LIMA UPN "Veteran" Jawa Timur

Lumbung Informasi Mahasiswa UPN JATIM

“Virtual University”, Fatamorgana Pendidikan ?

Posted by admin On July - 14 - 2011

1309687977256004103Ribuan hape dan ratusan notebook dibagikan  ke mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta. Trend seperti itu juga sudah diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia.. Hape- walaupun tidak high specs- dan notebok tersebut digunakan untuk mengakses informasi akademik dan media pembelajaran elektronik. Sekali klik semua terpampang. Sekali pijit, jadwal kuliah pun terpajang. Sekali login, semua materi pembelajaran sudah terpajang. Sekarang tidak ada lagi papan pengumuman, mading, atau tempelan kertas di kaca-kaca. Fotocopy materi dosen sudah jarang. Tinggal download di website dosen, Tinggal ngakses di virtual-class. Atau copy e-book yang tersedia gratis. “Education in Your Hand“, begitulah tagline yang dicoba diusung. Seolah dunia ada dalam genggaman. Bahkan, genggaman itu bisa dibungkus slogan atau kampanye Stop Global Warming. Tidak perlu menyoal paradoks green computing dengan ekploitasi energi dan sampah elektronik dari gadget.  Apakah program ini efektif? Jangan-jangan ini sekedar bergaya di dunia maya. Terperdaya muslihat pasar penyedia produk dan jasa di sektor telematika.

Tidak mudah membagikan ribuan hape dan ratusan notebook. Bukan hanya penyerahan fisiknya saja, namun harus ada sosialisasi atau user education yang intensif juga. Bukan sebatas bagaimana menggunakan hape dan notebook tersebut- yang pasti mahasiswa tidak perlu diajari lagi- namun, bagaimana aplikasi khusus yang sudah ditanam pada hape dan notebook tersebut bisa dipahami oleh mahasiswa. Ternyata, tidak semudah itu untuk menerapkan e-education yang digunakan untuk proses belajar-mengajar di perguruan tinggi. Banyak kendala dan resiko yang perlu dipertimbangkan. Godaan dunia maya bisa menjadi penjara atau malah sorga dunia. Klik sana, klik sini. Posting di sana, posting di sini. Bebas dan merdeka tapi kadang merasa sendiri dan sunyi di tengah keramaian. Semua tumplek di sana. Pahit dan manisnya, kecut dan lezatnya seolah kopi dan pasta. Bisa dicicipi sedikit, menjadi candu, atau justru anti. Itu adalah pilihan. Dan pilihan itu harus dideskripsikan, disosialisasikan, dan diinternalisasikan. Selanjutnya, semua terserah mereka. Toh, genggaman dan jari-jari itu dikendalikan dirinya. Program user education inilah yang mulai digalakkan oleh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta.

Ada Kepalsuan

 

13096883931416721967Salah satu isu besar dala  dunia maya adalah kepercayaan. Salah satu wujudnya adalah masalah otentifikasi. Tidak semua orang mau begitu terang benderang di dunia maya, termasuk pengungkapan identitas aslinya. Kadang kita juga menebak-nebak apakah gaya dan substansi kontennya bisa dijadikan pijakan untuk menduga-duga profil si pembuatnya. Tidak sedikit juga orang bersembunyi dibalik anonim atau nama alias di dunia maya. Dengan begitu, mereka bisa bebas lepas menuangkan ide atau informasi. Seolah identitas atau profesi yang sebenarnya menjadi penghalang untuk kebebasan. Dunia maya menjadi tempat persembunyian jati diri, namun tetap bisa berpetualang dan bersuara lantang lewat eksistensinya di dunia maya.

Mungkin setiap orang mempunyai wujud elektroniknya, namun apakah itu kloningan atau copy-paste dari fisik ragawinya? Entahlah. Namun di kampusku, penyedia dan penulis konten harus terverifikasi sebagai mahasiswa. Bukan hanya sekedar wujud akuntabilitas publik atau implementasi kebijakan open-content untuk penyebaran konten kepada masyaralat saja, tapi perlu kejelasan siapa yang perlu diberi insentif atau apresiasi terhadap aktivitasnya di dunia maya. Apresiasi berupa nilai atau kelulusan mata kuliah yang memanfaatkan student journalism perlu kejelasan identitas mahasiswa.

Menutup Jurang

 

Tidak semua orang mempunyai kemampuan dan hak akses yang sama dalam pemanfaatan konten digital. Ada disparitas kemampuan, ada jurang koneksi dan akses informasi, dan ada kesenjangan kesempatan bergaya di dunia maya. Itu bisa antar kelompok, antar wilayah, antar jender, atau antar kelompok kepentingan, bahkan antar orang kaya dan miskin. Seolah, dunia maya hanya untuk orang kaya. Kita sering menyebutnya dengan digital divide. Ketika sebagian orang atau wilayah tidak bisa hadir di dunia maya, dunia seolah tidak hadir di sana. Mereka seolah terisolir dari keterbukaan. Mereka seolah tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai berita dan perkembangan terkini seolah barang mahal yang tidak terjangkau. Terlepas mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak menganggapnya masalah, para penikmat dunia maya bisa saja mengatakan mereka tertinggal. Seperti terpuruk di dunia digital.

1309710996799971359Kesenjangan digital menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemerataan distribusi konten digital, termasuk konten pembelajaran di universitas. Jika kesenjangan digital masih hadir di universitas maya atau kelas maya, maka ada perbedaan peluang untuk berhasil. Tidak ada azas pemerataan karena perbedaan akses dan konektivitas, serta tingkat melek komputer atau internet yang berbeda-beda.  Jika kendala itu tidak ditangani dengan baik, maka ada tuntutan keadilan, ada komplain dan ketidakpuasaan, atau ada kegagalan pembelajaran. Jadi pastikan infrastruktur pendukung bisa mengurangi perbedaan itu. Yakinkan bahwa navigasi, tata letak, atau fitur layanan bisa mudah diakses dan dibaca oleh semuanya, setidaknya mayoritas. Namun, kaum minoritas harus tetap dilayani dan diperhatikan, khususnya untuk mengurangi disparitas kemampuan dan kemauan dalam memanfaatkan dunia maya.

Banjir Menyapu Rak Buku

 

13096884781013450000 Ledakan atau banjir informasi menjadi pertanyaan besar di masa depan. Seberapa kuat dan besarnya sebuah gudang penyimpanan konten elektronik bisa tetap menyimpannya dengan rapi dan awet, perlu dipertimbangkan matang oleh perguruan tinggi. Itu terjadi di dunia maya yang tanpa batas. Semua konten tersimpan dalam bentuk bit, yang pada dasarnya hanyalah rangkaian angka 0 dan 1, yang dapat memunculkan kombinasi yang bermakna membentuk informasi. Informasi menjadi barang digital yang diproduksi, didistribusikan, bahkan diperjual-belikan di dunia maya. Barang digital tersebut menjadi barang ekonomi, yang juga ditawarkan di perguruan tinggi.

Dalam konteks terbatas-yaitu dunia pendidikan di dunia maya- puluhan ribu postingan dari mahasiswa bisa terpapar di internet. Ribuan modul virtual-class atau e-learning mungkin tersaji di papan digital. Ketika mengaksesnya, kita seolah tersesat di hutan belantara informasi. Analoginya, banyak buah di pohon yang begitu menggoda, namun ternyata berasa pahit, bahkan seperti racun. Kita pun bisa salah menduga ketika ternyata ada mutiara yang seperti terendam di comberan. Suatu waktu, kita pun tertarik dengan kerumunan dan keramaian di sebuah tulisan. Berebut melontarkan pujian dan sapaan. Semua merasa sudah memperoleh pembelajaran di sana. Atau, bisa juga sunyi sendiri menikmati tulisan lain. Memberikan komentar jujur, atau sekedar memberikan hiburan dan dorongan semangat untuk tetap menulis. Semua punya motif dan inisiatif yang berbeda-beda. Ada yang rajin menulis, ada yang hanya membaca. Ada yang berperan sebagai uploader, namun tidak sedikit yang tergolong downloader society. Muara akhir dari banjir informasi tersebut adalah sepi dan kosongnya rak buku di perguruan tinggi. Ini menjadi tantangan terbesar bagi dosen dan mahasiswa agar serbuan konten digital sejatinya tidak menggantikan 100% fungsi pendidik dan pembelajar

Reproduksi  Usang

 

Barang digital memang awet, bahkan biaya reproduksinya pun murah. Orang ekonomi pun mengatakan bahwa biaya marginal barang digital mendekati nol- sebuah pertimbangan ekonomi yang logis dan ekonomis bagi para pembajak atau para plagiat. Para produsen barang digital yang telah mengeluarkan biaya riset dan pengembangan pun mencak-mencak karena begitu mudahnya barang digital di-copy paste atau digandakan, termasuk yang sudah berpikir keras membuat tulisan. Dalam konteks konten pembelajaran pun sama saja. Biaya membuat materi pembeljaran online tergolong tinggi. Tidak dalam arti finansial, namun dilihat dari usaha dan kerja keras yang harus dikelurkan untuk membuat sebuah konten. Minimal sebagai hasil olah pikir atau renungan yang memeras otak.  Jadi tidak setiap saat pencipta konten bisa memproduksi konten baru. Jika jeda produksinya relatif lama maka konten pembelajaran pun bisa tidak berkelanjutan. Tidak ada upaya merespon komentar, atau menjawab pertanyaan dari khalayak.

1309695964118733061Konteks reproduksi tidak hanya diartikan sebagai kopi dan pasta yang cederung fisik tulisan, namun bisa juga diartikan reproduksi ide dan gagasan yang disampaikan turun temurun. Ilmu pengetahuan yang mengalir membentuk road map yang mematri para penemu dan pakar sepanjang aliran itu. Begitulah repoduksi pengetahuan dan wawasan dari guru ke murid, atau dari dosen ke mahasiswa, itupun kalau pengajaran bersifat searah, atau tidak mengakui bahwa guru dan dosen pun bisa sama-sama belajar bersama siswa dan mahasiswa. Aliran produksi atau reporduksi itu bisa terganjal dengan distorsi, atau penyelewenangan makna yang sesungguhnya dari produsen tulisan. Makanya, bias di kelas itu biasa. Aspek produksi dan reproduksi tersebut bisa semakin lancar, bahkan mengalir deras di dunia maya. Pembelajar pun dijejali dengan produk-produk pengetahuan bak menu makanan yang siap disantap, namun tergantung selera dan tingkat kelaparan mahasiswanya. Jika proses produksi atau reproduksi itu berhenti, maka kampus maya akan sepi dan ditinggalkan. Kampus maya pun akhirnya mati suri. Menjelang ajal.

Konflik dan Ancaman

 

Keindahan ada di dunia maya. Kebermanfaatan pun tidak bisa dipungkiri telah hadir. Namun, sampah-sampah elektronik berupa tulisan pun bisa berserakan di sana. Berguna atau tidak bergunanya konten, masih bisa diperdebatkan. Namun kenyataannya, konten bisa dikerubuti, sepi pengunjung, bahkan menjadi sarana adu mulut yang tertuliskan. Pro dan kontra. Suka dan tidak suka terhadap konten menjadi bahan perdebatan, bahkan konflik yang bermuara di pengadilan di dunia nyata. Konten itu benar, konten itu salah. Konten ini baik, konten itu buruk. Terlepas dari debat benar dan salah, diskusi baik dan buruk, konten di dunia maya menjadi kajian etika dan estetika. Bahkan sudah menjadi obyek dan kajian peraturan dan perundangan. Dengan masuknya aspek hukum tersebut, sebuah konten atau transaksi digital sudah menjadi obyek hukum yang bisa dinyatakan benar atau salah.

13097110431504331527Konflik dan perseteruan pun bisa terjadi demi mempertahankan benar atau salahnya ide, gagasan, pendapat, atau hasil pemikiran atau produk mental dari para penulis dan pembacanya. Saling menyerang bisa terjadi, yang tadinya hanya perdebatan biasa saja. Upaya penggalangan kubu pro dan kontra pun bisa terjadi. Dan akhirnya, pengadilan harus memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketika kebenaran dipertanyakan, maka perguruan tinggi termasuk garda terdepan yang diharapkan oleh masyarakat. Atas nama kebebasan akademik dan otonomi keilmuan, kampus pun- seharusnya- menjadi sebuah produsen informasi atau konten yang dapat dipertanggungjawabkan. Aspek etika, estetika, dan legalitas konten di dunia maya harus menjadi harga mati yang harus dipertahankan mati-matian oleh perguruan tinggi yang mencoba menawarkan Virtual University. Jika tidak, kampus pun bak menara gading yang terbuat dari benteng pasir yang dibuat anak-anak di tepi pantai. Begitu air pasang atau ombak datang, benteng pasir itu pun hancur tak berbekas.

Asyik Sendiri

 

13096885161941266392Sering ada ledekan kepada penyuka gadget. Mereka sering disebut-maaf, seperti orang “gila”. Mereka seperti asyik dengan diri sendiri dengan bermodalkan HP atau Notebook. Waktu pun tersita untuk menggauli gadget yang seperti tidak bisa lepas dari tangan.  Dunia maya seolah mempunyai magnet yang bisa menyedot orang untuk terpenjara di dalamnya. Banyak tragedi atau kasus tentang dampak negatif dari dunia digital. Kehidupan sosial yang sesungguhnya seperti terisolasi. Dunia nyata dan dunia maya bisa saja tidak linear, bahkan seperti dua dunia yang berbeda. Memang tidak semuanya begitu, tapi selalu ada kasu pengecualian.

Silaturahmi Semu

 

Mungkin hanya orang ajaib dan luar biasa yang bisa manteng 24 jam di dunia maya. Tapi orang ajaib tersebut semakin bermunculan di tengah maraknya kemajuan teknologi. Orang lebih banyak berdialog lewat pesan-pesan offline yang membanjiri dashboard layanan internet. Sapa dan gurauan pun hanya terbaca pada dialog tertulis. Namun dengan gadget yang semakin canggih, setiap langkah kita bisa memonitor lawan bicara di dunia, bahkan debat dengan musuh pemikiran pun bisa terus dipantau dalam genggaman tangan. Namun, ketika semua orang menyapa serentak dalam waktu yang sama, walaupun secara fisik entah ada dimana, begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk itu. Pilihan mode synchronous bisa menjadi jerat atau belenggu yang bisa melupakan eksistensi kita di dunia maya. Itulah tantangan lain yang harus dihadapi oleh pendidik yang memanfaatkan dunia internet dalam proses pembelajaran. Harus hadir terus, atau sesekali saja berkunjung untuk melihat aktivitas mahasiswanya di dunia maya. Jadi, pilihan mode synchronous atau asynchronous dalam model e-learning pun harus dipertimbangkan dengan tepat dan bijak.

Berguru atau Diburu

 

1309688764389087905Banyak perdebatan dan teori yang berseberangan tentang bagaimana sebaiknya manusia belajar. Otodidak pun menjadi salah satu kiblat dalam belajar yang seolah tergantung atau semaunya sendiri untuk belajar. Namun tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kemauan yang sama untuk sekedar belajar sendiri. Di sisi lain, konten yang bertebaran bak air bah di dunia maya, tidak otomatis bisa dicerna oleh semua orang. Seolah ada sekat atau segmen yang berbeda-beda untuk setiap konten. Sangat sulit membuat sebuah konten yang bisa dinikmati segala umur, semua profesi, segenap kelompok, dan seluruh pembaca tanpa melihat perbedaan di antara mereka. Untuk maksud pembelajaran yang diharapkan dapat ditangkap oleh pembaca, setiap tulisan mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menimbulkan kesan kuat yang akhirnya menempel menjadi sebuah pengetahuan. Proses penempelan informasi dari luar ke dalam otak manusia memang rumit. Konten di dunia maya belum tentu sama dan sebangun dalam otak pembaca dengan pemikiran dari pembuat konten. Aspek pedagogi pun tetap harus dipertimbangkan dalam perancangan dan implementasi Virtual University.

Jika berguru ilmu dan wawasan di kampus maya ternyata gagal, maka pendidik dan pembelajar hanyalah korban dan sasaran dari gaya hidup dan trend teknologi. Semuanya hanyalah konsumen dunia maya yang tidak bisa dimaknainya sebagai sebuah media yang masih memungkinkan untuk dijadikan media pembelajaran. Niat berguru pun berbalik arah menjadi diburu produk digital dengan segala perangkat canggih yang begitu mudah untuk digenggam, disentuh dan dipijit dengan ujung-ujung jari. Dan itu saat ini sedang terjadi di negeri kita ini.

*****

Kenikmatan yang ditawarkan dunia maya bisa berujung pada ketergantungan terhadapnya. Seolah kerinduan tidak bisa disingkirkan ketika untuk sesaat kita terpisah dari dunia internet. Dunia maya yang begitu mudahnya diakses dari gadget model jadul sampai gaul, menjadi penggoda luar biasa di jaman modern ini. Seorang yang terisolir secara fisik, atau secara psikologis merasa terpinggirkan, dapat ditemani oleh dunia maya yang begitu setia menawarkan segala bentuk hiburan dan pertemanan. Semoga Virtual University tidak menjadi perangkap baru ketika dunia maya bersinergi dengan dunia pendidikan.

Seolah ada tapi tiada. Seolah mendekat tapi tak bisa didekap.  Mungkinkah Virtual University terwujud nyata dan bermakna di Indonesia ?

—-

Keterangan:

Gambar-Gambar ilustrasi diambil dari file presentasi Dr Jamil Salmi pada Seminar “Tertiary Education” in the 21st Century: Opportunities and Challenges” pada tanggal 8 Juni 2011 di Kementrian Pendidikan Nasional.

Popularity: 7% [?]

Leave a Reply