisme yang dilakukan oleh <strong>Adolf Hitler</strong>. Dengan keyakinannya atas buruknya kaum Yahudi dan Komunisme, dia bisa menjadi penguasa Eropa dan membinasakan kaum Yahudi dan Komunis. Padahal ketika zamannya ketika itu, korporasi Yahudi dan dominasi politik komunis begitu kental dilingkungannya sehingga pada awal-awal perjuangannya Hitler justru lebih banyak mendapat hinaan dan cemooh ketimbang dukungan. Tentu saja contoh buruk ini jangan ditiru karena justru merupakan kemunduran dalam peradaban manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah semua pemimpin besar dunia: <strong>Mahatma Gandhi</strong>, <strong>Mother Teressa</strong>, <strong>Aung an su kyi</strong>, <strong>Che Guevara</strong>, <strong>Soekarno</strong>, <strong>Julius Caesar</strong>, <strong>Socrates</strong> dan masih banyak pemimpin besar dunia lainnya yang penuh dengan idealisme-idealismenya walaupun kadang hal itu menjadi faktor utama berakhirnya hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Socrates</strong> contohnya: dia bersikukuh bahwa pemerintahan <strong>demokrasi Athena</strong> pada kala itu adalah pemerintah yang busuk dan korup. Walaupun banyak kerabatnya dan murid-muridnya yang membujuknya agar tidak terlalu idealis dengan keyakinannya karena akan membahayakan nyawanya, dia tetap saja lantang menentang demokrasi Athena. Walhasil, senat Athena memerintahkannya menenggak racun sebagai bentuk hukuman mati atas penghinaannya kepada senat, dan matilah Socrates dalam memperjuangkan idealismenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah <strong>Soekarno</strong>. Pada masa mudanya, Soekarno sudah terbiasa diperlihatkan pemandangan betapa anak negeri ini (kaum pribumi) diperbudak oleh penjajah Belanda. Lingkungannya pun (lingkungan terpelajar dan priyayi) sudah menganggap bahwa hal itu adalah biasa. Lalu ketika dia beranjak dewasa, dia menyadari bahwa ini semua salah dan dia mulai merawan arus “realistik” penjajahan, dan mulai mengkampanyekan idealisme kebebasan (kemerdekaan) bangsa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah semua orang atau pemimpin besar di bumi ini, maka orang tersebut pada awalnya selalu mempunyai idealismenya sendiri yang pada akhirnya menghantarkannya kepada kesuksesan. Atau mungkin jika ingin menggunakan pembuktian terbalik: coba anda carilah pemimpin atau orang besar dunia yang tidak punya idealisme, itupun kalau anda bisa menemukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Idealisme adalah sumber <strong>perubahan</strong>. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=368&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/orang-idealis-vs-orang-realistis/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OSPEK 2011 Setelah Hari Raya Idul Fitri</title>
		<link>http://www.limaupn.com/berita/ospek-2011-setelah-hari-raya-idul-fitri/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/berita/ospek-2011-setelah-hari-raya-idul-fitri/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 11:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Program Pengenalan Kampus (PP &#38; K) tahun ini dijadwalkan pada 15-19 Agustus, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Namun, Ormawa UPN “Veteran” Jawa Timur menolak mengadakan PP &#38; K pada bulan Ramadhan. Selain itu, BEM-U mengusulkan PP &#38; K diadakan selama dua minggu, yakni pada tanggal 12-25 September 2011. Hal ini diungkapkan BEM-U pada rapat koordinasi pelaksanaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Program Pengenalan Kampus (PP &amp; K) tahun ini dijadwalkan pada 15-19 Agustus, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Namun, Ormawa UPN “Veteran” Jawa Timur menolak mengadakan PP &amp; K pada bulan Ramadhan. Selain itu, BEM-U mengusulkan PP &amp; K diadakan selama dua minggu, yakni pada tanggal 12-25 September 2011. Hal ini diungkapkan BEM-U pada rapat koordinasi pelaksanaan PP &amp; K (8/6).</p>
<p style="text-align: justify;">Mekanismenya adalah pada minggu pertama diadakan pengenalan fakultas dan jurusan selama empat hari. Kemudian, minggu kedua digunakan untuk pengenalan BEM-U dan UKM. Konsekuensi dari perubahan tersebut, yakni mengambil dua minggu masa perkuliahan aktif yang telah ditetapkan oleh Biro Akademik (Biro Admik). Pelaksanaan PP &amp; K selama dua minggu tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas serta memperkenalkan universitas secara lebih mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-364"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Admik, Poernomo Edy<strong>, </strong>menyatakan bahwa pelaksanaan PP &amp; K merupakan wewenang bidang III atau bidang Kemahasiswaan. Namun, ia memastikan bahwa mulai tanggal 12 September, perkuliahan harus aktif dan fakultas harus melaksanakan perkuliahan selama 16 kali pertemuan. Berkaitan dengan hal tersebut, Jumat (24/6) lalu diadakan rapat yang dipimpin oleh Wakil Rektor III.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Wakil Rektor III, Patrap Wiprapto memutuskan bahwa PP &amp; K dilaksanakan selama satu minggu pada 5-9 September. Hal ini dikarenakan PP &amp; K tidak mungkin diadakan pada 12-17 September. Menurut jadwal, minggu tersebut adalah minggu kedua masa perkuliahan yang umumnya sudah mulai penyampaian materi. ”Dengan konsekuensi mahasiswa baru mau tidak mau (menerima, Red) karena sudah ada jadwal bahwa pelaksanaan perkuliahan adalah 5 September harus masuk. Nanti akan dilakukan perubahan untuk surat edaran pemberitahuan agar mahasiswa baru dapat mengetahui,” jelas Patrap.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun kecewa, BEM-U menerima keputusan tersebut dan berharap dapat melaksanakan PP &amp; K dengan baik. Keputusan ini dianggap lebih baik karena PP &amp; K diadakan seminggu setelah bulan puasa sehingga akan lebih optimal. PP &amp; K yang dilakukan selama satu minggu, menurut Fauziah Imroatus Sholihah (Teknologi Pangan/10) dirasa cukup untuk pengenalan kampus. “Lebih baik cuma satu minggu karena Ospek kan pada dasarnya pengenalan kampus, jadi satu minggu saja sudah cukup. Nggak banyak mengeluarkan dana, waktu juga nggak terbuang sia-sia,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan Febry Rachmawaty (Agrobisnis/09) yang menyatakan bahwa PP &amp; K lebih baik diadakan pada 12 September. “Kalau Ospeknya tanggal 12, persiapan buat Maba dan panitia jadi lebih banyak. Jadi, Maba yang rumahnya jauh bisa Lebaran dengan tenang tanpa memikirkan Ospek,” tegasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <strong><a href="http://www.pers-upn.com/mainsite/index.php/component/content/article/38-upn/228-pp-a-k-diadakan-beberapa-hari-pasca-idul-fitri.html" target="_blank">PERS UPN</a></strong></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=364&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/berita/ospek-2011-setelah-hari-raya-idul-fitri/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa sih yang Disebut Kiri Itu?</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 23:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Kiri, adalah jika orang berdiri menghadap ke Timur maka di sebelah kirinya adalah utara. Suka atau tidak suka. Dan di sebelah kanannya adalah selatan, juga suka atau tidak suka. Di Amerika, yang disebut kiri atau left berarti “The individuals and group who advocate the adoption of sometimes extreme messure in order to achieve the equality, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Kiri, adalah jika orang berdiri menghadap ke Timur maka di sebelah kirinya adalah utara. Suka atau tidak suka. Dan di sebelah kanannya adalah selatan, juga suka atau tidak suka. Di Amerika, yang disebut kiri atau <em>left </em>berarti <em>“The individuals and group who advocate the adoption of sometimes extreme messure in order to achieve the equality, freedom, and well-being of the citizens of a state”. </em>(Perorangan atau kelompok yang membenarkan dipakainya sewaktu-waktu tindakan ekstrim untuk mencapai persamaan, kemerdekaan, dan kesejahteraan warga negara dari suatu negara). Dan berarti juga <em>“The opinion of those advocating such messures as opposed to conservative opinion”</em>. Jadi ringkasnya “kiri” itu kebalikan dari “konservatif”.</div>
<div style="text-align: justify;"><span id="more-359"></span></div>
<div style="text-align: justify;">
<div>Dahulu ketika kita dijajah, kaum kolonial Belanda mengonotasikan bahwa seseorang yang berpeci itu adalah “kiri” alias penentang pemerintah kolonial Belanda. Barangkali juga ada benarnya, sebab Alimin tokoh PKI yang memberontak tahun 1926 memakai peci, Soekarno yang dirikan PNI di tahun 1927 dan bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda, juga memakai peci.</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Terjadilah suatu peristiwa di Sekolah Menengah Umum yang ketika itu masih disebut AMS <em>(Algemeene Midelbare School) </em>di Jogja. Seorang murid sekolah itu memasuki kelas memakai peci di kepalanya. Begitu dia duduk, gurunya yang Belanda itu menghardik: <em>“Der af of deruit”</em>. Artinya: “tanggalkan atau keluar”. Sudah tentu yang dimaksud adalah peci di kepala si murid. Dengan tenang si murid berdiri dan melenggang ke luar kelas. Murid itu bernama Moh. Yamin.</p>
<p>Sekitar 80 tahun yang lalu, Sarekat Islam dengan pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, dalam suatu kongresnya melahirkan keputusan: “Berjuang melawan kapitalisme yang zalim”, dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto… memakai peci alias kopiah. Maka di mata Belanda kolonial, berpeci berarti kiri.</p>
<p>Dari kenyataan tersebut di atas, terbukti yang disebut kiri itu adalah pihak yang tidak betah pada keadaan yang berlangsung dan menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik. “Kehendak untuk menjadi lebih baik”, setiap orang bernalar sehat tidak akan mempersalahkannya.</p>
<p>Dan manakala si kiri itu naik ke pentas kekuasaan, manakala dia tidak melanjutkan kekiriannya, untuk senantiasa dengan sungguh mengupayakan perbaikan-perbaikan untuk lebih baik dari yang sudah dicapai, maka ia akan terperosok menjadi “kanan” dan kekananannya itu akan melahirkan “kiri” baru yang lebih baik, lebih arif, dan lebih santun dari yang sebelumnya.</p>
<p>Jika ada yang berpikir, bahwa “kiri” dan “kanan” itu bisa dipersatukan, atau disejajarkan, sungguh mengherankan. “Kiri” dalam arti yang menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik, adalah progresif. Sedangkan “kanan” yang menolak perubahan itu dan menghendaki tetap pada keadaan yang berlaku dan berlangsung, dengan segala perangkat legalnya sekalipun, akan menjadi “konservatif”, dan lambat laun ditinggalkan oleh kesadaran yang dari hari ke hari senantiasa bertambah maju.</p>
<p>Akan halnya orang yang merasa bisa mempersatukan “kiri” dan “kanan” apalagi dengan gagah-gagahan, sungguh patut dikasihani (<em>“kasiaaan deh lu…,”</em> kata ABG zaman sekarang). Sebab yang akan terjadi, kiri dan kanan melangkah bersama, begitu juga tangan kiri dan tangan kanan dua-duanya melonjor ke depan. Jalannya melompat-lompat. Itulah “pocong” namanya.</p>
<p>Yang terjadi sejak ribuan tahun ialah “kanan” digantikan oleh “kiri” dan pada waktu si “kiri” yang menggantikan itu terpeleset menjadi “kanan”, lahirlah “kiri” yang baru.</p>
<p>Kedua-duanya punya eksistensi, perbedaannya ialah yang dominan dan yang belum dominan. Itulah proses kelangsungan. Tanpa itu, Monarki absolut tidak akan digantikan oleh Demokrasi. Tanpa itu, piringan hitam tak akan digantikan pita kaset, dan pita kaset oleh kepingan VCD, lalu maju lagi ke MP3 dan DVD. Kapal layar tak akan digantikan oleh kapal bermesin. Dari yang menuju kematian, lahirlah kehidupan. Itulah adat dunia, siapapun tak kuasa menyanggahnya.</p>
<p>Nyatanya, keberadaan “kiri” bermanfaat untuk kehidupan kita, sebab “kiri” menghendaki yang lebih baik daripada yang sedang berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://rumahkiri.net/diskursus/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu" target="_blank"><strong>RUMAHKIRI</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=359&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/apa-sih-yang-disebut-kiri-itu/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Virtual University”, Fatamorgana Pendidikan ?</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 17:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan hape dan ratusan notebook dibagikan  ke mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta. Trend seperti itu juga sudah diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia.. Hape- walaupun tidak high specs- dan notebok tersebut digunakan untuk mengakses informasi akademik dan media pembelajaran elektronik. Sekali klik semua terpampang. Sekali pijit, jadwal kuliah pun terpajang. Sekali login, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117410" title="1309687977256004103" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309687977256004103_300x281.80147058824.jpg" alt="1309687977256004103" width="300" height="281.80147058824" />Ribuan<em> hape</em> dan ratusan <em>notebook</em> dibagikan  ke mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta. <em>Trend</em> seperti itu juga sudah diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia..<em> Hape- </em>walaupun tidak <em>high specs</em>- dan notebok tersebut digunakan untuk mengakses informasi akademik dan media pembelajaran elektronik. Sekali <em>klik</em> semua terpampang. Sekali pijit, jadwal kuliah pun terpajang. Sekali <em>login</em>, semua materi pembelajaran sudah terpajang. Sekarang tidak ada lagi papan pengumuman, <em>mading</em>, atau tempelan kertas di kaca-kaca. <em>Fotocopy</em> materi dosen sudah jarang. Tinggal <em>download</em> di website dosen, Tinggal <em>ngakses</em> di <em>virtual-class</em>. Atau <em>copy e-book </em>yang tersedia gratis. “<em>Education in Your Hand</em>“, begitulah <em>tagline</em> yang dicoba diusung. Seolah dunia ada dalam genggaman. Bahkan, genggaman itu bisa dibungkus slogan atau kampanye <em>Stop Global Warming</em>. Tidak perlu menyoal paradoks <em>green computing</em> dengan ekploitasi energi dan sampah elektronik dari <em>gadget</em>.  Apakah program ini efektif? Jangan-jangan ini sekedar <a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/05/31/untung-rugi-bergaya-di-kelas-maya/" target="_blank">bergaya di dunia maya</a>. Terperdaya muslihat pasar penyedia produk dan jasa di sektor telematika.<span id="more-350"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mudah membagikan ribuan <em>hape</em> dan ratusan <em>notebook</em>. Bukan hanya penyerahan fisiknya saja, namun harus ada sosialisasi atau <em>user education</em> yang intensif juga. Bukan sebatas bagaimana menggunakan <em>hape</em> dan <em>notebook</em> tersebut- yang pasti mahasiswa tidak perlu diajari lagi- namun, bagaimana aplikasi khusus yang sudah ditanam pada <em>hape</em> dan <em>notebook</em> tersebut bisa dipahami oleh mahasiswa. Ternyata, tidak semudah itu untuk menerapkan <em>e-education</em> yang digunakan untuk proses belajar-mengajar di perguruan tinggi. Banyak kendala dan resiko yang perlu dipertimbangkan. Godaan dunia maya bisa menjadi penjara atau malah sorga dunia. <em>Klik </em>sana, <em>klik</em> sini. <em>Posting</em> di sana, <em>posting</em> di sini. Bebas dan merdeka tapi kadang merasa sendiri dan sunyi di tengah keramaian. Semua tumplek di sana. <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/26/kopi-dan-pasta-pahit-di-dunia-kampus/" target="_blank">Pahit dan manisnya, kecut dan lezatnya seolah kopi dan pasta</a>. Bisa dicicipi sedikit, menjadi candu, atau justru anti. Itu adalah pilihan. Dan pilihan itu harus dideskripsikan, disosialisasikan, dan diinternalisasikan. Selanjutnya, semua terserah mereka. <em>Toh</em>, genggaman dan jari-jari itu dikendalikan dirinya. Program <em>user education</em> inilah yang mulai digalakkan oleh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ada Kepalsuan</strong></em><strong><em></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117411" title="13096883931416721967" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096883931416721967_300x413.83647798742.jpg" alt="13096883931416721967" width="307" height="413" />Salah satu isu besar dala  dunia maya adalah kepercayaan. Salah satu wujudnya adalah masalah otentifikasi. Tidak semua orang mau begitu <em>terang benderang</em> di dunia maya, termasuk pengungkapan identitas aslinya. Kadang kita juga menebak-nebak apakah gaya dan substansi kontennya bisa dijadikan pijakan untuk menduga-duga profil si pembuatnya. Tidak sedikit juga orang bersembunyi dibalik anonim atau nama alias di dunia maya. Dengan begitu, mereka bisa bebas lepas menuangkan ide atau informasi. Seolah identitas atau profesi yang sebenarnya menjadi penghalang untuk kebebasan. Dunia maya menjadi tempat persembunyian jati diri, namun tetap bisa berpetualang dan bersuara lantang lewat eksistensinya di dunia maya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin setiap orang mempunyai wujud elektroniknya, namun apakah itu <em>kloningan</em> atau <em>copy-paste</em> dari fisik ragawinya? Entahlah. Namun di kampusku, penyedia dan penulis konten harus terverifikasi sebagai mahasiswa. Bukan hanya sekedar wujud akuntabilitas publik atau implementasi kebijakan <em>open-content</em> untuk penyebaran konten kepada masyaralat saja, tapi perlu kejelasan siapa yang perlu diberi insentif atau apresiasi terhadap aktivitasnya di dunia maya. Apresiasi berupa nilai atau kelulusan mata kuliah yang memanfaatkan <a href="http://media.kompasiana.com/new-media/2011/06/19/student-journalism-lulus-kuliah-dengan-go-blog/" target="_blank"><em>student journalism</em></a> perlu kejelasan identitas mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Menutup Jurang</strong></em><em><strong></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua orang mempunyai kemampuan dan hak akses yang sama dalam pemanfaatan konten digital. Ada disparitas kemampuan, ada jurang koneksi dan akses informasi, dan ada kesenjangan kesempatan bergaya di dunia maya. Itu bisa antar kelompok, antar wilayah, antar jender, atau antar kelompok kepentingan, bahkan antar orang kaya dan miskin. Seolah, <a href="http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/05/22/dunia-maya-hanya-untuk-orang-kaya/" target="_blank">dunia maya hanya untuk orang kaya</a>. Kita sering menyebutnya dengan <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/03/29/new-economy-dan-kesenjangan-digital-1/" target="_blank"><em>digital divide</em></a>. Ketika sebagian orang atau wilayah tidak bisa hadir di dunia maya, dunia seolah tidak hadir di sana. Mereka seolah terisolir dari keterbukaan. Mereka seolah tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai berita dan perkembangan terkini seolah barang mahal yang tidak terjangkau. Terlepas mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak menganggapnya masalah, para penikmat dunia maya bisa saja mengatakan mereka tertinggal. Seperti t<a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/04/03/terpuruk-di-dunia-digital/" target="_blank">erpuruk di dunia digital</a>.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117448" title="1309710996799971359" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309710996799971359_300x196.89578713969.jpg" alt="1309710996799971359" width="300" height="196.89578713969" />Kesenjangan digital menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemerataan distribusi konten digital, termasuk konten pembelajaran di universitas. Jika kesenjangan digital masih hadir di universitas maya atau kelas maya, maka ada perbedaan peluang untuk berhasil. Tidak ada azas pemerataan karena perbedaan akses dan konektivitas, serta tingkat melek komputer atau internet yang berbeda-beda.  Jika kendala itu tidak ditangani dengan baik, maka ada tuntutan keadilan, ada komplain dan ketidakpuasaan, atau ada kegagalan pembelajaran. Jadi pastikan infrastruktur pendukung bisa mengurangi perbedaan itu. Yakinkan bahwa navigasi, tata letak, atau fitur layanan bisa mudah diakses dan dibaca oleh semuanya, setidaknya mayoritas. Namun, kaum minoritas harus tetap dilayani dan diperhatikan, khususnya untuk mengurangi disparitas kemampuan dan kemauan dalam memanfaatkan dunia maya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Banjir Menyapu Rak Buku</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117412" title="13096884781013450000" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096884781013450000_300x427.96208530806.jpg" alt="13096884781013450000" width="300" height="427.96208530806" /> Ledakan atau banjir informasi menjadi pertanyaan besar di masa depan. Seberapa kuat dan besarnya sebuah gudang penyimpanan konten elektronik bisa tetap menyimpannya dengan rapi dan awet, perlu dipertimbangkan matang oleh perguruan tinggi. Itu terjadi di dunia maya yang tanpa batas. Semua konten tersimpan dalam bentuk <em>bit</em>, yang pada dasarnya hanyalah rangkaian angka 0 dan 1, yang dapat memunculkan kombinasi yang bermakna membentuk informasi. Informasi menjadi barang digital yang diproduksi, didistribusikan, bahkan diperjual-belikan di dunia maya. <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/04/07/new-economy-digital-goods-vs-physical-goods/" target="_blank">Barang digital tersebut menjadi barang ekonomi</a>, yang juga ditawarkan di perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks terbatas-yaitu dunia pendidikan di dunia maya- puluhan ribu postingan dari mahasiswa bisa terpapar di internet. Ribuan modul <em>virtual-class</em> atau <em>e-learning</em> mungkin tersaji di papan digital. Ketika mengaksesnya, kita seolah tersesat di hutan belantara informasi. Analoginya, banyak buah di pohon yang begitu menggoda, namun ternyata berasa pahit, bahkan seperti racun. Kita pun bisa salah menduga ketika ternyata ada mutiara yang seperti terendam di comberan. Suatu waktu, kita pun tertarik dengan kerumunan dan keramaian di sebuah tulisan. Berebut melontarkan pujian dan sapaan. Semua merasa sudah memperoleh pembelajaran di sana. Atau, bisa juga sunyi sendiri menikmati tulisan lain. Memberikan komentar jujur, atau sekedar memberikan hiburan dan dorongan semangat untuk tetap menulis. Semua punya motif dan inisiatif yang berbeda-beda. Ada yang rajin menulis, ada yang hanya membaca. Ada yang berperan sebagai <em>uploader</em>, namun tidak sedikit yang tergolong <a href="http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/03/28/dowloader-society/" target="_blank"><em>downloader society</em></a>. Muara akhir dari banjir informasi tersebut adalah sepi dan kosongnya rak buku di perguruan tinggi. Ini menjadi tantangan terbesar bagi dosen dan mahasiswa agar serbuan konten digital sejatinya tidak menggantikan 100% fungsi pendidik dan pembelajar</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Reproduksi  Usang</em><em></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Barang digital memang awet, bahkan biaya reproduksinya pun murah. Orang ekonomi pun mengatakan bahwa biaya marginal barang digital mendekati nol- sebuah pertimbangan ekonomi yang logis dan ekonomis bagi para pembajak atau para plagiat. Para produsen barang digital yang telah mengeluarkan biaya riset dan pengembangan pun mencak-mencak karena begitu mudahnya barang digital di-c<em>opy paste</em> atau digandakan, termasuk yang sudah berpikir keras membuat tulisan. Dalam konteks konten pembelajaran pun sama saja. Biaya membuat materi pembeljaran online tergolong tinggi. Tidak dalam arti finansial, namun dilihat dari usaha dan kerja keras yang harus dikelurkan untuk membuat sebuah konten. Minimal sebagai hasil olah pikir atau renungan yang memeras otak.  Jadi tidak setiap saat pencipta konten bisa memproduksi konten baru. Jika jeda produksinya relatif lama maka konten pembelajaran pun bisa tidak berkelanjutan. Tidak ada upaya merespon komentar, atau menjawab pertanyaan dari khalayak.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117420" title="1309695964118733061" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309695964118733061_300x300.jpg" alt="1309695964118733061" width="300" height="300" />Konteks reproduksi tidak hanya diartikan sebagai kopi dan pasta yang cederung fisik tulisan, namun bisa juga diartikan reproduksi ide dan gagasan yang disampaikan turun temurun. Ilmu pengetahuan yang mengalir membentuk <em>road map</em> yang mematri para penemu dan pakar sepanjang aliran itu. Begitulah repoduksi pengetahuan dan wawasan dari guru ke murid, atau dari dosen ke mahasiswa, itupun kalau pengajaran bersifat searah, atau tidak mengakui bahwa guru dan dosen pun bisa sama-sama belajar bersama siswa dan mahasiswa. Aliran produksi atau reporduksi itu bisa terganjal dengan distorsi, atau penyelewenangan makna yang sesungguhnya dari produsen tulisan. <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/27/bias-di-kelas-itu-biasa/" target="_blank">Makanya, bias di kelas itu biasa</a>. Aspek produksi dan reproduksi tersebut bisa semakin lancar, bahkan mengalir deras di dunia maya. Pembelajar pun dijejali dengan produk-produk pengetahuan bak menu makanan yang siap disantap, namun tergantung selera dan tingkat kelaparan mahasiswanya. Jika proses produksi atau reproduksi itu berhenti, maka kampus maya akan sepi dan ditinggalkan. Kampus maya pun akhirnya mati suri. Menjelang ajal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Konflik dan Ancaman</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan ada di dunia maya. Kebermanfaatan pun tidak bisa dipungkiri telah hadir. Namun, sampah-sampah elektronik berupa tulisan pun bisa berserakan di sana. Berguna atau tidak bergunanya konten, masih bisa diperdebatkan. Namun kenyataannya, konten bisa dikerubuti, sepi pengunjung, bahkan menjadi sarana adu mulut yang tertuliskan. Pro dan kontra. Suka dan tidak suka terhadap konten menjadi bahan perdebatan, bahkan konflik yang bermuara di pengadilan di dunia nyata. Konten itu benar, konten itu salah. Konten ini baik, konten itu buruk. Terlepas dari debat benar dan salah, diskusi baik dan buruk, konten di dunia maya menjadi kajian etika dan estetika. Bahkan sudah menjadi obyek dan kajian peraturan dan perundangan. Dengan masuknya aspek hukum tersebut, sebuah konten atau transaksi digital sudah menjadi obyek hukum yang bisa dinyatakan benar atau salah.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117449" title="13097110431504331527" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13097110431504331527_300x198.64314789688.jpg" alt="13097110431504331527" width="300" height="198.64314789688" />Konflik dan perseteruan pun bisa terjadi demi mempertahankan benar atau salahnya ide, gagasan, pendapat, atau hasil pemikiran atau produk mental dari para penulis dan pembacanya. Saling menyerang bisa terjadi, yang tadinya hanya perdebatan biasa saja. Upaya penggalangan kubu pro dan kontra pun bisa terjadi. Dan akhirnya, pengadilan harus memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketika kebenaran dipertanyakan, maka perguruan tinggi termasuk garda terdepan yang diharapkan oleh masyarakat. Atas nama kebebasan akademik dan otonomi keilmuan, kampus pun- seharusnya- menjadi sebuah produsen informasi atau konten yang dapat dipertanggungjawabkan. Aspek etika, estetika, dan legalitas konten di dunia maya harus menjadi harga mati yang harus dipertahankan mati-matian oleh perguruan tinggi yang mencoba menawarkan <em>Virtual University</em>. Jika tidak, kampus pun bak menara gading yang terbuat dari benteng pasir yang dibuat anak-anak di tepi pantai. Begitu air pasang atau ombak datang, benteng pasir itu pun hancur tak berbekas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Asyik Sendiri</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117413" title="13096885161941266392" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13096885161941266392_300x219.86577181208.jpg" alt="13096885161941266392" width="300" height="219.86577181208" />Sering ada ledekan kepada penyuka gadget. Mereka sering disebut-maaf, seperti orang “gila”. Mereka seperti asyik dengan diri sendiri dengan bermodalkan HP atau <em>Notebook</em>. Waktu pun tersita untuk menggauli gadget yang seperti tidak bisa lepas dari tangan.  Dunia maya seolah mempunyai magnet yang bisa menyedot orang untuk terpenjara di dalamnya. Banyak tragedi atau kasus tentang dampak negatif dari dunia digital. Kehidupan sosial yang sesungguhnya seperti terisolasi. Dunia nyata dan dunia maya bisa saja tidak linear, bahkan seperti dua dunia yang berbeda. Memang tidak semuanya begitu, tapi selalu ada kasu pengecualian.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Silaturahmi </strong><strong>Semu</strong></em><em><strong></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hanya orang ajaib dan luar biasa yang bisa <em>manteng</em> 24 jam di dunia maya. Tapi orang ajaib tersebut semakin bermunculan di tengah maraknya kemajuan teknologi. Orang lebih banyak berdialog lewat pesan-pesan <em>offline</em> yang membanjiri <em>dashboard</em> layanan internet. Sapa dan gurauan pun hanya terbaca pada dialog tertulis. Namun dengan gadget yang semakin canggih, setiap langkah kita bisa memonitor lawan bicara di dunia, bahkan debat dengan musuh pemikiran pun bisa terus dipantau dalam genggaman tangan. Namun, ketika semua orang menyapa serentak dalam waktu yang sama, walaupun secara fisik entah ada dimana, begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk itu. Pilihan mode <em>synchronous</em> bisa menjadi jerat atau belenggu yang bisa melupakan eksistensi kita di dunia maya. Itulah tantangan lain yang harus dihadapi oleh pendidik yang memanfaatkan dunia internet dalam proses pembelajaran. Harus hadir terus, atau sesekali saja berkunjung untuk melihat aktivitas mahasiswanya di dunia maya. Jadi, pilihan mode <em>synchronous</em> atau <em>asynchronous</em> dalam model <em>e-learning</em> pun harus dipertimbangkan dengan tepat dan bijak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Berguru atau Diburu</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117414" title="1309688764389087905" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309688764389087905_300x193.6170212766.jpg" alt="1309688764389087905" width="300" height="193.6170212766" />Banyak perdebatan dan teori yang berseberangan tentang bagaimana sebaiknya manusia belajar. Otodidak pun menjadi salah satu kiblat dalam belajar yang seolah tergantung atau semaunya sendiri untuk belajar. Namun tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kemauan yang sama untuk sekedar belajar sendiri. Di sisi lain, konten yang bertebaran bak air bah di dunia maya, tidak otomatis bisa dicerna oleh semua orang. Seolah ada sekat atau segmen yang berbeda-beda untuk setiap konten. Sangat sulit membuat sebuah konten yang bisa dinikmati segala umur, semua profesi, segenap kelompok, dan seluruh pembaca tanpa melihat perbedaan di antara mereka. Untuk maksud pembelajaran yang diharapkan dapat ditangkap oleh pembaca, setiap tulisan mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menimbulkan kesan kuat yang akhirnya menempel menjadi sebuah pengetahuan. Proses penempelan informasi dari luar ke dalam otak manusia memang rumit. Konten di dunia maya belum tentu sama dan sebangun dalam otak pembaca dengan pemikiran dari pembuat konten. Aspek pedagogi pun tetap harus dipertimbangkan dalam perancangan dan implementasi <em>Virtual University</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika berguru ilmu dan wawasan di kampus maya ternyata gagal, maka pendidik dan pembelajar hanyalah korban dan sasaran dari gaya hidup dan <em>trend</em> teknologi. Semuanya hanyalah konsumen dunia maya yang tidak bisa dimaknainya sebagai sebuah media yang masih memungkinkan untuk dijadikan media pembelajaran. Niat berguru pun berbalik arah menjadi diburu produk digital dengan segala perangkat canggih yang begitu mudah untuk digenggam, disentuh dan dipijit dengan ujung-ujung jari. Dan itu saat ini sedang terjadi di negeri kita ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>*****</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang ditawarkan dunia maya bisa berujung pada ketergantungan terhadapnya. Seolah kerinduan tidak bisa disingkirkan ketika untuk sesaat kita terpisah dari dunia internet. Dunia maya yang begitu mudahnya diakses dari gadget model jadul sampai gaul, menjadi penggoda luar biasa di jaman modern ini. Seorang yang terisolir secara fisik, atau secara psikologis merasa terpinggirkan, dapat ditemani oleh dunia maya yang begitu setia menawarkan segala bentuk hiburan dan pertemanan. Semoga <em>Virtual University</em> tidak menjadi perangkap baru ketika dunia maya bersinergi dengan dunia pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seolah ada tapi tiada. Seolah mendekat tapi tak bisa didekap.  Mungkinkah <em>Virtual University</em> terwujud nyata dan bermakna di Indonesia ?</p>
<p style="text-align: justify;">—-</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan:</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar-Gambar ilustrasi diambil dari file presentasi Dr Jamil Salmi pada Seminar “<a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/08/mengejar-world-class-university-pakai-ojek/"><strong>Tertiary Education” in the 21st Century: Opportunities and Challenges</strong></a>” pada tanggal 8 Juni 2011 di Kementrian Pendidikan Nasional.</p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=350&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/%e2%80%9cvirtual-university%e2%80%9d-fatamorgana-pendidikan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KULIAH, Dulu Semurah Barang Primer, Kini Barang Mewah</title>
		<link>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 16:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Rp 0,6 Juta- atau 150 ribu per tahun- sudah cukup untuk memperoleh gelar sarjana dari sebuah PTN di Bogor. Memang ada welas asih dari orang tua untuk konsumsi sebesar Rp 50 Ribu per bulan, atau Rp 2,4 Juta selama empat tahun. Biaya kos sebesar 200 ribu setahun, atau Rp 0,8 Juta sampai jadi sarjana. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Rp 0,6 Juta- atau 150 ribu per tahun- sudah cukup untuk memperoleh gelar sarjana dari sebuah PTN di Bogor. Memang ada welas asih dari orang tua untuk konsumsi sebesar Rp 50 Ribu per bulan, atau Rp 2,4 Juta selama empat tahun. Biaya kos sebesar 200 ribu setahun, atau Rp 0,8 Juta sampai jadi sarjana. Dengan total anggaran Rp 3.8 Juta, sudah cukup untuk papan- walau hanya sewa, pangan- walau Indomie, tahu dan tempe saja, serta pakaian alakadarnya. Yang penting, tetap bisa jadi sarjana juga. Angka itulah yang dikeluarkan oleh orang tua dengan susah payah saat itu. Tidak ada biaya lainnya. Masih untung, riset skripsi pun gratis karena <em>nebeng</em> di sebuah Balai Penelitian milik pemerintah. Namun, itu dulu, sekitar 25 tahun yang lalu. Uang segitu sekarang hanya cukup untuk biaya <em>ini-itu</em> untuk satu keluarga kecil di Jakarta selama empat minggu saja.<span id="more-346"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kini, beberapa teman gembira luar biasa ketika anak-anaknya diterima di PTN ternama di Jakarta. Namun ternyata, dua teman saya harus menyediakan uang sebesar Rp 33 Juta sebagai tanda masuk. Ada anak dari teman lain yang berhasil masuk kedokteran di PT yang sama mendapat keringanan biaya, namun tetap harus membayar belasan juta juga. Itu belum termasuk biaya BPP dan SKS yang harus dibayar setiap semester. Masih untung orang tuanya masih tinggal di sekitar Jakarta. Lumayan masih bisa menghemat biaya kos, sarapan, atau makan malam. Tinggal menyediakan biaya transportasi dan makan siang di sekitar kampus. Estimasi biaya untuk mendapat ijazah sarjana bisa di atas Rp 50 Juta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>OK</em>, supaya bisa konsisten dan bisa diutak-atik runtut waktu, kita gunakan biaya pendidikan dengan PTN yang sama dengan 25 tahun lalu, yaitu IPB. Rincian berbagai kompenen anggarannya untuk tahun ajaran 2011/2012 bisa dilihat di websitenya di <a href="http://alihjenis.ipb.ac.id/?q=biaya" target="_blank">sini</a> per hari ini, 10/07/11.</p>
<p style="text-align: justify;">Biaya awal- yang disebut dengan Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas (BPIF)- dipatok sama yaitu sebesar Rp 10 juta, serta Biaya Perlengkapan Mahasiswa Baru (BPMB) sebesar Rp 1,4 Juta. Sebelumnya, biaya pendaftaran untuk tes seleksi dikenakan Rp 500 Ribu. Kita asumsikan saja mahasiswanya bisa lulus selama empat tahun, atau 8 semester. Setiap semester ada biaya lagi yang disebut Biaya Peningkatan Mutu Pendidikan (BPMP) sebesar Rp 2 Juta, atau Rp 16 Juta untuk empat tahun. Jika selama empat tahun setiap mahasiswa mengambil mata kuliah- misalnya sebanyak 140 SKS- maka Biaya Penyelenggaraan Mata Kuliah (BPMK) adalah- kita ambil biaya SKS termurah yaitu Rp 125 Ribu- sebesar 140 sks X Rp 125 Ribu, atau Rp 17,5 Juta untuk emapt tahun. Di akhir semester ada lagi biaya mata kuliah tugas akhir (Kerja Praktek, Magang, Kolokium, Seminar, dan Skripsi) sebesar Rp 300 Ribu. Jadi estimasi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan adalah sekitar Rp 45 Juta lebih sedikit. Itu perkiraan minimal dengan asumsi tidak ada biaya lainnya, termasuk tidak memperhitungkan biaya hidup di Bogor untuk kos, transportasi, dan konsumsi, serta biaya riset tugas akhir yang pasti dibebankan kepada mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-118567" title="1310289529609607443" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1310289529609607443.jpg" alt="1310289529609607443" width="600" height="469" />Dulu 0,6 Juta, kini 45 juta. Sungguh luar biasa bedanya. Dulu murah, sekarang benar-benar mewah. Namun, sebentar, kayaknya tidak adil jika utak-atik uang tidak memperhitungkan nilai waktu uang. Para ahli sih menyebutnya dengan <em>time value of money</em>. Tidak usah ribet dengan teori uang dan bunga. Andaikan uang sebesar 600 ribu disimpan selama 25 tahun dengan bunga 10 persen saja hanya berkembang menjadi Rp 6,5 Juta saja. Uang 0,6 Juta tersebut baru bisa menjadi 45 Juta jika tingkat suku bunganya minimal sekitar 106 persen per tahun. Jadi selama kurun waktu seperempat abad, biaya pendidikan sudah membengkak lebih dari 100 kali lipat. Walau ini hanya <em>pat-pat gulipat</em> sederhana, namun hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan bukan lagi barang sederhana yang bisa dinikmati oleh penduduk Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita coba pakai perbandingan harga antar dua komuditas dalam dua kurun waktu yang berbeda. Dulu, 0,6 juta jauh lebih rendah dari uang makan  sebesar 2,4 Juta (50 Ribu per bulan x 48 bulan) selama empat tahun. Jadi, biaya pendidikan hanya seperempat dari biaya hidup. Kini, katakanlah biaya hidup mahasiswa sekarang sebesar 50 Ribu per hari, atau satu juta per bulan- angka ini sudah sangat mencukupi atau di atas rata-rata uang jajan mahasiswa- maka selama 4 tahun nilainya adalah 48 juta. Jadi, sekarang biaya pendidikan setara dengan biaya hidup mahasiswa dalam kurun waktu yang sama. Jika biaya tersebut dibebankan ke orang tua, maka biayanya menjadi dua kali lipatnya, atau mendekati 100 Juta. Atau dengan ukuran per bulan, orang tua harus menyisihkan dana minimal sebesar Rp 2 Juta per bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Uang sebesar Rp 2 Juta per bulan yang disisihkan selama empat tahun tentu bukan menjadi masalah buat orang berada. Namun buat keluarga miskin, yang pendapatannya dipatok oleh BPS sebesar Rp 233.740 per bulan, pendidikan tinggi menjadi komoditas super mewah, yang mungkin hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Memang masih ada harapan dengan kebijakan bahwa PT wajib mengalokasikan kursi mahasiswa baru minimal 20 persen untuk keluarga miskin. Anggaran pendidikan pun sudah dipatok minimal 20 persen dari anggaran pemerintah. Namun, itupun masih banyak hambatan dan tidak bisa menampung semua warga yang bercita-cita menjadi seorang sarjana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, pendidikan tinggi lebih murah dari harga barang pokok. Kini, sudah menjadi barang mewah. <em>Duh</em>, mengapa ada kerinduan dengan masa lalu terbersit di hati ini. Bisakah lorong waktu diputar kembali ke masa itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/07/10/pt-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/" target="_blank"><strong>KOMPASIANA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=346&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/opini/kuliah-dulu-semurah-barang-primer-kini-barang-mewah/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis adalah Proses Mengasah Kepekaan</title>
		<link>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 17:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wahana Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi penulis membuat setiap kita secara tak langsung menjadi pengamat kehidupan. Pemerhati lebih tepatnya. Terhadap hal apapun yang terjadi disekitar kita. Menulis membuat orang menjadi lebih peka dan peduli akan sesuatu. Kejadian dan peristiwa apapun terekam dengan baik dalam memori. Dengan menulis pula kita  terlatih untuk pandai menangkap momen, mengolah kata, mengolah rasa dan  mengolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menjadi penulis membuat setiap kita secara tak langsung menjadi pengamat kehidupan. Pemerhati lebih tepatnya. Terhadap hal apapun yang terjadi disekitar kita. Menulis membuat orang menjadi lebih peka dan peduli akan sesuatu. Kejadian dan peristiwa apapun terekam dengan baik dalam memori. Dengan menulis pula kita  terlatih untuk pandai menangkap momen, mengolah kata, mengolah rasa dan  mengolah makna.<span id="more-343"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian biasa bukan tak mungkin bisa menjadi sangat luar biasa ketika dituangkan begitu apik dalam sebuah tulisan. Kesedihan bisa digambarkan dengan begitu dramatis, hingga siapapun yang membacanya bisa ikut terharu, seolah mengalami sendiri. Begitu pula saat ada kelucuan, boleh jadi tulisan yang dibuat bisa jauh lebih lucu dari kejadian yang sesungguhnya, hingga mampu membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Demikian dahsyatnya daya pikat sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun awalnya tak terlalu menyadari hal ini. Sampai suatu saat, sambil bercanda teman-teman meledek saya, saat kami bertemu dalam sebuah kesempatan. Ketika teman-teman saya asyik saling bercerita, saat itu saya hanya diam mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan tersenyum. Tentu saja saya sibuk menyimak pengalaman seru yang mereka ceritakan. Tiba-tiba tanpa saya duga seorang teman saya nyeletuk. Eh…hati-hati lho, nanti ada yang nulis cerita kita, jangan-jangan nanti dibikin buku lagi…sambil ngelirik saya yang sejak tadi diam saja. Heee…tiba-tiba saya jadi tertuduh diantara mereka. Seolah mereka dapat membaca pikiran saya. Sayapun menanggapi, ehhh….kok  pada tau siii???  Ya iyalah…sahut mereka kompak… lo kan sekarang ga bisa denger cerita, dikit-dikit ditulis, ga beda deh ma intel…hahaha… Berderai tawa kami bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya tak ada yang salah dengan candaan mereka. Benar adanya. Rajin menulis membuat semua hal di sekeliling kita adalah sumber inspirasi. Kalau orang lain bisa melewatkan momen begitu saja. Tentu tidak begitu bagi kita yang terbiasa menulis. Benar pula kata teman saya, seperti kerja seorang intel, telinga dan  mata kita siaga melihat dan mendengar apapun informasi berharga.</p>
<p style="text-align: justify;">Inspirasi dan bahan tulisan sesungguhnya terserak dimanapun. Hanya butuh kepekaan kita untuk menggalinya. Dengan menulis kepedulian kita akan sesuatu hal lebih terasah. Ketidakadilan. Penindasan. Kezhaliman. Kemiskinan. Kebahagiaan. Kesedihan. Tak terkecuali perasaan hati. Semua bisa diterjemahkan dalam uraian kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah hal positif yang bisa kita dapat dari menulis. Tumbuhnya kepedulian. Jiwa bisa menjadi sangat lembut, Sensor hati menjadi sangat sensitif, karena kepekaannya terasah dengan baik. Tidak dingin. Tidak apatis.  Sesungguhnya dengan menuliskan suatu peristiwa, apalagi bila itu tentang ketidakadilan ataupun sesuatu yang menginspirasi banyak orang, ini sudah merupakan sumbangsih. Kita sudah bergerak dan berbuat melalui kata dalam tulisan. Menyuarakan sesuatu. Tentu ini lebih baik dibanding hanya berdiam diri. Meski mungkin masih sebatas sumbangsih kecil. Tapi siapa yang tahu bila langkah kecil ini suatu saat bisa sampai pada cita-cita besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi bila disuarakan di media sosial semacam kompasiana. Bukan tak mungkin suara kecil kita terdengar. Gaungnya sampai kemana-mana. Tentu outputnya adalah tercipta perubahan. Yang bisa menjadi solusi dari permasalahan. Dan rasanya itu bukan lagi mimpi. Sudah banyak contohnya disini.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya tetaplah menulis. Suarakan apa yang tak pas dengan nurani kita. Dan tunggulah outputnya…</p>
<p style="text-align: justify;">Keep writing kawan…</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/11/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/" target="_blank"><strong>KOMPASIANA</strong></a></p>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=343&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/wacana/menulis-adalah-proses-mengasah-kepekaan/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 4</title>
		<link>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-4/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-4/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 02:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Setelah keluarnya artikel Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 3 dan kini telah ditemukan data-data terbaru tentang sejarah dibobolnya website UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur.Kita lihat sendiri dari artikel &#8211; artikel yang sebelumnya, dimana website UPN telah disusupi sedemikian rupa. Namun hingga kini masih banyak ditemukan data-data baru tentang website UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur. Telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Setelah keluarnya artikel <a href="http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%E2%80%9Cveteran%E2%80%9D-jatim-di-hack-part-3/index.html" target="_blank"><strong>Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 3</strong></a> dan kini telah ditemukan data-data terbaru tentang sejarah dibobolnya website UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur.Kita lihat sendiri dari artikel &#8211; artikel yang sebelumnya, dimana website UPN telah disusupi sedemikian rupa. Namun hingga kini masih banyak ditemukan data-data baru tentang website UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur.<span id="more-301"></span><br />
Telah terjadi penyusupan di situs UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur dari tahun 2005, 2008, dan 2011. Namun masih ada beberapa data terbaru dimana website UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur telah disusupi untuk kesekian kalinya pada tahun 2009. Inilah Screenshot nya :</div>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://i472.photobucket.com/albums/rr90/babycorp/GankTeamZ.jpg" target="_blank"><img src="http://i472.photobucket.com/albums/rr90/babycorp/GankTeamZ.jpg" alt="" width="610" height="300" border="0" /></a></div>
<div style="text-align: justify;">Dia memberi nama <strong>GankTeamZ</strong>. Hacker satu ini hanya menyisipkan sebuah file di http://www.upnjatim.ac.id/pesan.txt pada tahun 2009 yang berisi :</div>
<div style="text-align: justify;">
<pre>Hello admin!
Beware, your site has been hacked by GankTeamZ..
Check your security regularly..

I dont do anything in this website, just inform you.. <img src='http://www.limaupn.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />
Contact us : gank_team@yahoo.com 

Thanks..
"Nobody Is Perfect"</pre>
</div>
<div style="text-align: justify;">Berdasarkan data yang telah terkumpul, GankTeamZ telah menyusupi beberapa website penting yaitu :</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>- ns1.jogjakarta.go.id/pesan.txt</strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>- www.upnjatim.ac.id/pesan.txt</strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>- www.jawi.gov.my/melayu/pesan.txt </strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>- ict.pontianak.go.id/pesan.txt</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Sudah terlalu banyak para hacker yang menyusupi UPN &#8220;Veteran&#8221; Jawa Timur, masihkah ada lagi hacker-hacker baru yang melakukan hal seperti ini lagi ? Sudah saat nya para pengelola website UPN sadar bahaya nya mengelola sebuah website, dan diharapkan agar meningkatkan kinerja nya untuk tetap mengamati sistem. Hal ini perlu dilakukan agar website UPN tetap termonitor dengan baik tanpa ada penyusup yang menyusupi sistem website UPN, karena website sebuah kampus akan menjadi berbahaya bila para penyusup dapat melakukan perubahan terhadap data-data penting semisal perubahan nilai mahasiswa.</div>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=301&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-4/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 3</title>
		<link>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-3/index.html</link>
		<comments>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-3/index.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 02:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terkini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.limaupn.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Setelah keluarnya artikel Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Orang tak dikenal dan Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 2 Maka kini mari kita bahas tentang part ke 3 nya. Kita lihat sendiri dari artikel &#8211; artikel yang sebelumnya, dimana website UPN telah disusupi sedemikian rupa. Namun ternyata ada yang lebih parah dimana website [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Setelah keluarnya artikel <a href="http://www.limaupn.com/berita/website-upn-veteran-jatim-di-hack-orang-tak-dikenal/index.html" target="_blank"><strong>Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Orang tak dikenal</strong></a> dan <a href="http://www.limaupn.com/berita/website-upn-veteran-jatim-di-hack-part-2/index.html" target="_blank"><strong>Website UPN “Veteran” Jatim di Hack Part 2</strong></a> Maka kini mari kita bahas tentang part ke 3 nya. Kita lihat sendiri dari artikel &#8211; artikel yang sebelumnya, dimana website UPN telah disusupi sedemikian rupa. Namun ternyata ada yang lebih parah dimana website UPN telah dirusak total oleh seorang yang terkenal dalam dunia hacking.<br />
Sudah terlalu banyak Ilmu &#8211; ilmu atau tutorial <strong>&#8220;Hacking&#8221;</strong> yang memang kini telah menjamur, yang telah dipublikasikan oleh para Dedengkot Dunia Maya. Hingga anak sekelas SMP pun kini dapat menyusupi sebuah website. Namun hacker satu ini yang telah menyusupi sistem website di UPN merupakan hacker yang telah lama bermain di dalam dunia maya dan telah memasuki sistem website UPN sejak tahun 2005. <span id="more-276"></span>Inilah Screenshot nya :</div>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://i472.photobucket.com/albums/rr90/babycorp/iskorpitx.jpg" target="_blank"><img src="http://i472.photobucket.com/albums/rr90/babycorp/iskorpitx.jpg" alt="" width="610" height="300" border="0" /></a></div>
<div style="text-align: justify;">Dia adalah <strong>iSKORPiTX</strong>, hacker yang berasal dari Turki yang hingga hari ini telah mendeface 450.000 website di seluruh dunia, begitu juga termasuk indonesia. Dari 450.000 website yang telah dia susupi, ada sekitar 68,000 IP dan sekitar 383,000 website yang terkena mass defacements. Berdasarkan data yang telah terkumpul, iSKORPITX telah menyusupi website UPN pada tanggal 4 oktober 2005 pukul 10.16 WIB dengan bukti memasukan file berupa index.htm dimana file tersebut akan mengambil alih halaman depan website UPN.</div>
<div style="text-align: justify;">Entah bagaimana dia bisa memasuki sistem UPN, namun hal seperti ini sudah diketahui UPN pada tahun 2005 dan seharus nya UPN dapat menutup patch untuk bug yang ada di sistem UPN sendiri.</div>
<img src="http://www.limaupn.com/?ak_action=api_record_view&id=276&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.limaupn.com/berita/website-upn-%e2%80%9cveteran%e2%80%9d-jatim-di-hack-part-3/index.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

