LIMA UPN "Veteran" Jawa Timur

Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM

APA SELANJUTNYA YANG BISA DAN PERLU SAYA KERJAKAN ?

Posted by admin On September - 21 - 2008

APA SELANJUTNYA YANG BISA
DAN PERLU SAYA KERJAKAN ?

Tulisan ini lebih banyak merupakan renungan. Renungan tentang kehidupan saya selama ini, dan juga kehidupan di masa selanjutnya. Oleh karena itu, renungan yang kali ini berupa tulisan yang cukup panjang. Mengapa merenungkannya? Sebab, ketika tulisan ini dibuat, umur saya sudah menginjak 74 tahun. Menurut hukum alam, umur yang sekian itu merupakan tahap-tahap yang terakhir dalam kehidupan manusia. Dan saya tidak dapat mengetahui, sekarang ini, sampai kapankah saya masih bisa hidup di dunia ini. Lima tahun lagi? Sepuluh tahun? Lima belas tahun?

Betapa pun juga, pada akhirnya, atau pada waktunya, saya toh akan meninggalkan dunia ini, seperti halnya manusia lainnya. Inilah hukum alam, yang seluruh manusia di dunia ini, sejak ratusan ribu tahun yang lalu (bahkan jutaan tahun yang lalu) , tidak bisa melawannya atau mengobahnya. Semua manusia akhirnya akan mati juga, pada waktunya. Inilah yang pasti akan saya alami juga. Entah kapan.

Mengingat itu semua, maka kadang-kadang timbul pertanyaan terhadap saya sendiri : untuk apa sisa hidup saya selanjutnya dan apa saja yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan seterusnya? Dan apa lagi yang masih saya cari dalam hidup ini? Kalau mengenang kembali apa saja yang sudah terjadi dalam jalan hidup saya, maka merasa bahwa hidup saya ini tidak sia-sia. Baik sebagai manusia biasa, atau sebagai suami, atau sebagai bapak dari anak-anak

Telah begitu banyak hal dan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup saya selama ini, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, seperti yang dialami juga oleh manusia-manusia lainnya. Di antara berbagai hal dan peristiwa yang pernah saya alami itu ada yang merupakan bagian-bagian yang amat penting bagi sejarah hidup saya.Namun, apalah arti itu semuanya, kalau kita ingat bahwa saya ini hanyalah satu bagian yang amat kecil sekali dari bangsa Indonesia yang sekarang (dalam tahun 2002) berjumlah sekitar 210 juta orang. Apalagi, kalau diingat bahwa penduduk dunia dewasa ini sudah mencapai 6,2 miliard (menurut angka-angka PBB).

Kalau diingat bahwa alam semesta ini sudah terbentuk sejak 4 ribu juta tahun yang lalu (menurut ahli-ahli di NASA dan para peneliti ilmiah di Queensland University) dan bahwa manusia sudah mulai muncul di dunia sejak jutaan tahun, maka makin nyatalah bahwa hidup kita di dunia ini (termasuk hidup saya sendiri) hanyalah sebentar saja, dan bahwa kita ini semua hanyalah merupakan sebagian yang amat amat kecil sekali dari alam semesta ini.

LIKA-LIKU JALAN HIDUP DI MASA LALU.

Ketika umur sudah makin tua, dan sisa hidup makin berkurang terus, maka apa sajakah yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan selanjutnya? Dalam kehidupan di masa-masa yang lalu, beraneka-ragam kegiatan sudah saya lakukan dan berbagai pengalaman sudah saya lalui. Ketika masih pemuda umur 17 tahun saya sudah ikut dalam pertempuran 10 November di kota Surabaia dalam (tahun 1945). Bersama-sama dengan sejumlah pelajar SGL (Sekolah Guru Laki-laki) Blitar dan SMP Kediri, saya pernah menggabungkan diri dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur. Dalam tahun 1946, saya telah dikirim oleh Kementerian Dalamnegeri RI sebagai anggoata delegasi API (Angkatan Pemuda Indonesia) ke Sumatera. Setelah menjadi guru Sekolah Dasar sebentar di Malang dan pegawai toko buku Van Dorp di Surabaia (tahun 1948-1949) maka dalam tahun 1950 saya mulai memasuki lapangan kerja di bidang jurnalistik dengan bekerja di suratkabar Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis (sampai 1953).

Dalam tahun 1953 saya menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Internasional Hak-Hak Pemuda yang diselenggarakan di Wina (Austria), yang disambung dengan kunjungan ke Uni Soviet dan RRT sebagai tamu Gabungan Pemuda Seluruh Tiongkok waktu itu. Setelah kembali ke Indonesia (akhir tahun 1953) saya mulai bekerja di Harian Rakyat di Jakarta, sampai pertengahan 1956. Sejak tahun 1956 sampai tahun 1960 saya kemudian memimpin suratkabar HARIAN PENERANGAN di Padang, ketika terjadi pembrontakan PRRI dan dilancarkannya Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel A. Yani. Mulai tahun 1960 sampai meletusnya G30S dalam tahun 1965, saya memimpin harian EKONOMI NASIONAL di Jakarta, dan menjadi pengurus PWI Pusat sejak tahun 1963. Dalam tahun 1963, ketika diselenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika, saya juga menjabat sebagai bendaharanya, dan diteruskan menjadi pengurus Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika yang berpusat di Jakarta.

Dengan terjadinya G30S, maka jalan hidup saya mengalami perobahan yang besar sekali. Pada tanggal 14 September 1965, saya meninggalkan Jakarta sebagai anggota delegasi Indonesia dalam konferensi internasional IOJ (International Orgnisation of Journalists) di Santiago (Chili) dan kemudian meneruskan perjalanan ke Aljazair untuk mempersiapkan diselenggarakannya KWAA (Konferensi Wartawan Asia-Afrika) yang kedua di negeri tersebut. Di Aljazair inilah saya mendengar berita tentang terjadinya G30S. Karena kemudian saya mendengar bahwa EKONOMI NASIONAL bersama-sama dengan sejumlah koran lainnya ditutup dan rekan-rekan wartawan mulai ditangkapi oleh Suharto dkk, maka kemudian saya menggabungkan diri kepada PWAA yang dipindahkan dari Jakarta ke Peking. Selama 7 tahun lebih saya tinggal di RRT dan bekerja di PWAA, ketika di Tiongkok sedang dilancarkan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Dalam tahun 1974 saya pergi ke Perancis dan minta suaka politik. Sejak itu, sampai sekarang, saya tinggal di Prancis.

Catatan yang amat singkat-singkat – dan secara garis-besar – tentang itu semua menunjukkan betapalah berliku-likunya sebagian dari jalan hidup saya di masa lalu, sebelum menetap di Prancis. Banyak di antara hal-hal atau peristiwa semasa itu yang menjadi kenang-kenangan yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi hidup saya. Namun, setelah saya menetap di Prancis pun banyak hal dan peristiwa penting yang telah makin memperkaya perjalanan hidup saya.

KEHIDUPAN DI PRANCIS YANG PADAT

Sejak saya datang ke Prancis dalam tahun 1974 dari Tiongkok, maka dapatlah dikatakan bahwa sebagian terbesar dari kehidupan saya telah saya curahkan untuk ikut serta dalam perjuangan melawan kekuasaan regime Orde Barunya Suharto dan konco-konconya. Memang, saya telah meninggalkan Tiongkok pada akhir tahun 1973 dengan tujuan untuk mencari cara dan jalan yang lebih cocok dalam melakukan perlawanan terhadap regime Orde Baru.

Oleh karena itu, walaupun beberapa bulan setelah saya tiba di Paris saya dapat bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pertanian Prancis, namun saya menganggap bahwa “kehidupan saya sesungguhnya” adalah yang di luar jam kerja yang resmi itu. Dengan maksud untuk membangun jaring-jaringan persahabatan dan solidaritas dalam melawan regime Orde Baru, saya aktif mengadakan hubungan dengan berbagai golongan di kalangan Katolik, Protestan, Trotskis, Komunis, Sosialis, dan ikut serta dalam beraneka-ragam kegiatan yang dilakukan organisasi-organisasi atau LSM Prancis. Kemudian, ternyatalah bahwa berkat kegiatan yang bersegi banyak dan beraneka-ragam itulah maka bisa terjalin jaring-jaringan solidaritas yang bisa memudahkan atau memungkinkan dilaksanakannya banyak usaha dan kegiatan yang ada hubungannya dengan perjuangan melawan regime Orde Baru.

Beberapa hari sesudah saya menginjakkan kaki di Paris, saya bergaul dengan teman-teman Prancis dari golongan Katolik “kiri” yang aktif dalam mendukung perjuangan rakyat Vietnam dalam melawan Amerika Serikat dan juga perjuangan rakyat-rakyat Dunia Ketiga dalam melawan kolonialisme dan imperialisme (waktu itu). Karena Paris merupakan kota, sejak dulu, di mana terdapat banyak organisasi (nasional maupun internasional) yang melakukan beraneka-ragam kegiatan politik dan sosial yang bertujuan humaniter, atau memperjuangkan kebebasan manusia dan keadilan, maka menyatukan diri atau ikut dalam berbagai kegiatan itu merupakan cara penting untuk menjalin hubungan. Terjalinnya banyak hubungan persahabatan dengan berbagai fihak ini ternyata amat berguna bagi kegiatan-kegiatan saya selanjutnya di kemudian hari, sampai sekarang.

Sejak datang ke Paris, berbagai pengalaman telah saya peroleh. Dalam bulan-bulan pertama, saya ikut membantu berdirinya satu toko buku dan penerbit l’Harmattan. L’Harmattan sekarang ini menjadi besar dan terkenal di Prancis sebagai penerbit yang mengutamakan penerbitan buku-buku tentang Dunia Ketiga (terutama Afrika, Amerika Latin, dan juga Asia). Setelah saya dalam pertengahan tahun 1975 diterima sebagai pegawai Kementrian Pertanian Prancis, dan masalah untuk makan sehari-hari dan tempat tinggal sudah mulai terpecahkan (walaupun secara terbatas sekali) maka saya bisa melakukan berbagai kegiatan dengan lebih mantap.

Dalam usaha untuk “memperkenalkan diri”, maka saya telah menulis soal-soal situasi di Indonesia dalam berbagai media Prancis, di antaranya dalam majalah Temoignage Chretien (dengan nama samaran), dan kemudian juga untuk Le Monde Diplomatique (dengan nama A. Umar Said). Dalam tahun 1976, dengan kedatangannya Jose Ramos Horta sebagai pimpinan Fretilin (waktu itu) ke Eropa untuk pertama kalinya, saya telah menemuinya di Holland dan kemudian mengundangnya ke Paris untuk mengadakan rapat besar tentang agresi tentara Suharto ke Timor Timur. Sejak itulah maka berdirilah ASTO ( Association de Solidarité avec Timor Oriental), yang tergolong komite tentang Timor Timur yang tertua di dunia. Sampai sekarang (dalam tahun 2002), saya masih aktif dalam organisasi yang sudah berumur lebih dari seperempat abad ini. Oleh karena itu, saya merasa senang dapat pergi ke Dili untuk ikut menghadiri upacara perayaan Hari Kemerdekaan Timor Timur pada tanggal 20 Mei tahun 2002.

Ketika saya sudah mulai bekerja di Kementerian Pertanian Prancis, saya pernah mondar-mandir dari Prancis ke Jerman Barat (waktu itu), ke Holland, Swedia, Albania dan ke Tiongkok untuk ikut membantu pengaturan kedatangan sejumlah teman-teman yang ingin tinggal menetap di berbagai negeri Eropa. Bertahun-tahun lamanya, saya bersama sejumlah besar teman-teman ( baik Indonesia, Belanda, Jerman dll) telah mengadakan stand besar dalam pesta tahunan yang diselenggarakan suratkabar Partai Komunis Prancis l’Humanite. Banyak soal yang bisa diceritakan tentang itu semua.

APA SELANJUTNYA YANG MASIH BISA SAYA KERJAKAN ?

Dalam bukan Mei 1982 saya mengundurkan diri dari pekerjaan di Kementerian Pertanian Prancis, karena berbagai pertimbangan. Di antaranya, adalah dengan tujuan untuk bisa ikut membantu pemecahan berbagai persoalan yang dihadapi oleh sejumlah besar teman-teman Indonesia, yang mulai berdatangan dari Tionkok, Albania dan lain-lain tempat. Dalam rangka inilah maka saya telah mengambil inisiatif, untuk bersama-sama dengan sejumlah teman-teman lainnya (baik Indonesia maupun Prancis) mendirikan restoran koperasi INDONESIA, yang dalam tahun 2002 ini akan merayakan ultangtahunnya yang ke-20. Berdirinya restoran koperasi INDONESIA di Paris mengandung banyak pengalaman yang berharga dan juga mempunyai arti yang besar, yang mungkin menarik untuk diketahui oleh banyak orang.

Sebagai orang yang menjadikan jurnalistik sebagai profesi dalam hidupnya, pengalaman saya menerbitkan majalah bulanan dalam bahasa Prancis, selama sepuluh tahun (antara 1986 sampai 1997), juga merupakan bagian hidup saya yang menarik. Majalah bulanan ini bernama Chine Express, yang ditujukan untuk perusahaan-perusahaan Prancis yang ingin berhubungan dengan Tiongkok. Pekerjaan ini tidak mudah, sebab segala-segalanya terpaksa harus dikerjakan sendirian. Cerita tentang soal ini juga banyak. Jadi, kehidupan saya selama di Prancis cukuplah padat. Sebab, di samping itu semuanya, masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan masalah-masalah di Indonesia.

Sejak tahun 1986, saya menulis artikel-artikel yang disiarkan oleh Apakabarnya John Macdougall. Bertahun-tahun saya pakai berbagai nama samaran, dan baru sejak tahun 1998, saya memutuskan untuk memakai nama saya yang asli. Ketika dalam tahun 1996 saya bisa berkunjung ke Indonesia (sesudah lebih dari 30 tahun tidak menginjaknya), maka saya mengadakan sejumlah kegiatan bersama-sama dengan banyak kawan di Indonesia. Dalam tahun 2000 saya menjadi anggota rombongan Madame Danielle Mitterrand, yang berkunjung ke Indonesia, dalam rangka mengangkat masalah-masalah eks-tapol dan para korban regime Orde Baru pada umumnya..

Ketika merenungkan itu semuanya, terasalah bahwa jalan hidup saya memang berliku-liku dan juga padat sekali dengan berbagai persoalan dan pengalaman. Dan mengingat bahwa umur sudah makin tua, maka saya kadang-kadang bertanya kepada diri sendiri, apa sajakah selanjutnya yang masih bisa dan masih perlu saya kerjakan? Walaupun saya sekarang sudah pensiun, dan umur pun sudah makin lanjut, rasanya, bagi saya, tidak bisa lain kecuali mengikuti arah besar yang sudah mulai saya tempuh sejak pertempuran di Surabaia 10 November 1945. Namun, ini harus saya lakukan sesuai dengan situasi dunia – dan di Indonesia – yang terus-menerus mengalami perobahan, dan juga kondisi fisik pribadi yang sudah tidak muda lagi.

Sering saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya hanyalah “sesuatu” yang merupakan bagian yang amat kecil sekali dari alam semesta yang begitu besar, dan yang sudah berumur jutaan tahun ini. Dan juga bahwa saya hanyalah satu dari mahluk manusia yang sekarang berjumlah lebih dari 6000 juta orang di bumi ini. Dan juga bahwa, seperti halnya mahluk-mahluk lainnya, maka pada suatu saat saya juga akan hilang ditelan oleh waktu dan sejarah. Ketika ingat kepada hal-hal itu semuanya, maka saya berketetapan hati untuk menggunakan sisa hidup saya untuk terus berusaha berbuat sesuatu yang berguna bagi umat manusia.

Popularity: 5% [?]

Leave a Reply