Menjadi penulis membuat setiap kita secara tak langsung menjadi pengamat kehidupan. Pemerhati lebih tepatnya. Terhadap hal apapun yang terjadi disekitar kita. Menulis membuat orang menjadi lebih peka dan peduli akan sesuatu. Kejadian dan peristiwa apapun terekam dengan baik dalam memori. Dengan menulis pula kita terlatih untuk pandai menangkap momen, mengolah kata, mengolah rasa dan mengolah makna.
Kejadian biasa bukan tak mungkin bisa menjadi sangat luar biasa ketika dituangkan begitu apik dalam sebuah tulisan. Kesedihan bisa digambarkan dengan begitu dramatis, hingga siapapun yang membacanya bisa ikut terharu, seolah mengalami sendiri. Begitu pula saat ada kelucuan, boleh jadi tulisan yang dibuat bisa jauh lebih lucu dari kejadian yang sesungguhnya, hingga mampu membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal. Demikian dahsyatnya daya pikat sebuah tulisan.
Sayapun awalnya tak terlalu menyadari hal ini. Sampai suatu saat, sambil bercanda teman-teman meledek saya, saat kami bertemu dalam sebuah kesempatan. Ketika teman-teman saya asyik saling bercerita, saat itu saya hanya diam mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan tersenyum. Tentu saja saya sibuk menyimak pengalaman seru yang mereka ceritakan. Tiba-tiba tanpa saya duga seorang teman saya nyeletuk. Eh…hati-hati lho, nanti ada yang nulis cerita kita, jangan-jangan nanti dibikin buku lagi…sambil ngelirik saya yang sejak tadi diam saja. Heee…tiba-tiba saya jadi tertuduh diantara mereka. Seolah mereka dapat membaca pikiran saya. Sayapun menanggapi, ehhh….kok pada tau siii??? Ya iyalah…sahut mereka kompak… lo kan sekarang ga bisa denger cerita, dikit-dikit ditulis, ga beda deh ma intel…hahaha… Berderai tawa kami bersama.
Sesungguhnya tak ada yang salah dengan candaan mereka. Benar adanya. Rajin menulis membuat semua hal di sekeliling kita adalah sumber inspirasi. Kalau orang lain bisa melewatkan momen begitu saja. Tentu tidak begitu bagi kita yang terbiasa menulis. Benar pula kata teman saya, seperti kerja seorang intel, telinga dan mata kita siaga melihat dan mendengar apapun informasi berharga.
Inspirasi dan bahan tulisan sesungguhnya terserak dimanapun. Hanya butuh kepekaan kita untuk menggalinya. Dengan menulis kepedulian kita akan sesuatu hal lebih terasah. Ketidakadilan. Penindasan. Kezhaliman. Kemiskinan. Kebahagiaan. Kesedihan. Tak terkecuali perasaan hati. Semua bisa diterjemahkan dalam uraian kata-kata.
Inilah hal positif yang bisa kita dapat dari menulis. Tumbuhnya kepedulian. Jiwa bisa menjadi sangat lembut, Sensor hati menjadi sangat sensitif, karena kepekaannya terasah dengan baik. Tidak dingin. Tidak apatis. Sesungguhnya dengan menuliskan suatu peristiwa, apalagi bila itu tentang ketidakadilan ataupun sesuatu yang menginspirasi banyak orang, ini sudah merupakan sumbangsih. Kita sudah bergerak dan berbuat melalui kata dalam tulisan. Menyuarakan sesuatu. Tentu ini lebih baik dibanding hanya berdiam diri. Meski mungkin masih sebatas sumbangsih kecil. Tapi siapa yang tahu bila langkah kecil ini suatu saat bisa sampai pada cita-cita besar.
Apalagi bila disuarakan di media sosial semacam kompasiana. Bukan tak mungkin suara kecil kita terdengar. Gaungnya sampai kemana-mana. Tentu outputnya adalah tercipta perubahan. Yang bisa menjadi solusi dari permasalahan. Dan rasanya itu bukan lagi mimpi. Sudah banyak contohnya disini.
Karenanya tetaplah menulis. Suarakan apa yang tak pas dengan nurani kita. Dan tunggulah outputnya…
Keep writing kawan…
Sumber : KOMPASIANA
Popularity: 6% [?]



